Ara menghapus air mata yang mengaliri pipi ranumnya, ia menguatkan diri, ini bukan lagi waktunya menangis tapi waktunya mencari tahu siapa orang yang selama ini ia anggap Bapak. Walaupun selama ini Adi memang selalu menjadi orang tua yang terbaik untuknya tapi tetap saja perubahan sikapnya belakangan ini membuatnya penasaran bahkan kini rasa dalam hatinya bertambah satu. Ketakutan. Ara berjalan meninggalkan daun pintu tempatnya bersandar, mendekati ranjangnya dan mengambil benda yang ia letakkan di antara sisi kasur dan pembatas ranjang. Berjalan ke kamar kamar mandi dan mengunci pintunya, ini ia lakukan agar Adi tidak bisa melihat apa yang ia lakukan jika Adi mengintip dari lubang kunci pintu kamarnya. Dalam situasu seperti ini kewaspadaan tentu sangat diperlukan bukan? Ara menyalaka

