8. ATINA BINTI YAHYA

2166 Words
Sebuah aroma mengusik hidungku. Aku tau dan sangat mengenal bau harum ini. Subuh. Umar. Bangun. Aku membuka mata perlahan. “Sebentar lagi subuh.” Aku tau dan seperti biasa, Umar yang rapi dan wangi siap mereguh pahala di pagi yang masih buta ini. Suamiku terbiasa sholat subuh di masjid. Aku merasa malas untuk bangun hari ini. Sedikit merasa takut akan yang kudapati di meja makan, tapi sekali lagi, aku seorang ibu. Aku sudah bersikap tangguh bagi mereka sejak 24 tahun yang lalu, mengandung keduanya dengan susah payah, juga merasakan kesal seperti yang setiap ibu alami, tidak terkecuali ibuku dulu. Aku sedang bergumul di dapur setelah subuh, menyiapkan sarapan untuk keluargaku. Hanya nasi goreng biasa dan teh pagi hari. Ketika Umar kembali dan kami siap untuk sarapan, aku melihat wajah sempab kedua putriku. "Kenapa mata Ayuk juga bengkak?" Erly bertanya. "Berterimakasihlah. Aku mengusir lelaki itu untukmu," jawab Aisyah lantang. Aku sedikit khawatir tentang yang mungkin dimaksud Aisyah adalah Hans. "Aku tidak akan berterimakasih karena Ayuk mengusirnya, tapi sangat berterimakasih karena peduli kepadaku," balas Erly. Anak baik, Erly bahkan tersenyum bangga kepada Aisyah. Aku melihat suamiku juga lega sepertiku. "Jadikan ini pelajaran, Nak," Abi melihat Erly dan Aisyah bergantian. "Ya, Abi. Erly hanya terlalu senang dicintainya hingga lupa bertanya." Si bungsu menunduk malu. "Masa muda memang memabukan," komentarku santai dan pura-pura menikmati makan, ketika mereka menatapku heran, aku harus bertanya dengan wajah tanpa dosa. “Apa?” "Tidak ada apa-apa." Suamiku tersenyum. Hingga hari ini pun senyuman itu selalu mencerahkan hatiku dan juga kedua putri kami yang tersenyum geli. "Aku akan membantu di So-mart hari ini," Erly membuka suara lagi. Aku juga berpikir dia perlu kesibukan agar pikirannya tidak terus memikirkan Arif. Sebenarnya aku berharap Hans bisa menghiburnya. So-mart adalah nama mini market kami, diambil dari nama ayah mertuaku, Somad. "Kalau begitu Abi akan tetap di rumah," Umar melirikku. "Ya. Abi bisa membersihkan rumput di samping rumah." *** Menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang gampang-gampang-susah. Membutuhkan tenaga dan juga mental, kadang aku harus memasak makanan yang tidak pernah kumakan, seperti ikan tawar yang disukai suamiku. Harus lebih bijak dari hari ke hari untuk kedua putriku, harus siap ditanya tentang apa saja, menjadi pendengar yang baik, juga termasuk menenangkan tangis. Aku paham yang dulu dialami Mak. Kami berkumpul lagi di meja makan dengan lauk pauk khas Bangka, pucuk daun ubi, kacang panjang dan petai semuanya direbus dan rusip sebagai sambal, juga ada lempah daret dan ikan asin goreng. "Terimakasih Umi masakannya." Erly membantu membereskan piring. "Aisyah akan ikut membantu," Aisyah beranjak. "Umi bisa bersantai bersama Abi." "Menjadi tua membuatku lebih cepat lelah," ucap Umar saat aku mendekatinya. Itu kalimat tidak perlu, tapi sebagai wanita yang hidup lama bersamanya, aku bisa mengartikan sebagai ajakan ngobrol. "Ya. Kita memang sudah tua dan mungkin saja sebentar lagi akan uzur," jawabku. Umar melihatku dan aku melanjutkan kalimatku dengan menatap matanya, "Kalau aku yang uzur lebih dulu, perlakukan aku dengan baik ya dan sabarlah." "Tentu saja, kamu juga akan melakukan hal itu kepadaku." Dia mengelus tanganku yang mulai keriput. "Kita saling menyertai dan bagiku waktu tidak akan merubah rasaku selamanya." Kami saling melempar senyum. "Ehmm," Aisyah dan Erly sudah menyelinap duduk di dekat kami. Aku menarik tangan dari Umar, tapi dia tidak melepaskanku. "Tidak apa-apa, Umi," Aisyah menggodaku. "Kami sudah dewasa, Umi," tambah Erly. "Apa kubilang, kita sudah tua." Umar ikut memojokkanku. Mereka tersenyum geli. "Baiklah, tidak lama lagi tahun baru dan itu artinya kalian akan segera bertambah umur." Aku melihat reaksi mereka. "Apa yang akan kita lakukan tahun ini? Untuk 10 Januari nanti?" Aku mengingat jelas tanggal 10 Januari 1993, rasa jihadku untuk melahirkan Aisyah Aswara dan setahun kemudian di tanggal yang sama, sekali lagi aku berjihad karena melahirkan Erly Natasha. Aisyah dilahirkan secara normal sementara Erly prematur di usia kandungan 36 minggu. Tahun itu adalah tahun-tahun berat dalam hidup kami, di mana aku harus mengikhlaskan Aisyah tidak disusui secara cukup dan juga Erly yang harus ditinggal di rumah sakit dalam inkubator. "Aisyah ingin mengundang murid-murid ke rumah Umi." Aisyah guru SD dan wali kelas 2. "Fix. Erly juga bisa mengajak santri ke sini," Erly menimpali dengan senyum. Mereka berdua tampak semangat. Aku sebagai ibu mereka tentu saja senang dengan keakraban mereka. Tapi entah kenapa, lidahku sangat ingin menyinggung Hans saat ini. Kalau anak itu bisa ikut tentu saja akan lebih meriah. Aku sungguh berharap dia sebagai menantu, entah untuk Erly ataupun Aisyah. "Ide bagus, kita akan berbagi seperti itu." Senyum Umar sangat lebar. Dia memang menyukai anak-anak dan tidak mengeluh untuk bangun tengah malam mengurusi Aisyah kecil dan merawatku yang hamil, aku tidak akan habis bersyukur atas dirinya sebagai suami yang mencintaiku. *** Seminggu berlalu. Ini hari terpanas sepanjang Desember 2016 yang biasanya didominasi hujan. Hans datang pagi-pagi bersama seseorang gadis yang sangat cantik dan muda. "Halo!" Hans menyapa Erly. Sebelumnya dia sudah meneleponku untuk minta izin akan datang, syukurlah Aisyah sedang mengajar. "Hai, Hans. Oh, dia Natasha?" Sepertinya mereka saling kenal. "Maaf, maksudku, Hera?" Erly terlihat riang menyambut mereka. "Siapa Natasha?" Gadis itu bertanya, suaranya mirip dengan suara Hans, tingginya pun hampir sejajar. "Bukan siapa-siapa." Suara Hans menusuk telingaku. Siapa Natasha? Erly? Nama belakang Erly juga Natasha. Ah, sudah! Sebagai orangtua aku harusnya tidak menguping, nanti dikatain kepo. Mereka duduk di ruang tamu dan Erly ke dapur untuk menyiapkan minuman. Aku langusung menanyainya, "Siapa gadis itu?" Aku penasaran, tapi Erly tersenyum. "Adik Hans, Umi. Dia kuliah di Jogja," Erly mengisi cangkir dengan gula, sepertinya akan membuat teh. "Oh, Umi pikir calon istrinya," komentarku lega. Aku melihat kilat geli di mata putriku ini, "Kenapa?" "Beberapa hari yang lalu Hans mengatakan dia sedang galau karena ditolak seorang gadis," Erly menjelaskan dengan wajah menahan tawa. Kalau yang dimaksudnya Aisyah, tentu saja itu alasan supaya Erly tidak bertanya Hans ke mana setelah melihat langsung peristiwa malam itu. "Kamu senang Hans ditolak?" Aku menyelidik dan sedikit berharap putriku ini luluh kepada Hans. Jujur saja, kami masih bingung tentang alasan Erly menolak Hans. Apa kurangnya Hans? Tidak ada. Bahkan Aisyah dengan lantang berharap kepada anak itu. "Ya. Kami senasib dan itulah sahabat." Erly tersenyum rahasia sambil membawa teh. Anak ini sudah pulih dengan cepat, tidak ada bekas kecewa atau patah hati dari wajahnya, dia kembali tersenyum seolah tidak ada hal istimewa yang terjadi. "Umi... ayo ikut duduk bersama kami," Hans muncul dan membawaku ke ruang tamu, memaksa sebenarnya. "Kamu terlihat sehat Nak." Hans tersenyum, "Umi juga. Senang akhirnya seminggu itu berlalu." Hans masih sama. Kadang sikapnya lebih lancang daripada Erly atau Aisyah, tapi anak ini tetap saja menyenangkan. Umar juga sangat setuju atas pendapatku tentang lelaki muda ini. "Hera, beliau ini Umi," Hans mengenalkanku. Gadis bernama Hera berdiri dan menyalamiku. "Sa-saya... Hera, Umi," ucapnya sedikit canggung. “Duduklah. Umi baru tau, kalau Hans punya adik,” kataku sambil melirik Hans yang masih berdiri, menunggu kami duduk lebih dulu. Hans tersenyum malu. Kami duduk bersama. Aku menyayangkan Umar tidak di sini. Aku suka dia ada di sisiku, terlebih saat harus duduk dengan anak-anak seperti ini. Aku takut mereka akan canggung berbicara di depanku. "Umi, Hera bawakan oleh-oleh dari Jogja," gadis itu menyodorkan bungkusan kepadaku. "Terimakasih, Nak." Hera gadis yang ramah dan tentu saja murah senyum, anak ini mirip sekali dengan Hans. Aku sebagai pendengar diantara cerita mereka, kulihat Erly menyukai Hera. “Assalamu’alaikum.” Kami menoleh ke arah pintu saat mendengar ucapan salam dan sosok Aisyah muncul. Perasaanku tidak enak. Tiba-tiba saja aku merasa seperti... berdebar. Aku yakin sekali ini bukan jatuh cinta, meskipun aku selalu mencintai putri-putri kami. "Pulang cepat Yuk?" Erly menyapa lebih dulu, menebak dengan senyum manis. Erly lebih riang hari ini. Apa karena Hans? Tadi Hans jelas sekali menampakkan kerinduan kepada Erly, ketika mengatakan seminggu berlalu. Kelegaan itu membuktikan bahwa mereka tidak bertemu selang waktu yang aku dan Umar tetapkan. Hans menepati janjinya. Wajah Aisyah lelah dan kentara terkejut saat melihat Hans, apalagi Hera. "Iya, tinggal pembagian rapot sabtu nanti." Mata cantiknya melirik Hera yang tersenyum ramah, "Calon?" "Adikku," jawab Hans dengan senyum santai. Tidak nampak bersalah atau khawatir. "Oh, kupikir sudah berubah pikiran." Aisyah mendekat dan mengulurkan tangan kepada Hera, "Aisyah." Sikapnya cukup baik untuk kekesalan yang mungkin dirasakannya. “Hera, Yuk.” "Beristirahatlah Nak," kataku pada Aisyah dan gadis itu mengangguk sambil berlalu. Aisyah juga menepati janjinya. Aku melirik Erly. Aku yakin, tidak akan sanggup melunturkan senyuman putriku ini untuk masalah Hans dan Aisyah. Hera mengekori langkah Aisyah dengan matanya, lalu mengamit Hans, "Waw, she is beautiful!" Hera melotot terpesona ke arah Hans, matanya berbinar imut. "That’s right," Erly menimpali bangga. Hatiku nyeri. Bagaimanapun kebesaran hati gadis ini luar biasa. Seberapa sering mereka berdua dibanding-bandingkan? Malah aku dan Umar sengaja memisahkan sekolah mereka sejak SD, supaya Erly tidak perlu merasa lebih rendah, seperti yang dialaminya saat TK dulu. Hera tersenyum membalas kalimat Erly, lalu kalimatnya keluar lagi. "Diakah sebabnya Abang sering ke sini?" tanyanya kepada Hans. Hans malu dicurigai sambil senyum begitu. “Bukan.” Hans menunjuk Erly dengan dagunya, “Dia.” Hera terperangah. Mungkin juga tidak percaya. Kami pun tidak percaya saat anak itu datang dan melamar Erly beberapa bulan lalu. Mungkin saja di kepala Hera sedang terukir kalimat ‘ABANG SERIUS?!’ dan Hans mengangguk yakin dengan wajah merona. Erly ikut bersemu, sementara Hera mengerjap dengan wajah polos yang menggemaskan. "Kamu terlihat cute dengan ekspresi itu," ungkap Erly kepada Hera tanpa ragu. Erly! Tidak bisakah kamu menghargai dirimu juga?! Kadang aku kesal sekali karena anak ini sering memuji orang lain, tanpa pernah mendapatkan balasan, dia tetap memuji secara tulus. ‘Erly mengatakan kebenaran, Umi.’ Seperti itulah dalih yang digunakannya saat aku protes. "Terimakasih Yuk." Sekarang Hera juga merona sebentar, tiba-tiba matanya awas, "Tunggu! Kenapa Ayuk menolak Abangku?" Aku tegang dan sepertinya Hans juga. Kami tidak menduga akan ada pertanyaan gamblang dari anak baru yang manis ini. "Kami tidak cocok. Lagi pula kami sahabat," Erly tersenyum ramah. "Ya, kan... Hans?" "Ya," Hans cepat-cepat mengangguk. Jujur saja, aku jengah. Hera juga menampakkan wajah tidak suka. "Friend zone!" Hera memalingkan wajah sebalnya. Tapi Hans dan Erly malah tersenyum geli. "Apa itu?" Aku harus bertanya supaya mengerti. "Istilah untuk mereka yang terjebak cinta dalam pertemanan, Umi," Hera menjelaskan tidak ikhlas. Aku mengangguk. Anak ini sepertinya tidak keberatan dengan pilihan Hans. "Tidak, Hera. Abangmu baru saja—" "Pstt, Erly! Sahabat tidak membongkar rahasia," Hans memotong kalimat Erly dengan meletakkan telunjuk di dekat mulutnya dengan ekspresi memohon dan peringatan. "Hoi-hoi! Ada apa ini? Rahasia? Hera suka rahasia!" Hera tampak sangat penasaran, tapi Erly - Hans saling tukar pandang dan tertawa. Ketika Hera yang bingung meminta penjelasanku melalui matanya, aku hanya bisa menggidikkan bahu. Mengatakan tidak tahu. Aku sudah lama bersama mereka, ada rahasia yang hanya akan menjadi milik mereka tanpa harus turut campur tangan bahkan bagiku sebagai orang tua mereka. Aku pun pernah muda, tapi mereka, mereka baru akan tua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD