Pulang Ke Rumah

1876 Words
“Non, maaf ya saya telat , silahkan masuk non Anindya” Pak Udin membuka kan pintu untuk Anindya. “Iya nggak apa-apa kok pak , tapi lain kali kalau bisa setiap saya telepon bapak harus langsung on the way untuk menjemput saya ya pak” Jawab Anindya sambil berjalan masuk ke dalam mobil. “Iya non , saya minta maaf , saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi” Jawab Pak Udin. “Iya pak” Jawab Anindya. Kemudian, setelah Anindya masuk ke dalam mobil , Pak Udin pun menghidupkan mesin mobil. Dalam perjalanan menuju ke rumah. “Pak Udin, saya mau bertanya boleh ?” Tanya Anindya. “Boleh kok non , emang mau tanya apa non?” Tanya pak Udin. “Bapak dulu juga jadi supir semua anggota keluarga Wijaya kan?” Tanya Anindya. “Iya non, Ada apa ya non ?” Tanya Pak Udin. “Kalau begitu ,bapak dulu juga pernah ngantar dan jemput kak Karina kan?” Tanya Anindya. “Iya non, emangnya kenapa?” Tanya Pak Udin. “Bapak pernah lihat kak Karina sama temannya nggak?” Tanya Anindya. “Maksudnya gimana ya non? Bapak binggung deh” Tanya Pak Udin. “Maksudnya , kak Karina dulu punya teman perempuan yang dekat nggak sih sama dia?” Tanya Anindya. “Saya kurang tahu non , kalau tentang itu” Jawab Pak Udin. “Tapi pak Udin pernah ngelihat nggak , kak Karina dekat sama teman perempuan?.” Tanya Anindya. “Kalau yang dekat sama non Karina banyak lah non yang saya lihat” Jawab Pak Udin. “Banyak ya pak? Nggak ada yang paling sering bapak lihat gitu?” Tanya Anindya. “Bentar ya non, bapak ingat-ingat dulu” Pinta Pak Udin. “Baik pak” Jawab Anindya. Setelah 5 menit pak Udin mengingat-ingat , dia pun akhirnya mengingat. “Non, bapak udah ingat” Pak Udin memanggil Anindya. “Apa pak?” Tanya Anindya yang antusias. “Kalau nggak salah , non Karina dulu sering banget ketemuan sama satu perempuan” Jawab Pak Udin. “Pak Udin tau namanya?” Tanya Anindya. “Nggak ingat non, tapi kalau nggak salah non Karina selalu manggil temannya itu dengan sebutan Ra” Jawab pak Udin. “Owh gitu ya pak, makasih ya” Jawab Anindya. “Pasti Ra yang dimaksud itu Kak Diara” Gumam Anindya dalam hati. “Emang kenapa ya non?” Tanya pak Udin yang penasaran. “Nggak ada apa-apa kok pak , aku cuman mau tahu aja” Jawab Anindya. “Oke deh non, apa ada yang bisa saya bantu lagi non?” Tanya Pak Udin. “Nggak ada kok pak, bapak fokus aja nyetirnya biar kita cepat sampai rumah juga” Pinta Anindya. “Siap non” Jawab Pak Udin. Pak Udin pun fokus membawa mobil tersebut , sedangkan Anindya yang duduk di belakang , mulai binggung dan melamun. “Kalau memang benar kak Diara itu sahabat kak Karina , itu bagus , tapi kenapa kak Karina nggak pernah bilang ke aku, padahal aku sering banget cerita tentang diri aku ke kak Karina” Gumam Anindya dalam hati. “Sebaiknya nanti aku tanya langsung ke kak Karina , terus apa benar kak Karina nggak pernah pacaran , aku jadi binggung deh” Gumam Anindya dalam hati. “Non” Panggil Pak Udin. “Non” Panggil Pak Udin sekali lagi. Anindya hanya diam saja. “Non Anindya” Panggil pak Udin dengan suara yang lebih kuat “Iya pak Udin, nggak usah manggil aku kayak gitu kan aku nya jadi kaget” Jawab Anindya yang terkejut. “Iya maaf ya non , habisnya non dari tadi saya panggil-panggil nggak nyahut, tapi dari tadi kenapa non melamun ?” Tanya Pak Udin. “Nggak kenapa-kenapa kok pak , cuman mikirin tentang kerjaan saya aja” Jawab Anindya. “Oke lah kalau begitu non, tapi nggak usah terlalu dipikirkan juga non, nanti cepat tua , hhhhh” Pak Udin menghibur Anindya. “Iiiihhhhhh...... Udahlah pak, bapak fokus aja bawa mobilnya biar cepat sampai rumah.” Pinta Anindya. “Siap non” Jawab pak Udin. Beberapa menit kemudian, pak Udin dan Anindya telah sampai di rumah, Pak Udin mematikan mesin mobil dan membukakan pintu mobil untuk Anindya. “Non kita sudah sampai” Pak Udin membukakan pintu mobil. “Oke pak , terima kasih ya.” Anindya keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah , ternyata sudah ada Bu Sara Dan Pak Erlangga yang duduk di sofa menunggu kepulangan Anindya. “Assalamualaikum Ma , Pa” Anindya masuk ke rumah dengan mengucapkan salam kepada kedua orang tuanya. “Walaikum salam, sayang” Jawab Bu Sara dan Pak Erlangga. “Kamu udah pulang?” Tanya Bu Sara. “Udah dong Ma , ini buktinya aku udah pulang dan sampai di rumah” Jawab Anindya. “Bagaimana dengan kerja kamu disana ?” Tanya Pak Erlangga. “Alhamdulillah bagus dan semuanya lancar, aku juga udah dapat teman baru” Jawab Anindya yang bahagia. “Wah bagus lah kalau kayak gitu , sekarang sebaiknya kamu bersih-bersih dulu sana , setelah itu kita makan malam bersama” Pinta Bu Sara kepada Anindya. “Baik Ma, aku ke atas dulu ya” Anindya pun pergi ke kamar nya. “Pa , mama nggak nyangka sekarang anak kita bisa menjadi seorang dokter” Bu Sara berkata dengan senyuman dan kebahagiaan. “Iya ma , sekarang Anindya udah besar dan sukses” Jawab pak Erlangga. “Papa ingat kan , waktu dulu gimana Anindya ?” Tanya Buk Sara. “Ingat kok ma, Anindya kan dulu suka menangis” Jawab Pak Erlangga. “Hahahaha , Papa benar banget” Bu Sara tertawa. “Udah lah ma , ayo kita duduk di meja makan” Tak lama kemudian , Anindya pun keluar dan makan bersama keluarganya. “Pa , Ma” Panggil Anindya. “Iya sayang ada apa?” Tanya Bu Sara. “Iya nak ada apa?” Tanya Pak Erlangga. “Kak Karina pernah membawa teman main ke rumah , nggak?” Tanya Anindya kepada kedua orang tuanya. “Maksudnya gimana sayang?” Tanya Bu Sara. “Iya kayak aku sering bawa Clara main ke rumah” Jawab Anindya. “Papa nggak tahu , papa kan kerja terus , coba tanya mama deh” Jawab Pak Erlangga. “Kalau setahu mama , Karina dulu nggak pernah membawa teman main ke rumah” Jawab Bu Sara. “Owh gitu , ya udah deh ma” Jawab Anindya. “Owh ya , Clara apa kabarnya?” Tanya Pak Erlangga. “Dia baik kok Pa, dan aku nggak nyangka kalau aku sama dia kerja di satu rumah sakit yang sama .” Jawab Anindya yang bahagia. “Benarkah ?.” Tanya Bu Sara. “Iya Ma , tadi aku juga ketemu sama dia” Jawab Anindya. “Terus di rumah sakit kamu udah kenal siapa aja?” Tanya Pak Erlangga. “Ada pak direktur namanya pak Rangga , terus Clara mengenalkan aku dengan salah satu dokter disana namanya kak Diara, sama ada suster partner aku kerja juga namanya suster Salsa” Jawab Anindya yang bercerita kepada kedua orang tuanya dengan sangat gembira. “Wah bagus ya , kamu udah beradaptasi dengan baik di lingkungan yang baru” Pak Erlangga memuji Anindya. “Kamu ajak lah Clara main ke rumah kita , mama udah lama juga nggak ketemu sama dia” Pinta Bu Sara. “Iya Ma, insyaallah aku nanti ngajakin Clara main ke rumah kita lagi” Jawab Anindya. “Owh iya , hubungan kamu sama Ryan gimana Anindya?” Tanya pak Erlangga. “Iya , dia keluar negeri masih lama ya?” Tanya Bu Sara. “Katanya beberapa hari lagi dia pulang kok Ma” Jawab Anindya. “Owh gitu , kalau dia pulang kalian mau langsung menikah?” Tanya Pak Erlangga. “Iiiihhhhhh..... Jangan dong Pa , masak mama sama papa cuman tinggal berdua di rumah ini , lagi pula Anindya kan masih kecil” Bu Sara masih merasa Anindya adalah anak yang masih kecil. “Iiiiihhh... Mama ni apaan sih , aku kan udah besar masak kecil terus” Jawab Anindya yang sebal dan kesal kepada Bu Sara. “Hahaha , kamu lucu kalau kayak gini” Bu Sara tertawa melihat Anindya yang kesal. “Tapi , emangnya kalian nggak ada rencana menikah?” Tanya pak Erlangga. “Tapi benar juga kata Papa, emangnya Ryan nggak ada niat mau ngelamar kamu Anindya?” Tanya Bu Sara. “Ada kok Pa , siapa bilang nggak ada” Jawab Anindya. Bu Sara dan Pak Erlangga yang mendengar merasa terkejut dan tidak percaya dengan ucapan Anindya , mereka langsung bertanya kepada anak mereka Anindya. “Ini serius?”Tanya pak Erlangga. “ Iya serius lah Papa , masak aku bohong sih” Jawab Anindya. “Kok kamu nggak ada cerita sama mama?” Tanya Bu Sara. “Soalnya Ryan itu bakal ngelamar aku di hari kelulusan aku , tapi nggak jadi karena dia masih ada bisnis di luar negeri” Jawab Anindya. “Ternyata begitu , tapi Papa setuju aja kalau kamu menikah dengan Ryan , dia kan anak yang baik dan juga kita sudah akrab dengan keluarga mereka” Jawab Pak Erlangga. “Makasih Pa ,kalau mama setuju kan?” Tanya Anindya kepada Bu Sara. “Mama sih nggak setuju, tapi kalau kamu nikahnya sama Ryan , oke mama setujuin deh” Jawab Bu Sara. “Makasih ya Ma , Pa” Anindya mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tuanya. “Iya sayang , semoga kalau kalian menikah nanti , kalian bisa cepat memberikan mama dan papa cucu” Bu Sara berkata sambil memandangi wajah Anindya. “Insyaallah ya ma , mama doakan saja” Jawab Anindya. “Habisnya kalau nunggu Karina, sampai sekarang Mama sama Papa belum juga dapat cucu dari mereka , jadi Mama berharap kamu nanti setelah menikah langsung memberikan mama dan papa cucu yang lucu” Pinta Bu Sara. “Mama ni gimana sih ?, Aku kan masih lama nikahnya , terus setelah menikah kan aku bakalan hamil selama 9 bulan dulu baru setelah itu dapat anak” Jawab Anindya yang menjelaskan kepada Bu Sara. “Iya Mama doakan semoga kamu setelah menikah cepat dapat momongan” Jawab Bu Sara yang antusias. “Mama doakan kak Karina juga dong biar cepat punya momongan” Jawab Anindya. “Itu udah pasti lah Anindya, setiap hari Mama sama Papa doakan Karina agar cepat dapat momongan , iya kan Pa?” Tanya Bu Sara kepada Pak Erlangga. “Iya Ma , itu benar, tapi mungkin Karina belum di kasih sama yang maha kuasa , tapi semoga saja mereka segera punya momongan dan kita punya cucu” Jawab Pak Erlangga. “Sudahlah , ayo kita lanjutkan makan malam kita, jangan memikirkan terus tentang hal itu” Pak Erlangga menyuruh anak dan istrinya untuk melanjutkan makan malam dan menghentikan pembicaraan. “Iya Papa benar, besok kan Anindya dan Papa harus bekerja” Jawab Bu Sara. Terlihat sangat jelas , bagaimana kebahagiaan yang berada di keluarga Wijaya , terutama kehidupan Anindya yang sangat sempurna dan penuh kegembiraan, tapi berbeda dengan kakaknya Karina , yang sangat terpuruk dan seperti tidak ada kebahagiaan di rumah tangganya. Di Rumah Karina , Karina sedang duduk di meja makan sendirian. Bersambung.......
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD