2. Cimit

1205 Words
Bruk! Suara tubuh Nandira yang baru saja mendarat di kasur. Glen hendak mengambil posisi sebelum akhirnya Nandira menahan kedua bahunya sambil berteriak. "Stop!! Tunggu dulu!! Bentar! Cimit," ucap Nandira panik sambil menunjukkan jari kelingkingnya. Mendengar kata cimit, membuat Glen tergelitik untuk tertawa. "Dikira main petak umpet apa? Cimit-cimit," ucapnya sambil menyingkirkan tangan Nandira ke samping kepala. "Ih! Serius, cimit bentar! Tahan," ucap gadis itu sambil mengontrol napas dan menarik tangannya dari genggaman Glen. "Sebentar," ucapnya sambil menenangkan dirinya dan suaminya itu. Glen tidak bisa untuk tidak terkekeh melihat ekspresi lucu itu. Nandira menuntunnya untuk menarik napas dalam lalu mengembusnya, terus seperti itu berkali-kali. Mereka saling memandangi mata masing-masing. "Heh, buat aja belum udah mau lahiran, ngapain sih kamu," ucap Glen gemas sambil menyingkirkan tangan Nandira lagi dari pundaknya. "Iih, Glen! Jangan dipegangin," rengeknya sambil menarik lagi tangannya dari genggaman Glen. "Reseh nanti kalo gak dipegangin," kata Glen. "Nggak, janji," ucap Nandira sambil mengangkat jari kelingkingnya lagi. Glen menatapnya penuh selidik, juga dengan senyum nakal. "Yaudah kalo gitu ayuk," ajaknya. Nandira sudah siap mengambil ancang-ancang. Gadis itu sedang mengumpulkan kekuatan dan kecepatan. Dalam hitungan ketiga, Nandira berteriak dan mengambil celah untuk lari. "Nggak!" teriaknya lalu menghilang dari kasur. Glen yang sedang tidak siap gagal menghentikan gadis itu. Nandira berhasil lari darinya. "Kinan!" panggil Glen sambil bergerak cepat menghalangi pintu. Alhasil, mereka jadi kejar-kejaran di dalam sana. Glen yang sudah gemas tidak bisa berhenti untuk menangkap gadis itu. Nandira pun bergerak lincah ke sana ke mari, mencoba menghindar dari suaminya. Gadis itu berlari dan berdiri di atas kasur, lalu melemparkan bantal guling pada Glen. Pria itu tidak bisa berhenti tertawa melihat kelakuan istrinya. Glen menghalangi wajahnya dari hantaman bantal dan guling yang mengarah padanya. "Kinan! Sayang, apaan sih, heh!" ucapnya gemas. "Iiih! Gak mau! Malu! Glen, pergi gak," ucapnya sedikit mengancam sebab panik menyerangnya. Glen tidak bisa berhenti menertawakannya. Melihat wajah panik dan lucu itu membuatnya ingin tertawa terbahak-bahak. "Nggak, Sayang, dengerin aku dulu," ucap Glen sambil menangkap bantal yang terakhir. Perutnya sungguh merasa tergelitik sekarang. Nandira tidak bisa percaya begitu saja dengan suaminya. Pria itu bisa menggotongnya kapan saja. Glen yang terus maju membuat Nandira manjat ke atas lemari. Beruntungnya lemari jati itu kuat menahan tubuhnya, yang beratnya sekitar lima puluh kilo. "Eh, eh, turun gak, jatuh nanti," ucap Glen yang ikutan panik. Dia tidak menyangka kalau gadis itu nekat naik ke atas lemari. "Kinaaan," panggilnya baik-baik, membujuk istrinya untuk turun. "Berenti di situ, atau aku lompat," ancam Nandira dengan wajah gemasnya. "Eh jangan-jangan! Jangan lompat, nanti lantai apartemen ini roboh," gurau Glen. "Kamu jahat banget, sih! Ih! Aku gak berat!" "Yaudah iya gak berat, turun makanya." "Gak mau, nanti kamu anuin." "Nggak Sayang, udah ayo turun. Ululululu anak cantik, sini papa gendong," ucap Glen sambil mengulurkan tangannya dari depan lemari. "Aku bukan anak kamu," ucap Nandira. Glen tertawa geli akibat ulahnya sendiri. Perutnya sudah lelah untuk tertawa. Mulutnya pun sudah terasa keram sebab cekikikkan dari tadi. "Udah dong Kinan Sayang, ayo turun," keluhnya serius. "Aku lempar bantal nih kalo gak mau turun," ancam Glen sambil mengambil bantal yang berceceran di lantai. "Lempar aja," ucap Nandira. Glen menatapnya gemas, lalu berjalan mendekat ke lemari itu. Dia sudah hendak menurunkan sendiri gadis itu dari atas sana. "Turun gak!" ucap Glen. "Iya, iya, aku turun sendiri," racau Nandira sebab Glen sudah meraih tubuhnya. "Sekarang!" titahnya. "Lepasin dulu makanya nanti aku turun," ucap Nandira yang berpegangan pada tralis jendela. "Gak! Turun! Cepetan!" perintahnya. "Yaudah jangan marah-marah," ucap Nandira dengan raut sendu. "Yaudah makanya turun Sayangku, Cintaku, Masyaallah...," ucap Glen yang sudah sangat gemas. Nandira sudah hendak melepas pegangannya dari tralis. Lalu gadis itu menyambut Glen yang sudah siap menggendongnya. Bersamaan dengan turunnya Nandira dari atas sana, terdengar suara bel dari pintu apartemen mereka. "Tuh kan ada tamu, kamu sih," kata Glen sebal. "Hehe," cengir Nandira. "Ulululu kasian anak mama," ucap Nandira sambil mencubit kedua pipi Glen. Mereka impas kali ini. "Aku bukan anak kamu," balas Glen sama persis dengan jawaban gadis itu tadi. Gantian Nandira yang cekikikkan, melihat Glen cemberut sebal. Ekspresi lucu Nandira tadi kini pindah ke Glen. Dia menarik rambut gadis itu gemas. "Cium," pinta Glen meski wajah sebalnya belum hilang. Nandira yang merasa bersalah dengan hal tadi mengindahkan permintaan suaminya. Gadis itu mencium bibir Glen singkat. "Lagi," ucap Glen. Satu lagi kecupan mendarat di sana. Namun kali ini sedikit lebih lama, sebab Glen menahan kepala gadis itu. Perlahan tautan antara mereka semakin dalam. Keempat mata itu terpejam dan tenggelam dalam kenyamanan. Sampai akhirnya suara bel mengingatkan kalau dari tadi mereka kedatangan tamu. Namun dua pasangan itu belum mengindahkan bel dari tamunya. Mereka masih bergelayut dalam kenyamanan dan kenikmatan ibadah suami istri. Hingga semakin lama bel itu semakin tidak sabaran untuk dibukakan pintu. Suaranya terdengar brutal layaknya rentenir yang hendak menagih hutang. Tamu itu pasti menekan belnya dengan sangat cepat, sebab sudah kelamaan menunggu. Glen menghentikan gerakan bibirnya. Hampir saja pria itu berkata kasar sebab tamu yang tidak sabaran itu. "Nanti lagi. Kayaknya tamu itu lebih gak sabaran dari aku," ucap Glen, lalu berjalan menuju pintu keluar. Nandira tertawa sambil menutup mulutnya. Dia juga tidak habis pikir siapa kira-kira tamu itu. Sebelum keluar untuk menyusul Glen menyambut tamu, Nandira memutuskan untuk mengemas dulu kamarnya yang sangat kacau balau sebab kejar-kejaran tadi. Glen membuka pintu apartemennya, lalu sosok tamu menyebalkan itu muncul, siapa lagi kalau bukan Hugo dan calon istrinya, Hana. Mereka berdua langsung berteriak saat Glen membuka pintu. "Widiih! Pengantin baru, nerima tamu aja lama banget! Sampe lumutan gue," ucap Hugo yang sudah lelah menunggu dari tadi. Sedangkan Hana hanya tertawa di sebelahnya. "Yaelah! Si Damang! Ganggu aje lu, masuk," jawab Glen lalu menyuruh mereka masuk. "Widih ganggu kita, Beb, jangan-jangan lagi ... " Glen langsung menarik anak itu masuk sebelum dia menyelesaikan ucapannya. Tanpa dia bicara lagi pun Glen sudah tahu apa yang mereka pikirkan. Kejadian sebenarnya pun hampir sama seperti itu. "Yee! Lo orang berdua tuh kapan halalnya, berduaan mulu kagak halal-halal," cibir Glen. "Wiss jangan salah, Bro. Nih, gue kasih undangan." Belum sempat mereka basa-basi lebih lama, Hugo langsung mengeluarkan undangan pernikahannya dan menaruhnya di atas meja. Glen yang baru mendaratkan b****g di kursi terkejut bukan main. "Widih mantap! Kapan ini?" tanya Glen sambil membuka undangannya. "Minggu depan," jawab Hugo. "Baguslah kalo gitu, semoga lancar sampe hari H. Kurang-kurangin dulu tuh berduaannya," ucap Glen dengan nada bersahabat. "Siap Pak Ustadz," cibir Hugo. "Itu Nandira di kamar, Na. Samperin ke sana aja gak papa," ucap Glen pada Hana. "Aku ke tempat Nandira kalo gitu," ucap Hana pada Hugo. Pria itu mengangguk. Sedangkan di kamar. Nandira baru hendak mengambil bantal-bantal yang berceceran. Hana sudah masuk dan melihat ruangan yang berantakan itu. "Nan?" panggilnya. Lalu Hana melongo saat melihat kondisi kamar itu. "Eh, Hana. Kamu ternyata tamunya, sini masuk," ucap Nandira. Hana masih menyapukan pandangannya ke penjuru kamar. Pikirannya tentang sesuatu saat menunggu di depan pintu tadi seolah meyakinkannya sekarang. "Ee, ini tadi abis main kejar-kejaran," ucap Nandira jujur dengan deretan giginya. "Aaah, nggak usah malu-malu gitu lah, aku tau kok," ucap Hana. Nandira cuma bisa nyengir mendengarnya. Dia merutuki dirinya yang tadi melempari Glen dengan bantal. Sekarang hasil perbuatannya itu malah membuat orang yang melihatnya langsung berpikiran ke arah sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD