Driver

1027 Words
"Halo, Tuan Viktor. Perkenalkan, nama saya Andriy Shevchenko. Saya telah berada di depan kamar hotel Anda." Viktor terperangah mendengar penjelasan pria yang baru saja dikenalnya. Ia mendengarkan dengan seksama. "Apakah Anda berkenan membukakan pintu untuk saya, Tuan Viktor?" Viktor berpikir sejenak. Ia akhirnya menguatkan hati untuk menemui si pria asingーentah siapa dia. "Baiklah. Saya akan membukakan pintu." Viktor mengakhiri percakapan dengan orang yang baru dikenalnya. Ia berjalan seraya mengantongi ponsel ke saku celana. "Halo, Tuan Viktor." Seorang pria berusia awal 30-an tahun membungkukkan badannya saat Viktor membuka pintu. "Perkenalkan, saya adalah Andriy Shevchenko. Saya diutus oleh Tuan Gennadius untuk membantu Anda menjalankan bisnis di Konstantin Coーinduk perusahaan Konstantin yang berbasis di Moskow, Rusia." Viktor terperangah. Sepasang netra biru Viktor nyaris terlepas dari rongganya. "Sayang, siapa yang datang?" Xandrova muncul di balik pintu dengan tiba-tiba. "Oh, Andriy? Mengapa Anda di sini? Jika Anda ingin menemui Papa, kamar Beliau di sana dan bukan di sini." Xandrova berbicara tanpa jeda. Ia menunjuk kamar kedua orang tuanya, lalu menatap Andriy dengan mata terbuka sempurna. "Selamat pagi, Nona Zoya." Andriy membungkukkan badan seraya menyapa cucu satu-satunya keluarga Konstantin. "Saya datang ke sini atas perintah Tuan besar untuk membantu Tuan Viktor menjalankan bisnis keluarga Konstantin." Andriy berkata tanpa ekspresi juga tanpa senyum. "Beーbenar 'kah?" Apakah Viktor sudah memberitahu Kakek mengenai keputusannya untuk menerima tawaran Kakek bekerja di perusahaan keluarga? Xandrova bertanya-tanya di dalam hatinya dengan cemas. Aku sangat yakin jika Papa akan murka saat mengetahui kehadiran Viktor di jajaran nama perusahaan Konstantin. Masih di dalam hatinya, Xandrova melanjutkan kalimat. Viktor menatap Xandrova, begitu pula sebaliknya. "Pasti ada kesalahpahaman di sini, Tuan Andriy. Saya akan menghubungi Kakek terlebih dahulu." Viktor meraih ponselnya, lalu mencari kontak Gennadius. Ia tanpa ragu menekan kontak Gennadius berharap sang tuan besar keluarga Konstantin segera menjawab teleponnya. "Silakan, Tuan Viktor. Saya akan menunggu di sini." Xandrova mengikuti Viktor masuk ke kamar. Ia menutup pintu dan membiarkan Andriy tetap berdiri di sana. "Halo, Viktor." Suara berat, tetapi tegas milik Gennadius terdengar jelas di telinga Viktor. Orang tua itu senantiasa memberikan kejutan kepada siapa saja yang ia kehendaki. "Apakah kau ingin berterima kasih kepada saya, Viktor? Apakah Andriy melakukan tugasnya dengan baik? Ha ha ha ...." Gennadius tertawa. Ya, ia selalu tertawa kapan saja. "Kakek, ini pasti ada kesalahpahaman. Saーsaya ... saya bahkan belum menjawab pertanyaan Kakek." "Ha ha ha!" Suara tawa Gennadius semakin keras di saluran telepon hingga Viktor terpaksa menjauhkan smartphone dari daun telinganya. "Viktor dengarkan saya baik-baik! Saya tidak butuh persetujuan darimu karena dalam hal ini bukanlah kegiatan tawar menawar, melainkan suatu keharusan." Viktor mendengar Gennadius dengan sengaja menekan kata terakhir di kalimatnya barusan. Dan tentu saja, membuat Viktor terperangah mendengarnya. "Suatu keharusan?!" Viktor mengulangi perkataan Gennadius. "Benar. Maka dari itu, kau tidak bisa menolaknya. Bersiaplah! Karena kita akan menghadiri seminar bisnis di Lakhta Center." Viktor menghela napas ketika Gennadius memutuskan sambungan telepon. "Bagaimana, Viktor? Apa yang Kakek katakan padamu?" Xandrova cemas melihat raut wajah Viktor. "Kakek memerintahkan aku untuk bersiap mengikuti seminar bisnis di Lakhta Center." Viktor menatap Xandrova sungguh-sungguh. "Kau tahu di mana lokasi Lakhta Center, Viktor?" Viktor menggeleng. Kemudian, ia tersenyum canggung. "Lakhta Center berlokasi di distrik Primorsky. Kau akan menghabiskan waktu 60 menit untuk menuju ke sana." "Bukan masalah, Zoya. Namun, aku tidak memiliki persiapan apapun. Apakah Papa membawa pakaian yang bisa aku pinjam?" Viktor sedikit ragu. Bukan ragu karena seminar tersebut, melainkan tidak ada persiapan apapun yang ia bawa. "Apakah kau tidak melihatnya?" Xandrova sedikit menaikkan alisnya. "Melihat? Melihat apa?" Viktor sedikit kebingungan dengan ucapan Xandrova. "Baiklah. Kau tunggu di sini! Aku akan membawakan pakaian untukmu, Viktor." Xandrova bergegas pergi sebelum Viktor menahannya. "Zoya!" Viktor memanggil nama sang istri, tetapi tampaknya Xandrova tidak mengindahkan. "Tuan Andriy? Jaーjadi, Zoya mengenalnya. Sebenarnya siapa Tuan Andriy? Apakah dia merupakan bagian dari keluarga Konstantin? Namun, baru kali pertama aku melihatnya." Viktor duduk di kursi tepat di sudut ruang tidur. Ia membuka akun sosial media miliknya dan melihat beberapa foto pernikahannya dengan Xandrova. "Aku sungguh bahagia di hari itu. Namun, bagaimana denganmu, Zoya? Kau tidak pernah mengutarakan isi hatimu padaku." Viktor menunggu kedatangan Xandrova. Ia menekan gambar hati pada akun sosial milik Xandrova di mana terlihat foto sang istri hasil jepretannya hari kemarin. "Aku tidak pernah jenuh melihat foto-fotomu, Zoya. Kau selalu fotogenik, Zoya!" Usai Viktor berseru seorang diri, Xandrova datang dengan membawa satu stel pakaian untuk sang suami. "Viktor!" Xandrova berteriak memanggil nama Viktor dengan kedua mata berbinar. "Cepat ganti pakaianmu dan mari sarapan bersama sebelum kau pergi!" Viktor beranjak dari kursi menghampiri Xandrova yang berdiri tidak jauh darinya. "Dari mana kau mendapatkan pakaian ini, Zoya?" Viktor meraih pakaian dari tangan sang istri. Ia tersenyum. "Andriy membawanya untukmu, Viktor. Aku harap kau menyukainya." "Andriy?" Xandrova pun mengangguk. "Ya. Dia akan menjadi asisten mu, Viktor." Viktor terkejut. "Asisten ku?" Apapun itu, aku tidak terbiasa dengan bantuan siapapun! Viktor mengeluhkan sikap Gennadius kepadanya yang terlalu berlebihan di dalam hati. Namun, ia tidak mampu menolak semua permintaannya. ** Usai berpakaian, Viktor dan Xandrova makan bersama. Hening. Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut keduanya. "Hmm, Zoya, bagaimana dengan pertunjukan balet yang akan kita tonton?" Xandrova teringat akan tiket balet yang diberikan Viktor tadi. "Bukankah acara balet itu berlangsung malam ini pukul 7, Viktor?" Viktor mencoba mengingatnya. Namun, ia tidak bisa mengingat apapun karena rasa gugup menghampirinya. "Viktor? Ada apa?" Xandrova menyadari perubahan ekspresi wajah Viktor yang menunjukkan bahwa dirinya sedang tidak fokus. Xandrova berdiri dan memeluk sang suami dari belakang. "Take it easy, Dear! Semua akan berjalan dengan semestinya." Xandrova membisikkan kata-kata penyemangat. Hati Viktor berdesir mendengar ya. "Ah, ya. Terima kasih, Zoya. Hari ini merupakan kali pertama aku menghadiri seminar bisnis dan ya, aku sangat gugup." "Kau pasti bisa, Viktor. Bukan 'kah kau mengerti bisnis?" Aku memang menguasai ilmu bisnis sesuai dengan gelar di belakang namaku, tetapi aku belum pernah bekerja menggunakan gelar ku itu, Zoya. Karena aku selalu kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai hingga akhirnya dengan sangat terpaksa, aku menerima pekerjaan delivery makanan online. Apakah kau tidak tahu akan hal itu? Viktor berkata di dalam hati dengan ragu. Benaknya melayang mengingat masa lalunya yang ia habiskan dengan bekerja sebagai driver salah satu aplikasi online. "Viktor? Is everything ok, Dear?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD