Setiap hari kami selalu memantau hasil pekerjaan kalila. Selain kuberi tanggung jawab untuk kebersihan klinik, dia juga kuberi tanggung jawab pembukuan hasil kebun. Kebetulan aku punya tiga tempat kebun kopi. Kebun itu kusewa dari petani. Rata rata lima tahun jangka sewanya dan ini sudah berjalan dua tahun. Sementara untuk tanggung jawab diperkebunan, aku bekerja sama dengan saudaraku. Dia bertanggung jawab atas pekerja dilapangan. Dari masa perawatan, pemupukan hingga memasarkan hasil panen. Hasilnya lumayan karna bisa membantu secara ekonomi untuk masyarakat sekitar perkebunan yang banyak mengandalkan sebagai buruh tani.
Melihat hasil kerja kalila, aku merasa lumayan puas. Aku salut dengan umur yang segitu kalila sangat mudah untuk diarahkan. Anaknya rajin dan sopan. Hal itu tidak hanya kunilai dari hasl pekerjaannya, tapi juga prilakunya terhadap simbok. Dari situlah terbersit keinginan untuk membiayai sekolahnya. Saat kuutarakan pada suamiku tentang niatanku menyekolahkan kalila. Alhamdulillah suamiku mengijinkannya, bahkan suamiku yang akan menyanggupi biaya sekolahnya, sementara aku yang bertanggung jawab untuk uang saku dan transportnya. Akhirnya kami sepakat jika nanti kalila jadi masuk SMA maka suamiku akan bertindak sebagai walinya. Jika ada sesuatu hal yang berkaitan dengan kalila dan sekolah maka pihak sekolah akan menghubungi suamiku.
Malam ini kami memanggil kalila. Kami ingin memastikan apakah dia masih ada keinginan untuk lanjut sekolah dan alhamdulillah niat baik kami kalila terima. Kalila menangis terisak, akupun bisa memakluminya karna mungkin tawaran kami diluar angannya dia. Aku juga berpesan untuk menyiapkan berkas yang diperlukan sebagai persyaratan daftar sekolah. Aku juga menyampaikan untuk mendaftar sekolah aja yang dekat rumah. Selain dapat dijangkau dengan jalan kaki juga dia bisa tetap melaksanakan kewajibannya dirumahku. Kujanjikan hari rabu dia akan diantar suamiku untuk daftar sekolah.
Kebetulan kepala sekolah SMA Budi asih yang bernama pak ramdani adalah teman sekolahku dulu saat aku masih di SMA, terkadang kami masih bisa berkomunilasi digroup alumni SMA. Malam ini aku menghubunginya menyampaikan keinginan kami dan membuat janji temu dengannya dengan suamiku.
Esok paginya kami beraktifitas seperti biasa, sebelum beranjak dari kasur aku akan mengecek ponselku, ternyata aku dapat info dari wa kalo pagi ini ada pasien yang mau melahirkan. Selesai sarapan aku pamit dan bergegas berangkat dinas dengan kendaraan roda duaku. Sementara hari ini suamiku meluangkan waktunya untuk mengantar kalila daftar sekolah.
Hari ini ada tiga pasien yang mau bersalin. Aku dibantu bidan vina dan dua orang perawat. Satu pasien terpaksa harus dirujuk ke RSUD karna mengalami placenta previa atau ari ari menutupi jalan lahir sehingga bayi tidak bisa keluar. Jalan satu satunya harus dilakukan operasi sesar. Satu pasien lagi, bayinya sudah lahir normal tetapi ari arinya lengket didalam. mau tak mau juga harus dirujuk ke RSUD yang memiliki peralatan lebih lengkap dan penangannya lebih cepat.
Sementara pasien yang satunya lagi masih ada dipuskesmas selain bisa melahirkan secara normal juga kondisi ibu dan bayinya sehat. Yang bersalin secara normal kondisi ibu dan bayi sehat, minimal menjalani perawatan dua hari baru boleh pulang. Sore hari sebelum pulang aku mengecek kondisi pasienku. Setelah semuanya selesai aku meninggalkan laporan untuk perawat jaga malam untuk tindakan selanjutnya.
Sampai rumah sudah menjadi kebiasaan sebelum masuk rumah harus mencuci tangan dulu pada wastafel yang ada disamping rumah. Didalam ruang keluarga kudapati suamiku masih sibuk dengan tabletnya. Seperti biasa aku mengucap salam dan mencium punggung tangannya sebelum berlalu ke kamar untuk ganti baju. Selesai berganti baju dinas rumahan aku menuju kedapur untuk menyapa simbok dan kalila juga memastikan menu makan malam nanti. Kubuka lemari pendingin dan mengeluarkan dua buah mangga kesukaan suamiku. Aku juga membebaskan simbok dan kalila untuk mengambil buah yang ada dilemari pendingin. Aku mengisi kulkas dengan lauk pauk, sayuran juga buah untuk memenuhi kebutuhan seisi rumah termasuk untuk para asistenku. Aku juga tidak pernah membedakan status sosial seseorang karna bagiku mereka juga sama sepertiku yang punya hati dan juga rasa. Hanya nasib kita saja yang berbeda. Lagian keberadaan mereka juga berarti untuk kami. Setelah menyuci mangga dan mengeringkannya aku mengambil pisau buah, garpu wadah untuk sampah kulit dan piring buah. Aku menyusul suamiku diruang keluarga. Kunyalakan tv yang ada didepanku dan mencari berita terbaru. Suamiku masih fokus pada tabletnya seolah tak terusik dengan kehadiranku. Acara yang kutonton sedang menyiarkan kasus yang sedang trending topic mengenai pak sambo. Sambil kukupas mangga aku juga mengomentari berita yang sedang kutonton.
" tidak nyangka ya pi, kekuasaannya akan hilang dalam sekejap, sepintar apapun dia menutupi keburukannya akhirnya tuhan akan mengungkapkan dengan caraNya" ucapku ucapku sambil melirik kesuamiku.
" hemm " gumam suamiku
" belum selese juga, masih banyak laporannya? " tanyaku
" untuk cek materialnya sudah tapi cek gaji pekerjanya yang belum, kuteruskan nanti malem aja, nanggung kalo sekarang " jelas suamiku sambil membereskan tabletnya dan meletakkan dimeja sudut. Dia mengambil garpu dan menusuk buah mangga yang sudah kuiris kotak kotak lalu menyuapkan kemulutnya dan berlanjut menyuapiku.
" makanya mi, apapun perlakuan orang terhadap kita, kita tetap harus berbuat baik, karna sejatinya apapun yang kita lalukan akan kembali kediri kita sendiri, mungkin sekarang pak sambo sedang menuai karmanya, " jelasnya panjang lebar.
Tak terasa waktu menjelang senja, bincang bincang ringan kami telah memakan waktu lama. Buah mangga dipiring juga sudah ludes tak tersisa. Akupun mengajaknya mandi sebelum maghrib tiba. Kubereskan piring dan sampah kulit mangga, kubawa kebelakang. Kulihat simbok sudah selesai masak dan kalila sedang membersihkan peralatan yang sudah selesai digunakan.
Aku berlalu dari dapur untuk melanjutkan rutinitas mandi sore. Tak ada anak yang tinggal dirumah seakan menjadi kesempatan suamiku untuk menuntut lebih diperhatikan. Yach seperti sore ini, dia minta dimandiin dan digosokkan punggungnya.
Selalu terucap rasa penuh syukurku, memiliki suami yang sabar, perhatian dan pengertian, memiliki anak anak yang sholeh sholehah, memiliki materi yang lebih dari cukup. Ibuku pernah berpesan ' disaat kamu merasa bosan dan jenuh dengan keadaanmu, maka tolehlah warga perkampungan yang ada disekitarmu. Mungkin saat ini mereka berharap bisa memiliki nasib yang sepertimu '
Selalu berbuat baiklah terhadap sesama tanpa memandang kasta. Buatlah dirimu berarti dan bermanfaat bagi orang banyak. Mungkin bagi mereka bagaimana caranya untuk bisa menghasilkan uang, sementara kita yang hidup dalam kelebihan selalu berupaya bagaimana caranya untuk mengeluarkan uang. Berbuat bijaklah. Untuk apa menyimpan barang koleksi yang mahal mahal harganya hanya sebagai isi lemari, itu hanyalah nafsu duniawi yang semakin dipupuk semakin subur, rasa syukurmu akan berubah jadi takabur. Lihatlah lihatlah sekelilingmu dimanapun kamu berada, lihatlah lihatlah keadaan mereka yang butuh uluran tanganmu. Asah hatimu agar menjadi peka dengan keadaan mereka.
Malam saat kami sedang duduk didepan tv, kalila datang menghampiri. Ternyata suamiku lupa cerita hari ini soal kalila, aku juga lupa menanyakannya. Kalila dapat bahan seragam dari sekolah dan harus segera dijahit agar bisa dipakai sekolah.
Aku punya penjahit langganan, bu susi namanya. Hampir semua seragam dinasku hasil jahitan tangan bu susi. Pernah juga jahit ditempat lain, tapi aku merasa paling sreg dengan jahitannya bu susi, lebih terasa nyaman memakainya. Bu susi sudah lumayan terkenal jahitannya bagus dan rapi, dia bisa memenuhi model selera pemesannya. Antrinya lumayan panjang. Kalo ingin didahulukan bu susi pasang tarif mahal. Standar rata rata pesanan sampe antri bulanan. Pernah aku jahit bahan untuk sarimbit yang akan kupake buat lebaran ternyata durasi tunggunya sampai empat bulan. Untung saat itu aku beli bahannya jauh jauh hari sehabis lebaran qurban. Bu susi menangani jahitan seorang diri, ada juga sih asistennya tapi yang pegang jahitan tetap dipegang oleh bu susi sendiri. Menjaga kepuasan pelanggan katanya.
Aku mengajak kalila ke tempat bu susi, aku mengenalkannya sebagai anak angkatku. Sepertinya tidak etis kalo aku memperkenalkan kalila sebagai pembantuku. Dia berjanji hari minggu sudah bisa diambil salah satu dulu yang mau lebih dulu dipakai dihari senin. Yang lainnya bisa menyusul, yang penting saat mau dipakai seragamnya sudah siap. Hapeku bergetar tanda pesan wa masuk, setelah kubuka, ternyata pesan suamiku untuk sekalian beli perlengkapan sekolah yang mau kalila butuhkan. Suamiku juga mengirimkankan uang untuk keperluan kalila. Moment ini mengingatkan saat aku menemani sulungku membeli perlengkapan masuk pondok.
Selesai mengukur kalila, kamipun pamit, aku tidak langsung pulang kerumah tapi mampir ke toko sepatu dan tas. Sepatu sekolah wajib berwarna hitam kecuali untuk sepatu olah raga yang bebas warnanya. Kupilihkan tiga model sepatu warna hitam yang biasanya dipakai anak anak sekolah. Kusuruh kalila untuk memutuskan sepatu model mana yang sesuai dengan seleranya. Akhirnya dia memilih sepatu model sport. Kupikir tepat juga pilihannya, karna satu sepatu bisa dipakai untuk harian sekolah dan juga untuk olah raga. Aku juga memilihkan tas punggung yang cocok untuk anak sekolah. Selain model yang kekinian juga aku mengecek kualitas jahitannya. Setidaknya kuat membawa beban berat juga awet tahan lama. Kuambilkan tiga model dan kuserahkan kalila untuk memutuskan pilihannya. Dari dua barang tersebut ternyata pilihan kalila jatuh pada yang model simple, seperti sesuai dengan karakter orangnya, sederhana dan tidak neko neko.
Selesai belanja sepatu dan tas sekolah, kami lanjut ke toko buku dan alat tulis. Kalo disini aku yang memutuskan mengambil apa apa saja yang sekiranya dibutuhkan oleh anak sekolah, tak terkecuali tiga pasang kaos kaki. Tapi tetap menanyakan apa saja yang mau dibeli kalila. Baiklah setelah dicek, sepertinya belanja keperluan kalila sudah cukup.
Kamipun beranjak pulang, tapi sebelum sampai rumah kami mampir ke gerobak martabak. Aku memesan toping kesukaanku dan suami, juga memesankan untuk kalila dan simbok.
Sampai rumah ternyata sudah hampir jam sembilan. Lumayan lama juga kami keluarnya. Suamiku masih setia didepan tv.
