Bab 16

1363 Words
"Jangan, woi! Lo emang tidak mencerminkan jati diri seorang sahabat," kata Iqbal. "Sahabat ya sahabat. Tapi ini soal kejujuran. Pokoknya gue akan bilang ke dia," ucap Gibran. "Kecuali kalau Lo traktir kita kopi," lanjut Gibran. "Sialan! Pemerasan itu namanya. Orang kaya malah minta ditraktir mulu," ucap Iqbal. Ketika itu datanglah seorang wanita yang sudah mereka kenal sebagai sang pemilik rental PS. Pembicaraan mereka pun mendadak berhenti sejenak. "Milih traktir kopi atau gue langsung bilang ke dia?" bisik Gibran ke Iqbal. "Sialan emang Lo. Ya udah, iya, gue traktir," jawab Iqbal. Bodohnya Iqbal, yang tunduk begitu saja oleh ancaman dari Gibran. Tertawalah lelaki tampan yang satu itu sebagai bukti tanda kemenangannya. "Mbak, sekalian pesan kopi tiga gelas," ucap Gibran kemudian. "Iya," jawabnya sambil sibuk menyalakan televisi. "Gue tanyain keberadaan anaknya, ya?" Kali ini Indra berbisik di telinga Iqbal. "Parah Lo. Jangan dulu! Nunggu momen yang tepat," kata Iqbal. "Ya lah. Terserah Lo aja," kata Indra. Seusai itu, wanita pemilik rental PS itupun pergi. Baik Gibran, Indra maupun Iqbal tak ada yang bertanya tentang keberadaan sang anak. "Oke, siapa dulu yang main?" tanya Indra. "Pastinya yang sering kalah dulu aja, lah. Silahkan Lo sama Iqbal yang main duluan," jawab Gibran. "Cih, gak malu bilang kayak gitu," ucap Indra. "Pemenang mana mungkin malu," balas Gibran. "Oke lah. Buktikan saja nanti," tantang Indra. "Oke." Tentang permainan yang satu itu, yang katanya terasa kurang jika tidak diiringi dengan teriakan demi teriakan kata-kata mutiara yang beberapa di antaranya mengatasnamakan nama hewan, kini tiga serangkai itu tengah memainkannya. Lebih tepatnya dua di antara mereka yang memainkannya. Sedangkan yang satunya, yaitu Gibran sedang asyik menyaksikan calon lawan mainnya itu bertanding. "Payah Lo. Harusnya dioper dulu baru tendang. Bisa main gak, sih?" oceh Gibran ke Indra. "Halah, ngomong mulu Lo," balas Indra. "Dasar amatiran," ucap Gibran dan Indra memilih diam. Sekitar satu atau dua menit setelah perdebatan singkat itu berlangsung, datang seorang gadis cantik yang menghampiri mereka dengan membawa tiga gelas minuman yang berisi kopi. Akibat terlalu fokus pada layar televisi, mereka pun tak menyadari kedatangan gadis itu. "Mas, ini kopinya," ucap gadis cantik itu. Dan ketika itulah mereka baru menyadari bahwasanya ada seseorang yang tengah menghampiri mereka. Sialnya, ketiga lelaki itu tak bisa menyembunyikan ketakjuban mereka pada gadis si pengantar kopi. Ekspresi yang terjadi secara refleks itu benar-benar tak bisa membohongi. "Waw, apa ini yang Lo maksud?" tanya Gibran ke Iqbal sambil berbisik. "Iya kayaknya," jawab Iqbal. "Luar biasa. Ya udah buat gue aja," bisik Gibran lagi. "Nyari mati Lo? Kalau masih sayang nyawa, gak usah ngedeketin dia!" balas Iqbal. Gibran hanya membalasnya dengan sebuah tawa kecil tanpa ada unsur ketakutan sedikitpun atas ancaman yang Iqbal berikan. Pikirnya Iqbal tak akan pernah berani menyakitinya. Sekalipun berani, dirinya juga bukanlah lelaki lemah yang tidak bisa membela diri. "Nggak sekolah?" Gibran tiba-tiba bertanya. Pertanyaan itu ia tujukan ke gadis cantik yang kini sedang menaruh tiga gelas kopi ke lantai. Namun apa yang Gibran dapatkan? Ia tidak mendapatkan jawaban apapun dari sang gadis. Anehnya kedua sahabatnya yang terkadang langsung ikut campur, kini malah saling berdiam diri sambil memandangi indahnya makhluk ciptaan Tuhan yang satu itu. Mereka berdua seolah-olah sedang menjaga image di depan sang gadis. "Hei, nggak sekolah, kah?" Gibran kembali bertanya. "Eh, aku?" tanya gadis itu balik sambil menunjuk dirinya sendiri. "Iya dong," jawab Gibran. "Emm, kan Minggu, Mas," jawab sang gadis sambil tersenyum malu. "Iya ya. Maaf, lupa," kata Gibran sambil tertawa pelan. "Hahahaha. Emang Masnya ini udah lulus sekolah?" tanyanya. "Ya belum, sih," jawab Gibran. Gadis itu lagi-lagi tertawa kecil. Ternyata dia adalah gadis yang ramah. Mungkin sifatnya menurun dari sang ibu yang juga ramah. Atau mungkin juga ia dipaksa oleh keadaan agar bisa menjadi gadis yang ramah. "Ngomong-ngomong, jangan panggil gitu, dong. Panggil nama aja," ucap Gibran. "Kan gak tahu namanya," ucap sang gadis. "Ya udah, kenalan," sahut Indra yang langsung menyodorkan tangannya ke depan tangan sang gadis. "Namaku Indra. Kalau kamu?" lanjutnya. Gadis itu diam, tapi memandang Indra dengan tatapan penuh keraguan. Wajar jika ia begitu, secara baik Indra, Gibran maupun Iqbal masihlah orang baru di kehidupannya. Bahkan baru beberapa menit yang lalu ia dan mereka saling pandang dan baru sekarang ini ia tahu nama salah satu dari mereka bertiga. "Oh, maaf." Indra menarik kembali tangannya. "Aku Indra, kamu?" Ia kembali bertanya. "Liya," jawab gadis cantik itu sembari tersenyum malu. "Liya?" tanya Indra. Gadis itu mengangguk. "Nama yang cantik," puji Indra. "Terima kasih," ucap Liya, si gadis cantik anak pemilik rental PS itu. "Sama kayak orangnya," ucap Indra lagi. Gadis itu hanya diam sambil menahan senyum. Kalau Indra, sudah tidak perlu diragukan lagi tentang kehebatan dia dalam menghadapi seorang gadis. Karena pun dia sudah sangat berpengalaman dalam hal itu. Ya meskipun baru sekedar memberikan kata-kata gombalan, tapi tidak dengan melanjutkan hubungan ke yang lebih serius. "Oh ya. Kalau yang ini Gibran, dan yang ini Iqbal. Mereka gak mau kenal sama kamu katanya. Sombong emang mereka tuh," ucap Indra. "Eh." Gibran tersentak mendengar ucapan Indra. "Syut! Sudah, jangan komentar apapun! Ingat Riani!" sahut Indra. "Em, siapa tadi namanya? Ah, Liya, ya? Liya bisa main PS?" tanya Indra kemudian. "Gak bisa, sih. Hehehe," jawab gadis itu. "Lah, gimana ceritanya? Pemilik rental PS malah gak bisa main PS," ucap Indra. "Hehehe." Gadis itu hanya tertawa kecil. "Ya udah. Silahkan dilanjut mainnya. Nanti keburu jam-nya habis," ucap Liya kemudian. Gadis yang sungguh cantik. Bahkan parasnya bisa membuat tiga pasang mata dari para kaum Adam seolah tak mau berkedip hanya demi melihat kecantikannya. Ia benar-benar gadis yang mempesona. Namun kini, ia telah berjalan