Izika menatap kosong ke arah kamar Jeffan yang masih tertutup rapat. " Sudah seminggu, apa kau baik baik saja sahabatku?". Bisik Izika lirih pada angin. Sejak pagi tadi, Exsa terus berada disisi Ayahnya yang tak membuka mata sejak kejadian malam itu. Tangan putihnya membelai lembut wajah tua sang ayah. Bibir pucat keriputnya seorang terus bergetar mencoba mengucapkan sesuatu yang tak dimengerti siapapun. " Ayah, maafkan aku. Aku tak tau bagaimana caraku hidup dan menatap masa depan dibawah nama besarmu. Kumohon bangunlah. Aku belum siap." Bisik Exsa lirih. Perdana menteri tepes tersenyum sinis saat melihat air mata Exsa jatuh. " Sekarang kau akan menyadari betapa berartinya ayahmu? Kukira anda akan bahagia dan berekspresi seperti biasanya anda selalu membentaknya." Ucapnya tak tahan

