Angin musim panas masuk ke ruang makan keluarga Konstantin melalui jendela yang terbuka lebar. Cahaya hangat matahari pagi menyapa kulit Viktor yang seputih salju sama seperti kulit Xandrova yang cantik dan terawat.
Pasangan suami istri ini tinggal satu atap di mansion mewah keluarga Konstantin. Mansion dengan desain klasik yang menampilkan sisi dekoratif dari masa lampau.
Dan sekali lagi, Xandrova berkata meyakinkan suaminya. Namun, terlihat jelas dari tatapannya bahwa Viktor tidak bisa mempercayai Xandrova begitu saja.
"Langsung saja, Viktor, dan jangan berbelit-belit seperti ini!"
Davidoff berseru kepada menantunya yang tidak pernah dianggap.
"Maaf jika kalian semua menunggu keputusan saya begitu lama. Karena jujur saja ... ini sangat sukar bagi saya."
Jika aku salah mengambil keputusan, dipastikan Papa dan Mama akan menyalahkan ku atas apa yang terjadi dengan anak mereka, bukan?
Viktor berpikir keras tentang hal ini. Viktor sangat yakin dengan dugaannya barusan.
"Karena saya tidak ingin Anda dan Mama Galana menyalahkan saya atas apa yang akan terjadi pada Zoya di masa depan, Pa."
Viktor tahu bahwa dirinya telah menyinggung hati Davidoff, tetapi apa boleh buat? Ia harus bicara berterus terang di hadapan seluruh anggota keluarga Konstantin.
"Benar, Viktor. Kakek setuju denganmu. Kakek mohon padamu untuk mempertimbangkannya baik-baik!"
Viktor mengangguk ketika mendengar nasehat Gennadius. Ia menatap wajah tuan besar keluarga Konstantin yang keriput termakan usia.
"Saya sudah memutuskan untuk ... membiarkan Zoya melanjutkan studinya."
Brak!
"Apakah kau sudah gila, Viktor?"
Davidoff menggebrak meja makan sebagai reaksi atas keputusan Viktor. Davidoff berdiri sambil menunjuk Viktor dan Xandrova bergantian. Tindakannya sontak mendapatkan sorot mata tajam dari Gennadius.
"David!"
Gennadius berteriak memanggil nama anak satu-satunya.
"Duduk dan mari selesaikan dengan kepala dingin!"
Gennadius menginginkan Davidoff mengikuti perintahnya. Namun, Davidoff justru membuka matanya sempurna, lalu mengarahkannya kepada Viktor.
"Pa, Zoya adalah anak perempuan saya satu-satunya dan dia telah menikah dengan pria bodoh seperti Viktor. Lalu, bagaimana jika nanti terjadi sesuatu pada Zoya? Siapa yang akan bertanggung jawab?"
Davidoff tidak berhenti merendahkan Viktor di depan semua orang.
"Pa, berhentilah menyudutkan Viktor! Dia adalah Suami saya juga Menantu Papa yang sangat saya cintai. Jadi, apakah Papa tidak akan mendukung saya?"
Xandrova berdiri dan berteriak di depan wajah Davidoff.
"Lihatlah!"
Davidoff menunjuk Xandrova dengan kedua tangannya. Ia tertawa. Ya, lebih tepatnya menertawakan suami dari anak perempuannya.
"Kau benar-benar berubah menjadi anak pembangkang, Zoya!"
"Benar."
Galana membenarkan ucapan Davidoff. Kali ini wanita 50 tahun tersebut ikut berdiri dan menatap Viktor juga Xandrova.
"Saya yang melahirmu, Zoya, dan dengan kedua tangan ini kau dibesarkan. Lalu, mengapa kau lebih memilih mendengarkan pria miskin ini?! Di mana hati nuranimu?!"
Galana menunjukkan kedua tangannya kepada Xandrova. Ia berusaha menahan kesedihan yang tentu saja hanyalah sebagian dari aktingnya di hadapan semua orang.
"MaーMama, saya hanya ...."
Xandrova hendak berjalan memutari meja makan guna menghampiri sang mama. Namun, Viktor segera menahan dengan tangan kirinya.
"Tunggu, Zoya!"
"Mengapa kau melarangku untuk menghampiri Mama, Viktor?"
Viktor tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Kau tidak perlu ke sana. Tetaplah bersamaku, Zoya, dan semua akan baik-baik saja!"
Viktor menggenggam tangan Xandrova. Ia menoleh ke arah Galana dan melanjutkan bicaranya.
"Mama Galana tidak hanya melahirkan dan membesarkanmu, Zoya. Namun, Mama dan Papa juga menjadikanmu alat untuk mendapatkan banyak hadiah dari Tuan Maksim. Tidak 'kah kau menyadari hal itu?"
Viktor tidak rela jika istrinya selalu mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari kedua mertuanya.
"Jangan bicara sembarangan, Viktor!"
Davidoff menegur Viktor. Namun, Viktor tidak mengindahkannya.
"Apa maksud perkataan mu, Viktor?"
Gennadius mulai mendeteksi adanya konspirasi yang muncul di tengah-tengah keluarga Konstantin.
"Maaf, Kakek. Untuk lebih jelasnya, Anda bisa menanyakannya langsung kepada Papa David dan Mama Galana ke mana hadiah-hadiah yang dibawa oleh Maksim ketika acara makan malam di hotel?! Karena saya tidak ingin salah bicara."
Viktor mencoba menjelaskan Gennadius dengan sikap yang masih sopan seperti biasanya. Seketika itu juga, Xandrova mengingat beberapa hadiah pemberian Maksim.
"Kakek, itulah mengapa saya memilih untuk melanjutkan studi. Karena saya tidak ingin kehadiran Maksim terus menghantui. Sebagai satu-satunya pewaris keluarga Konstantin, saya ingin berkontribusi dalam bisnis keluarga."
"Cukup, Zoya!"
Davidoff sama sekali tidak tertarik dengan alasan yang diungkapkan oleh Xandrova. Ia memilih untuk membela dirinya juga Galana.
"Saya melakukan semua itu demi kebaikan Zoya."
Kebaikan apa maksud Papa? Kebaikan yang mana? Apakah dengan memperalat anak merupakan suatu kebaikan? Bahkan aku tidak menemukan adanya kebaikan sama sekali yang terlihat dari kacamataku.
Viktor menerka-nerka di dalam hati. Ia menyunggingkan senyum di bibirnya.
"Apakah menurut Papa memperalat seorang anak adalah suatu kebaikan? Saya bahkan tidak menemukan kebaikan apapun."
Gennadius terperangah ketika Viktor mengeluarkan kata memperalat. Benar! Rupanya Gennadius sedang mengingat sesuatu.
"Jangan pikir saya tidak tahu apa yang kau perbuat di luar sana, David!"
Gennadius berseru dengan satu kali tarikan napas. Ia pun menoleh ke arah Viktor dan Xandrova.
"Viktor, bawa pergi Cucu saya dari ruang makan. Urusan David akan menjadi urusan saya."
Viktor mengangguk. Ia menatap Davidoff dan Galana.
"Kami permisi."
Viktor membungkukkan badan diikuti oleh Xandrova.
"Ayo, Zoya!"
Viktor melangkah bersama Xandrova dengan langkah berat. Entah apa yang sedang ia pikirkan karena dahinya tampak berkerut.
"Viktor, apakah kau yakin dengan keputusan mu itu?"
Viktor menghela napasnya.
"Benar, Zoya. Aku tidak ingin kau selalu tertekan karena berada di rumah bersama Mama dan Papa."
Viktor dan Xandrova segera memijakkan kaki mereka di tangga spiral yang berdiri kokoh tepat di dekat ruang keluarga. Mereka berjalan menuju ruang tidur yang terletak di lantai dua.
"Itulah yang kupikirkan, Viktor. Terima kasih telah memberikan kepercayaan kepadaku."
Xandrova menghentikan langkahnya ketika wanita itu dan Viktor baru saja sampai di anak tangga ke empat. Xandrova tersenyum sangat manis.
"Kau jangan senang dulu, Zoya! Ada beberapa syarat yang harus kau setujui. Sebab jika tidak, aku akan mencabut izinku."
Pupil mata Xandrova membesar seiring dengan kalimat yang dilontarkan oleh Video barusan.
"Beberapa syarat?! Aーapa itu, Viktor?! Katakan padaku dan aku akan menyetujuinya."
Xandrova menggoyangkan tangan Viktor dengan antusias tinggi.
"Ayolah, Viktor! Katakan padaku sekarang!"
Viktor tertawa kecil ketika melihat mimik wajah Xandrova. Ia pun membuka mulutnya.
"Kau akan tahu saat kita tiba di kamar. Mari buat kesepakatan!"
Xandrova memang seorang wanita dan istri yang penurut. Itulah yang disukai Viktor sejak dulu. Ia tidak banyak bertanya juga tidak ambil pusing dengan perbedaan usia yang cukup signifikan dengan Viktor.