pergi meninggalkan mereka bertiga. Arah perginya memang ke dalam, tapi beberapa saat kemudian ia kembali lagi dengan arah jalan yang berbeda, yaitu menuju ke luar rumah. Sialnya lagi, dari ketiga lelaki tampan itu, hanya Iqbal yang melihatnya. "Eh, gue mau kencing dulu, ya. Kebelet banget nih," ucap Iqbal. "Lo masih main, woi. Nanti aja kencingnya," ucap Gibran. "Udah. Lo aja yang main dulu. Skornya juga masih seri, tuh," kata Iqbal. Ia berdiri dari duduknya dan segera berlari kecil menuju luar ruangan. Memang sebenarnya ada maksud terselubung dari Iqbal kenapa ia pergi begitu saja meninggalkan permainan. "Sialan tuh bocah. Permainan belum selesai main pergi-pergi aja," oceh Indra. "Udah, gak usah banyak omong Lo! Lihatlah cara gue bantai Lo," ucap Gibran dengan penuh percaya diri. Stik PS itupun kini sudah berada di tangannya. "Heh, coba saja kalau bisa," tantang Indra. Di sisi lain, Iqbal berlari kecil menuju luar bangunan tersebut dan mendapati seseorang yang tak lain dan tidak bukan adalah Liya, sang anak pemilik rental PS, yang kini sedang bersiap di atas motornya. Nampaknya ia ingin pergi ke suatu tempat yang entah di mana. "Hei," sapa iqbal. Iqbal menyapanya dengan gaya sok keren. Tangannya ia masukkan ke dalam saku celana seraya dirinya yang berdiri santai di hadapan Liya. Gadis itupun agak bingung dibuatnya. Ia memandangi Iqbal sebentar dan kemudian menunjuk Iqbal dengan jari telunjuknya. "Mas yang tadi, ya. Yang siapa namanya? Aku lupa," ucap Liya. "Iqbal," jawab Iqbal. "Ah iya, Iqbal," kata gadis itu. Iqbal tersenyum singkat. "Semudah itu ya, melupakan?" tanya Iqbal. "Hehehe, bukan melupakan. Tapi lupa," jawab Liya. Senyum Iqbal selalu dinampakkan. Ya meskipun masih dengan senyuman sewajarnya. Tingkahnya pun tetap santai. Dalam arti tak menunjukkan kegilaannya seperti pada saat ia sedang bersama para sahabatnya. Ia benar-benar sedang menjaga image untuk sekarang. "Kamu cantik," ucap Iqbal pelan. "Ha?" Gadis itu bertanya. Entah dia memang tidak mendengar ucapan Iqbal atau memang ia hanya menunjukkan keterkejutannya akibat perkataan Iqbal saja. "Kamu mau ke mana?" ulang Iqbal, tapi dengan pertanyaan yang berbeda. "Oh. Ini mau ke rumah teman," jawabnya. "Teman cowok?" tanya Iqbal. "Cewek, lah," jawabnya. Dan betapa gembiranya Iqbal ketika mendengar jawaban dari sang gadis. "Naik motor sendirian gitu?" tanya Iqbal lagi. "Hehehe, iya." "Gak takut? Kan harus lewat jalan raya. Nanti kalau ditilang gimana?" "Kalau aku, yang penting semua keamanan berkendara sudah lengkap dan aku sudah mahir dalam berkendara. Karena menurutku, masih lebih baik yang di bawah umur tapi sudah mahir dalam berkendara dan semua keamanan berkendaranya lengkap daripada yang sudah di atas umur tapi belum begitu bisa berkendara atau yang lebih parahnya keamanan berkendaranya tidak ada," ucap gadis itu panjang lebar. Iqbal melongo dibuatnya. "Tapi kalau ditilang kan keluar duit lagi," kata Iqbal. "Ya itu kan risiko," jawabnya. Iqbal manggut-manggut mengerti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD