Part 13

1183 Words
Bara mendudukkan Anne di kursi di bagian luar cafe khusus kantornya. Saat itu keadaan cafe masih sepi karena memang jam sarapan sudah lewat, beberapa karyawan sudah hampir semuanya sibuk dengan pekerjaannya. Jam makan siang pun masih sekitar dua jam lagi.  Anne mengusap-usap pergelangan tangannya yang memerah karena cengkeraman tangan Bara memang sangat kencang tadi. Bara terkadang memang bersikap dingin, tapi baru kali ini ia melihat pria itu bersikap kasar padanya. Ia memang sering menggodanya tapi Bara tidak pernah berkomentar apalagi main fisik seperti saat ini. Jadi apakah ini karena sekretaris barunya itu? Memangnya apa yang sudah mereka lakukan sampai Bara terlihat sangat melindungi Camila? "Kamu akan menyesal telah melakukan hal kasar begini padaku, Bar!" desis Anne dengan tatapan sinisnya. Bara mengusap rambutnya ke belakang dengan tampang kesal. "Jika aku tidak mencegahmu, aku tahu kamu akan melukai Camila. Bahkan tadi kamu mendorongnya. Kamu tidak bisa seenaknya, An." "Kenapa? Kamu marah karena aku mendorongnya? Memangnya dia siapanya kamu? Dia hanya sekretarismu, Bar. Bawahan kamu!" "Jaga mulut kamu, An!" Bara mengacungkan telunjuknya tepat di depan wajah Anne sampai membuat gadis itu terkejut dan memundurkan kepalanya dengan nyali yang mulai ciut.  "Kamu benar-benar lupa dengan apa yang aku katakan tempo hari ya? Sepertinya kamu benar-benar bodoh, memilih wanita rendahan itu dan mengorbankan perusahaan kamu." Anne tersenyum sinis sembari menatap angkuh pria di hadapannya. Bara mendengus nafasnya dengan kasar. Ia tahu jika Anne akan mengancamnya dengan kata-kata yang sama. Saham dan pembatalan kontrak kerja secara sepihak. Pria itu memutar bola matanya dengan malas. "Ya, terserah apapun yang mau kamu lakukan, lakukanlah! Aku tidak peduli." Anne membelalakkan matanya, semakin tak percaya karena Bara mulai berani melawannya dan ancamannya tidak mempan. Tapi gadis itu tidak gentar, ia malah memajukan wajahnya, mendekat pada Bara. Pria itu sama sekali tidak menghindar, Bara malah menatapnya seolah menantang. Seharusnya sebentar lagi ia bisa mencium pria itu, hal yang paling ia inginkan selama ini. Namun hal yang Bara ucapkan, seketika membuat dirinya membeku di tempat. "Aku akan menikahi Camila segera. Aku tidak peduli dengan yang akan kamu lakukan setelah mengetahui hal ini. Tapi jangan pernah mengganggu calon istriku," ucap Bara yang terdengar dingin itu.  Anne melotot tak percaya. Jadi Bara akan menikahi Camila? Wanita yang baru menjadi sekretaris pria itu? Tapi kenapa? Apa hebatnya Camila? Dia wanita yang sangat biasa. Sangat tidak sebanding dengan dirinya. "Dia pasti sudah menggodamu, kan? Iya kan?" Bara mengalihkan pandangannya ke arah lain, menjauhkan dirinya dari Anne. Ia memilih untuk tidak menjawab pertanyaan gadis itu dan malah berbalik, pergi meninggalkan Anne yang berdiri sembari mengepal tangannya.  "Ini nggak bisa dibiarkan. Lihat saja nanti. Pilihanmu akan menghancurkan perusahaanmu, Bar. Lihat saja!" ................. Bara menghela nafas ketika pada akhirnya ia bisa mengatakan semua itu pada Anne, soal dirinya yang akan segera menikahi Camila. Demi menghempaskan harapan Anne yang sangat ingin menikah dengannya. Tentu saja Bara tidak mau. Dilihat dari mana pun, gadis seperti Anne sangat tidak cocok jika berdampingan dengannya. Gadis itu juga terlalu belia. Perbedaan umur mereka hampir tujuh tahun. Ditambah sifat Anne yang kekanakan, sangat membuatnya muak. Begitu sampai di lantai lima, pria itu membenarkan posisi dasinya dan berjalan menuju ruangannya. Ia melihat Camila sedang sibuk dengan pekerjaannya walau detik kemudian gadis itu menyadari kehadirannya dan menatapnya seolah bertanya. Bara hanya menatap gadis itu dan memberi kode agar Camila masuk ke ruangannya. Camila mengangguk lalu beranjak dari tempatnya. Ia berjalan di belakang Bara, masuk ke dalam ruangan pria itu.  "Semua sudah selesai, aku sudah mengatakan padanya soal rencana pernikahan kita," ucap Bara yang melonggarkan dasinya dan duduk di sofa panjang yang ada di dalam ruangannya. "Lalu? Bagaimana dengan perusahaanmu?" tanya Camila yang menunjukkan kekhawatirannya. "Duduklah dulu," ucap Bara sembari menepuk-nepuk pahanya membuat Camila mengernyitkan keningnya dengan bingung. "Kenapa malah diam?" Camila pun akhirnya duduk tapi sebelum ia menempelkan bokongnya di samping Bara, pria itu malah menariknya hingga ia jatuh terduduk di atas pahanya. "Bar." "Hmm?" Bara menatap kedua mata Camila dari dekat. "Seharusnya kamu menerima tawaran pindah kesini sejak dulu. Kamu tahu? Aku merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan gadis secantik kamu," ucapnya lagi yang membuat kedua pipi gadis di depannya memerah seperti tomat. "Jangan menggodaku." Camila memalingkan wajahnya. "Ini serius. Aku tidak pernah seyakin ini untuk mengajak seseorang menikah." "Memangnya sebelumnya kamu belum punya kekasih?" tanya Camila yang terdengar ragu. Mana mungkin pria setampan dan sekaya Bara tidak pernah pacaran. Mungkin saja mantannya selusin di luar sana, belum lagi gebetannya. Mereka juga pasti bukan wanita biasa, pasti cantik-cantik. Belum apa-apa, Camila sudah minder duluan. "Punya kok." Tuh kan. Hati Camila mencelos duluan. Padahal ia juga punya mantan kekasih, hampir menikah malah. "Namanya Rene. Dia teman kuliahku dulu." "Lalu?" Camila baru sadar jika ia dan Bara belum pernah saling bercerita soal diri mereka atau pun masa lalu mereka. Ia tidak tahu apapun soal pria di depannya ini, pria yang katanya akan menikahinya. Begitu pun Bara yang tidak tahu apa-apa soal dirinya dan kehidupannya. "Kami hampir menikah, tiga tahun yang lalu." Deg! Kenapa kejadian yang mereka alami sama? Camila dan Bara sama-sama hampir menikah dengan kekasih mereka. Apa ini yang dinamakan takdir? "Lalu dia kabur tepat di hari pernikahan kami. Aku tidak bisa menemukan dia dimana pun. Sampai tak lama setelah pernikahanku batal setelah semuanya telah kami siapkan, berita soal pernikahannya dengan temanku tersebar. Dia kawin lari dengan temanku. Membuat kedua orangtuaku shock dan meninggal tak lama setelah itu." Bara bercerita sembari menatap Camila dalam-dalam, seolah menunjukkan rasa sakitnya yang ia rasakan dulu. Mungkin juga berharap jika kejadian itu tidak akan terulang untuk yang kedua kalinya.  "Ya ampun." Camila menutup mulutnya sendiri, shock dan tidak percaya dengan apa yang sudah Bara alami. Hampir mirip dengan yang ia alami. Hampir. "Sudahlah. Itu hanya masa lalu. Sepertinya memang aku dan dia tidak berjodoh." Bara mengedikkan bahunya. "Kan sebentar lagi aku akan menikah denganmu. Iya, kan?" Camila mengerucutkan bibirnya. "Tapi kamu bahkan belum mengatakan soal perasaanmu atau melamarku. Bagaimana aku tahu jika kamu benar akan menikahiku? Jangan-jangan kamu hanya membual." Bara tergelak lalu mengusap-usap puncak kepala Camila dengan lembut. "Aku akan segera melamarmu. Tenang saja. Aku juga memikirkannya kok. Pernikahan itu kan sesuatu yang sakral, harus disiapkan dengan baik." "Aku ingin jujur padamu," ucap Camila yang agak ragu. Ia hanya ingin jujur soal dirinya juga setelah Bara dengan senang hati menceritakan masa lalunya yang kelam. "Apa?" Bara menunggu dengan sabar. "Alasanku akhirnya menerima tawaran pindah ke sini adalah karena pernikahanku juga batal." "Benarkah?" Bara terlihat terkejut. Mungkin karena kemiripan kisah di antara mereka. Apa karena hal ini juga yang membuatnya begitu yakin untuk menikahi Camila? Karena ia dan gadis ini punya kesamaan? Atau ini juga hadiah untuk mereka yang pernah mengalami patah hati yang begitu kuat. Camila mengangguk lemah. "Ternyata dia menghamili wanita lain dan akhirnya mereka menikah. Menggantikan aku yang saat itu sudah siap untuk akad bersamanya. Terkadang jodoh itu memang unik. Ketika kita merasa sudah sangat cocok dengan seseorang hingga hampir menikah, lalu detik kemudian Tuhan merubah semuanya dengan mudah. Merubah semua rencana yang sudah jauh kami persiapkan. Dan ternyata dia bukan jodohku." Ia tersenyum getir membayangkan masa lalunya yang belum lama ia alami itu. Terkadang ia juga ragu apakah ia bisa menikah dengan Bara setelah merasakan trauma dua bulan yang lalu? Tapi melihat Bara seyakin ini, ia juga jadi mendapat kekuatan untuk yakin juga terhadap perasaan dan hubungan mereka.  "Jadi, kita punya kesamaan ya?" goda Bara dengan senyum jahilnya. "Sama-sama pernah batal menikah maksudmu? Apa itu sesuatu yang bagus?" Camila tersenyum geli. "Ya. Tidak buruk juga."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD