 Takdir Dua Masa

1908 Words
Kecerdasannya adalah warisan ayahnya, ketampanannya adalah cerminan dari ibunya, dan kebijaksanaannya adalah lambang kejayaan dimasa itu. Izika menepuk kemudi stirnya kesal, bibirnya gemerutuk dan wajahnya memerah karna malu. Bagaimana tidak, kejadian tadi pagi benar benar membuat urat malunya putus didepan wajah ayah angkatnya. Flashback " Izika bangun, aku sudah datang." Suara seseorang yang duduk di sisi tempat tidurnya. Dan betapa bodohnya ia saat baru membuka mata masih sempat melihat sosok sang pangeran pujaan didepannya " Benarkah ini nyata?". Ucapnya gagap. Pangeran itu tersenyum lalu mengangguk diangannya. " Huaa kau benar benar datang, ya tuhaaaannn." Teriak Izika lalu langsung memeluknya hangat. Aroma casual yang menguar dari tubuh kekarnya benar benar nyata. " Apa kau begitu mengharapkan aku? Ucapnya ditelinga Izika membuatnya meremang " Sangat. Exsa!". Senyum Izika Namun... " Exsa? Exsa siapa Izika?". DEG TWING Izika langsung melepas pelukannya dan berkali kali mengerjabkan matanya meyakinkan wajah sosok didepannya. Matanya, hidungnya, bibirnya dan.. Wajahnya.. Wajah izika langsung berubah ungu. " Daddy?". Tanyanya linglung. Ayah angkatnya tertawa terbahak bahak " Kau kenapa Izika? Siapa itu Exsa??". *** Ya tuhan.. moment tadi benar benar membuatnya malu. " Izikaaa... apa sih yang ada diotakmu, haduuuhh tuhan aku meminta pangeran padamu bukan gila." Teriak Izika kesal didalam mobilnya. Beberapa saat kemudian gadis itu menidurkan wajahnya di bangku stir. Izika tidak melihat saat seorang pemuda tersenyum didepan muka mobilnya lalu menghilang beberapa saat kemudian. Saat itulah baru gadis itu mengangkat wajahnya frustasi " Sampai kapan aku akan segila ini." Ucapnya galau lalu menyalakan mesin mobilnya kembali. Hari ini ada kelas mata kuliah yang harus dia hadiri di kampusnya. *** Another story " Kemeja, celana, jubah dan ..." keningnya mengernyit melihat barang barang yang disiapkan didepannya. Dia kembali mendengus memejamkan matanya kesal Kecerdasannya adalah warisan ayahnya, ketampanannya adalah pancaran dari ibunya dan kebijaksanaannya adalah lambang kejayaan dimasa itu. Benarkah? Pemuda itu melepaskan handuk basah yang meliliti punggungnya. Langkah tegapnya menyusuri lantai kaca menuju kejendela besar menatap hamparan sinar matahari yang menyilaukan mata biru rubinya yang terang, kulit putih basahnya kemerahan disapu angin. Bahu kekar dan d**a bidangnya menambah keelokan fisik darinya. Perlahan dia menghirup aroma mawar yang mulai mekar dari hidung mancungnya. " Tenang.. tenang.. hari ini aku harus lebih tenang." Ucap batinnya lirih. Hingga... " Klek." Matanya langsung menyudut melirik siapa yang berani membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk. Dengan cepat pemuda itu langsung meraih jubah untuk menutupi tubuh polosnya " Jeff." Tekannya berang. Giginya gemerutuk melihat wajah siapa yang muncul dari balik pintu lalu masuk kedalam. Pria dengan rambut gelap, irish mata hitam pekat dan kulit yang seputih salju yang tak kalah menawan tersenyum manis didepannya. " Ssssstttt aku sedang lari dari kejaran pengawalmu. Tak apa kan aku bersembunyi disini?". Ucapnya mendekat. " Jeff, Apa apaan kamu ini. Berani sekali kau masuk kedalam kamarku dan...". " Exsa cukup, aku sudah sering melihatmu b***l sejak kecil. Jadi gak masalah kan. Lagi pula ini juga gara gara kamu, mereka hampir saja menangkapku". Keluh pemuda berambut gelap itu lalu seenaknya saja duduk di ranjang empuk Exsa Ya, dialah Exsa sang pangeran. Sementara pria didepannya?? Dia adalah Jeffan Lien. parasnya yang rupawan menggambarkan ia adalah keturunan bangsawan. Dan memang benar, Jeff panggilannya, sebenarnya adalah pangeran mahkota dari kerajaan Lienxiou yang ditaklukkan ayah Exsa dan menjadi tawanan sejak ia masih kecil. Sejak saat itu ia menjadi sangat dekat dan bersahabat dengan Exsa karna pangeran mahkota itu sama sekali tak memiliki teman. Lagipula, sikap ayah Exsa baik padanya. Semua yang Exsa punya dia juga punya, apapun yang dia mau selalu dipenuhi. Tak ada alasan untuk mengeluh. Baru saja Jeffan mengusap keringatnya. Tiba tiba " Tok tok tok." Terdengar bunyi ketokan. Wajahnya langsung berubah pasi. " Exsa pleasee." Ucapnya pucat meminta perlindungan. Pemuda itu mendesah kesal lalu mengusap rambut emasnya kasar melihat sikap sahabatnya. Dengan cepat ia memakai celana dan kemejanya lalu beranjak ke pintu. Dan.. " Brak!!". Exsa menggebrak pintu itu kasar. Wajah dinginnya membuat para pengawal yang mengetok pucat pasi. Sangat berbeda dengan sejarah :D " Ada apa?" Tanyanya datar " Kami.. kami.. maaf pangeran kami mencari tuan Jeffan. Dia melarikan diri setelah membuat kesalahan, baginda bilang jika dia membuat kesalahan lagi maka..." Ucapan pengawal itu terpotong " Maka apa hmm?". Mata biru rubinya berkilat menakutkan. Sorot tajamnya membuat siapapun yg melihat bergidik ciut. " Dia haruss dihukum." Lanjut mereka hampir dengan suara lirih tak terdengar. Mendengar itu Exsa menyilangkan lengannya didepan d**a lalu tersenyum sinis. " Kalian tidak akan pernah menyentuhnya, atau aku akan mematahkan leher kalian satu persatu." Ucapnya terdengar horror. Glek. Mereka menelan ludah. " Ta..tapi pangeran.. baginda... " Katakan pada situa bangka yang sakit sakitan itu agar diam saja. Aku tak ingin penyakitnya tambah parah. Dan kalian berpikirlah dengan otak kalian yang kecil itu menurut kalian siapa yang akan lama memerintah setelah ini? Hmm Raja kalian yang tua bangka atau aku Alexsander ?". Exsa mengangkat kedua alisnya. Para pengawal itu bertambah pucat " Maafkan kami pangeran. Kami tidak akan mengganggunya lagi. " tutur mereka akhirnya. " Bagus !". Tekan Exsa. Kemudian.. " BrakK!!". Dia kembali menutup pintu kamarnya kasar. " Mengganggu saja !". Desisnya geram. “Prok Prok Prok” Jeff memberikan tepuk tangan nyaring dengan wajah bangga didepannya. " Terimakasih Alexsander yang menyeramkan hahaha." Tawanya " Apa lagi yang kau lakukan hari ini Jeff, kau membuat masalah lagi?". Gerutu Exsa lalu merebahkan dirinya disisi tempat tidur. " Hei hei jangan asal bicara ya.. ini semua gara gara dirimu Exsa." Tekan Jeff duduk disisinya. Exsa mengernyit sexi. " Diriku? " Ya, kau lupa? Demi dirimu dan kewibawaanmu itu. Bukankah kau yang sejak 3 hari lalu selalu saja memintaku menggantikanmu lagi di ujian kelulusan bangsawan. Setiap kali ujian selalu begitu. Dan aku yang tidak tega dan baik hati ini selalu menurut menggantikan dirimu. Tapi apa kau tahu? Tadi pagi guru membuka tudung kepala semua murid dan memeriksanya. Ya.. aku ketahuan deh.." Omel Jeff panjang lebar. " Ya tuhan!". Exsa langsung duduk menghadap sahabatnya dengan wajah pucat. " Ya kenapa? Apa sekarang kau merasa iba padaku hmm?". Tukas Jeff merapikan rambutnya " Bukan begitu, apa itu artinya aku gagal lagi??". " Jangan cemas kau bisa mengulangnya lagi tahun depan hehe." Wajah Exsa berubah pasi tak berselera " Lagian kamu juga sih. Diluar sana kau memang terkenal tangkas dan tampan. Tapi kau juga cukup terkenal bodoh bayangkan seorang pangeran mahkota gagal ujian selama 4 tahun berturut turut. Nenek moyangmu pasti menangis disana." Celoteh Jeff. Dan.. PloK " Awww!!". Jeff mengusap kepalanya yang baru saja kena jitak Exsa. Pangeran berambut emas itu kemudian berdiri dengan wajah kejam " Ini semua karna kebodohanmu tau. Kau harus dihukum.. ayo ikut aku!!". Ucapnya menarik tangan jeff " Kemana?". Tukas pemuda itu malas. Exsa tersenyum sinis. " Hari ini akan hujan. Aku melihat matahari sedikit redup. Dan aku akan kedinginan jika tak ada yang menemaniku malam ini." Ucapnya melirik ketempat tidurnya. Jeff yang mengerti mengusap rambutnya acak lalu mendengus kesal. Ini salah satu kebiasaan buruk temannya. Dia sangat suka bermain api dengan wanita wanita nakal di tempat hiburan dan lagi lagi menjadikan Jeff sebagai pemilih sang gadis. Itu menyebabkan nama Jeffan semakin buruk dimata para pengawal dan ayahnya. " Lagi? Kau masih 17 tahun dan hitung berapa banyak gadis yang sudah kau perdaya Exsaaa." Kesal Jeff " Alaah sudahlah jangan mengeluh. Mereka saja suka, lagipula aku ini putra mahkota, aku bisa melakukan apapun yang aku mau. Ayo pergi." Paksa Exsa menarik lengan Jeffran kearah pintu. " Ya tuhaaann bagaimana nasib negeri ini kelak." Gerutu Jeff akhirnya. Dan inilah kehidupan nyata dari seorang Alexsander sang pangeran negeri Fèlix yang agung. Terkadang sebuah sejarah sangatlah berbeda dengan apa yang terjadi dikehidupan sebenarnya. Namun tak menutup kemungkinan sebuah kisah akan berubah dengan sebuah kata " I Love You" *** " Kepalamu kenapa Izika?". Tanya Violet salah satu teman yang cukup dekat dengan gadis itu. Benar saja keningnya tampak memar. " Aww sshhh." Keluh Izika saat meraba keningnya. " Ya ampun.. matamu lagi. Kamu gak tidur ya? Lingkar pandanya jelas banget." " Sudahlah.. aku lagi malas bercanda, kamu tau hidupku akhir akhir ini jadi ribet gak jelas." Gerutu Izika kesal. Gadis itu memijit pelipisnya yang terasa nyeri. " Hmm sudahlah tu lihat, pasti langsung sembuh." Tunjuk Violet " Apa?". Izika manyun " Itu.. idola kita siapa lagi. Lihat deh makin hari makin keren aja." Seru Violet. Izika mengangkat wajahnya. Tampak mr. Vallen melangkah tegap keluar dari mobilnya. Biasanya saat melihat dosen mudanya itu Izika langsung mood boster. Tapi sekarang.. entah kenapa semuanya terasa hambar. " Morning." Sapa mr. Vallen manis pada setiap muridnya. Izika ingat satu hal. Mungkin dia bisa bertanya lebih pada Vallen. Gadis itu langsung beranjak turun dan berlari kehadapannya. " Ada apa Izika?". Tanya mr. Vallen mengernyitkan kening sexinya.Izika menggigit bibirnya bingung. " Emm prof itu.. lukisan yang waktu itu.." " Lukisan?". Vallen mengernyit. " Iya lukisan sang pangeran waktu itu, pangeran Alexsander. Apaaa saya boleh melihatnya?". Izika menghela nafas panjang. Mendengar itu Vallen semakin mengernyit bingung. " Maaf Izika, sepertinya kamu bingung. Saya tidak mengerti apa yang kamu katakan." Ucapnya membuat Izika pucat pasi . Beberapa saat kemudian.. " Maaf proff dia mungkin lagi stress. Makanya ngelindur tadi kepalanya kebentur." Violet menarik lengan Izika " Loh enggak waktu itu anda pernah menceritakan tentang kerajaan Felix kan?" Izika masih bertahan. Vallen membetulkan kacamatanya lalu tersenyum manis. " Pergilah ke rumah sakit Izika sepertinya kamu tidak sehat." Ujarnya lalu beranjak pergi meninggalkan izika yang mematung pasi. " Prooff proof tunggu saya.. emmmm". Violet membungkam mulut Izika dengan kedua tangannya. " Apa apaan sih kamu Iz? Kamu kenapa?Aneh banget tau!". Kesalnya menyeret Izika kebangku taman lalu memberinya secangkir robusta " Tapi beneran mr. Vallen itu lupa jelas jelas dia yang menunjukkan lukisan dan cerita itu didepan kita." Keluh Izika " Kau juga ada disana kan dikelas itu kemarin lusa." Sambungnya menatap Violet " Haduuh izz.. materi prof. Vallen itu biofisika mana mungkin dia menceritakan cerita gak jelas gitu. Kamu kira dia sejarawan apa?". Senyumnya menepuk pundak Izika yang semakin pucat. " Enggak Violet. Kamu lupa kali. Lusa kemaren sebelum hari Valentine." Sanggah Izika. Violet tampak berpikir sejenak. " Lusa kemaren sebelum valentineee bukannya libur ya karna prof. Vallen ada urusan diluar negeri. Anaknya yang bernama Alfa baru saja lulus?." Tekan Violet. Kali ini Izika benar benar bungkam. Dia merasa sangat aneh. Perasaannya menjadi kacau. Pikirannya semakin berantakan. Apa sebenarnya yang terjadi? " Iz.. kamu baik baik saja kan?". Tanya Violet. Izika berdiri dengan wajah pucat lalu menyandangkan tasnya kembali. " Maaf Vi. Sepertinya aku harus pulang." Ucapnya tanpa basa basi " Tapi Izz..??". Gadis itu berlari pergi menuju tempat parkir tanpa memperdulikan panggilan Violet. Dia benar benar gelisah dan bingung. Dari kejauhan dibalik pepohonan rindang ditaman, pria yang sama yang tadi menampakkan diri didepan mobilnya tersenyum manis. " Saatnya hampir tiba Izika, saat untuk mengabulkan harapanmu." Senyumnya manis dibibir merahnya lalu lagi lagi menghilang bagai bayangan kabut. Izika mengaitkan anak rambut kebelakang telinganya sembari mencari cari kunci mobil di tasnya. " Dimana yaa..". Keluhnya kesal. Gadis cantik itu berdiri tepat didepan lapangan parkir sembari menggerutu kecil. " Ya tuhaaann apa aku benar benar gilaaa??". Teriaknya kesal. Semua hal benar benar memusingkan baginya. Hingga... " Hei nonaaaa.. Awassss !!". Teriak beberapa mahasiswa dari kejauhan. Izika terhenyak sejenak. Keningnya mengerut tak mengerti " Aawww."  Keluhnya memegang keningnya yang semakin lebab. Telinganya juga seolah bermasalah sekarang, hingga ia tak mendengar teriakan dari orang orang yang berusaha menyelamatkannya waktu itu. " Izikaaaa awaaassss." Teriak Violet berlari kearahnya. Dan... " Ya tuhan." Keluhnya terakhir saat sebuah mobil Vios melaju kencang kearahnya dan kehilangan kendali. Dan... " BruaKkk!!!!!"... " Izikaaaaaaaaaaaaa.!!!!". Teriak Violet ngeri, juga beberapa mahasiswa lainnya. Bagaimana tidak, Rabu 17 feb . 2015 tepat jam 12:30, Tubuh Izika terpental setelah dihantam keras oleh mobil yang kehilangan kendali. Gadis cantik yang malang itu terpelanting membentur kaca depan mobilnya sendiri lalu berguling dan terherembab kebawah hingga tubuhnya tepat menancap pada kawat di pagar pembatas tempat parkir itu. Dalam sekejab tubuhnya yang menggelepar sekarat sudah dikerumuni orang orang. Kawat pembatas itu menembus punggung, leher dan perutnya. Tak jauh dari sana pemuda itu kembali terlihat dengan senyum yang tak sampai kemata. Dia berujar.. " Ucapkan selamat datang Izika, selalu ada harga yang dibayar untuk setiap permohonan." Senyumnya lalu melangkah diantara kerumunan orang dengan tudung hitam yang dibiarkan menutupi wajahnya. " Aku sudah lama menunggumu”.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD