Ara menghabiskan waktunya seharian di rumah, tidak berangkat bekerja atau ke rumah sakit untuk menjenguk Jelita seperti yang Arqa minta. Ia melakukan pekerjaannya rumahnya seperti biasa hanya saja yang berbeda, ia tidak banyak bicara pada ayahnya. Hanya air mata yang tiba-tiba saja menetes tanpa diminta lalu dengan cepat ia hapus agar tidak terlihat orang lain. Ibarat cinta adalah udara maka kehilangannya akan membuatku kesulitan bernapas, itulah yang sedang Ara rasakan, menjauhi Atqa rasanya begitu berat baginya terlebih lagi keluarga mereka sedang ditimpa musibah tapi untuk menentang Adi ia juga tidak memiliki kekejaman hati. "Bapak tau, saat ini pasti kamu merasa kesal bahkan mungkin benci sama Bapak, tapi suatu hati nanti kamu pasti mengerti jika semua ini demi kebaikan kamu." ujar