"makasih ya pi, untuk penambahan saldonya malam ini " ucapku sambil meletakkan bungkus martabak dimeja.
"cuma makasih aja? " ucapnya sambil mengambil sepotong martabak
" ish kebiasaan papi nih, kalo ngasih gak pernah tulus " sahutku sambil cemberut
" yee mumpung kita masih muda mi, masih punya tenaga ekstra, ntar kalo sudah tua sudah beda lagi mi " ucap suamiku sambil tersenyum.
Aku hanya manggut manggut menanggapi ucapan suamiku.
" lagian tuh mi banyak para suami yang bersikap aneh aneh tu gara gara kebutuhan yang satu itu nggak terpenuhi " lanjutnya.
" mulai ya mulai ya " sahutku sambil meletakkan martabak sisa gigitanku lalu kupandangi wajah suamiku tanpa ekspresi.
" yaaa, papi kan jujur ngomongnya sama mami, yakinlah papi tu hanya cinta sama mami, hanya sayang sama mami karna mami tu istri sholehahnya papi " rayu suamiku sambil memandangku penuh senyum menggoda. Aku paling nggak tahan kalo liat ekspresi suamiku seperti itu. Kulanjutkan menghabiskan sisa martabak yang tadi kuletakkan.
" trus trus " lanjutku sambil menoleh kearah suamiku
" yaaa mami adalah orang yang paling mengerti apa yang papi mau " ucapnya sambil merengkuhku dan menciumi puncak kepalaku.
Sesuai pesan ibu mertuaku setelah kami resmi menikah dulu. ''Sekarang telah berpindah tanggung jawab dari ayahmu ke suamimu, Sekarang suamimu akan menjadi ladang syurgamu, layani dia dan hormati dia sebagai mana mestinya. Jika kelak suatu saat suamimu sedang marah cukup hadapi dia dengan diam dan tetap layani kebutuhannya. Kalo dia berani bersikap kasar menyakiti fisik ataupun menyakiti hatimu, tolong sampaikan pada ibu. Walaupun dia putra kandung ibu, tapi ibu tak pernah mengajarinya bersikap kasar terhadap wanita. Ibu wanita, kamu juga sama. Ibu sudah cukup berpengalaman berumah tangga. Konflik itu pasti ada, tapi bukan berarti harus diselasaikan dengan kekerasan. Ibu juga tidak rela kalo menantu ibu disakiti oleh suaminya".
Alhamdulillah tak terasa sudah hampir lima belas tahun kami menikah dan dikaruniai.tiga orang anak. Selama perjalanan pernikahan kami, kami juga pernah dihadapkan pada kesalah pahaman pada pasangan, konflik ekonomi dan juga krisis kepercayaan. Alhamdulillah juga selama menghadapi smua itu suamiku tak pernah main tangan. Kalo sedang emosi pernah juga suamiku meluapkan dengan kata kata kasar dan sesuai pesan ibu mertuaku, aku akan menanggapinya dengan dia, tapi untuk kebutuhan makan, menyiapkan pakaian tetap kulakukan seperti biasanya. Lama lama semakin bertambah usia pernikahan kami pola menangani emosi berubah. Jadi kalo suami lagi emosi dia akan meluapkannya dengan diam dan tidur. Sama halnya dengan diriku, yang tadinya aku akan diam dirumah berubah aku jadi lebih seneng beraktifitas keluar rumah. Lebih seringnya sih, pergi belanja. Kadang pergi sendiri kadang juga ngajak simbok. Yang penting aku bisa senam wajah alias bisa mengekspresikan banyak senyum.
Malam semakin larut, ulah suamiku semakin genit saja. Sebelum semakin berlanjut ke adegan plus plus aku pamit beranjak untuk menutup dan mengunci smua pintu dan jendela. Setelahnya pergi kedapur untuk ambil air minum sekalian mengecek keadaan simbok dan kalila. Ternyata mereka sedang bercengkerama sambil menonton tv. Aku pamit mau tidur sama mereka juga ngasih tau kalo pintu dan jendela depan sudah kukunci. Kalo tidak aku yang melakukan maka simbok yang akan melakukan.