POV Satria "Ki, Za-kiiiii!" Panggilku lagi. Terus saja aku berteriak-teriak tapi anak lelakiku itu tidak juga kemari. Sedang apa sebenarnya? Oh ya, ampun. Sungguh aku bingung sendiri. Tidak mungkin kutinggalkan si kembar yang sudah telanjang bulat di kamar mandi. Juga tak mungkin menggendong mereka keluar kamar mandi apalagi keduanya dalam keadaan najis. Kalau kugendong, aku ikut najis juga. Kalau dibersihkan dulu dengan air dingin aku tak tega. "Dik, diiiiik!" "Za-kiiii!" "Ada apa Yah, teriak-teriak?" Akhirnya yang kupanggil mendekat, dia menatapku yang sedikit membungkuk memegangi Hanif. "Zaki, tolong rebuskan ayah air." Satu tanganku memegang Hanif, satunya lagi mengulurkan panci besar padanya. Dia memandangiku, tatapannya pindah ke Hanif kemudian ke Hanifa. Lagi-lagi Zaki menatapk

