Setelah bertahun-tahun hidup sebatang kara di sebuah panti asuhan kumuh yang berlokasi di pinggir kota St Petersburg, kini Viktor dihadapkan dengan sebuah kenyataan yang dirinya sendiri tidak tahu harus bersikap bagaimana. Kedua indra pendengarannya tidak menangkap suara Morzevich yang memanggilnya. Ia larut dalam dalam kesedihan mendalam ketika mengingat kejadian malam naas itu. "Aaarrgghh!" Viktor berteriak sejadi-jadinya. Rahangnya mengeras hingga membuat wajahnya memerah karena menahan amarah yang selama ini terpendam. Semua orang bahkan melihat Viktor mengepalkan kedua tangannya hingga urat-urat di punggung tangannya terlihat. "s**t!" Viktor memaki seorang diri. Ia menundukkan wajahnya melihat pagar besi yang mengelilingi makam kedua orang tuanya. "Demi Tuhan! Saya akan membal

