Part 15

1168 Words
"Aku mau kamu menghancurkan seorang gadis. Tapi tidak sekarang. Aku akan membiarkannya bahagia untuk beberapa saat sebelum aku membuatnya hancur sehancur-hancurnya," ucap gadis dengan rambut yang di cat pirang itu. Ia berbicara dengan seorang pria tampan, berwajah campuran dengan hidung mancung serta tatapan mata teduhnya. Dagunya yang terbelah juga bibirnya yang mirip ceri, membuat ketampanannya seakan tak ada bandingannya.  Pria tampan itu hanya menatap sahabatnya dengan prihatin. Ia tahu secinta apa sahabatnya ini pada pria yang telah membuatnya patah hati begitu parah. Ia juga pernah merasakannya, tepatnya ia bukan terluka atau dilukai, ia hanya pernah memendam rasa cintanya begitu lama sebelum takdir memisahkan mereka dan waktu yang membuatnya kehilangan jejak gadis itu. "Baiklah. Apapun asal membuatmu lega. Aku akan melakukannya." "Aku akan pindah ke Paris. Mungkin aku akan memantau dari jauh dan menertawakan kehidupan mereka yang akan aku buat menjadi drama yang buruk. Seperti buku-buku yang aku tulis. Mereka akan jadi bonekaku. Lihat saja," gadis itu menyunggingkan senyum menyeringai sembari menatap pemandangan danau di depannya.  "Kapan kamu akan kembali?" tanya pria itu yang menyayangkan jika sahabatnya malah pindah ke luar negri hanya karena pria yang melukainya. "Entahlah. Mungkin aku bisa tinggal di Paris saja, mencari bule tampan." Gadis itu tersenyum centil sembari mengedipkan sebelah matanya. "Hei! Apa aku kurang tampan untukmu?" Pria itu mengusap-usap dagunya. Gadis itu menatap si pria dengan tampang menilai-nilai. "Tampan... hanya hatimu milik gadis lain. Aku tak suka itu." Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia memang tahu bagaimana hati sahabatnya yang hanya mencintai satu gadis, gadis yang bahkan tidak pernah ia kenali. Karena gadis itu hanya teman masa kecil pria itu. Sementara ia baru mengenal sahabatnya ini baru lima tahun yang lalu, saat OSPEK di kampus mereka. "Sial. Berbahagialah dimana pun kamu berada. Kamu pantas bahagia bersama pria yang bisa menerimamu." Pria itu mengusap-usap puncak kepala gadis itu dengan lembut dan melempar senyum dengan tulus. "Ya, tapi aku akan lebih bahagia jika hidup mereka hancur." ............ "Anne tidak menghubungimu?" tanya Camila, penasaran dengan keberadaan gadis angkuh itu yang seperti hilang ditelan bumi.  Sementara pria yang ditanya hanya duduk bersandar di sofa kulit sembari membaca majalah bisnis di tangannya. Bara meletakkan majalahnya ke atas meja dan menatap Camila yang baru datang sembari membawakan kopi untuknya. Kepala pria itu menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan gadis yang dengan mudah mengambil hatinya ini. "Tidak. Memangnya kenapa? Dia kan sudah bukan bagian dari penerbitan kita lagi. Untuk apa dia masih menghubungiku?" tanyanya balik. Camila menghela nafas. "Aneh saja. Dia tidak terlihat dimana pun, bahkan sosial medianya ditutup semua. Apa dia menyerah begitu mudah?" Ia tampak cemas. "Memangnya kamu mau dia semakin menjadi dan menghancurkan rencana pernikahan kita?" Bara menaikkan sebelah alisnya. "Tidak sih." Camila menggeleng pelan. "Tapi bukankah justru lebih mengerikan jika dia menghilang begini? Apa dia sedang merencanakan sesuatu yang buruk?" Perasaannya jadi tidak tenang. "Duduklah." Bara menepuk tempat kosong di sampingnya. Camila menghampirinya dan duduk di sebelah pria itu. Bara menekan tombol remot dan menyalakan TV di dalam kamarnya. Mereka memang sering tidur bersama.  Entah itu hanya sekedar tidur atau melakukan permainan panas sebelum tidur. Lebih menyebalkannya lagi adalah ketika Bara selalu memasukkan cairan kenikmatannya ke dalam tubuh Camila, walau memang sampai saat ini Camila tidak merasakan perubahan apa-apa di dalam tubuhnya. Bahkan beberapa hari yang lalu ia baru selesai jadwal bulanannya yang memang selalu rutin. Jadi jika ada masalah atau... kehamilan, Camila jelas akan mengetahuinya lebih cepat. "Kamu tenang saja." Bara mengusap puncak kepala Camila dengan lembut. "Aku tidak akan membiarkan Anne merusak hubungan kita dan rencana kita." Camila mendesah pelan, menyandarkan kepalanya di d**a bidang milik Bara yang hanya mengenakan kaus lengan pendek yang tampak pas dengan tubuhnya. "Lalu kapan kita mulai serius membicarakan soal rencana pernikahan kita?" "Sepertinya ada yang tidak sabar." Bara tersenyum kecil dan mencium pipi Camila dengan gemas. Camila mengerucutkan bibirnya dengan sebal. "Untuk apa hanya dibicarakan? Kita akan langsung melakukan persiapannya." "Benarkah?" Camila tampak kaget walau tidak meragukan segala ucapan Bara yang selalu tiba-tiba itu. Ia yakin Bara serius padanya apalagi setelah banyaknya waktu yang mereka lalui bersama.  Bara mengangguk dengan tatapan yang tidak meragukan sama sekali. "Minggu depan kita ambil cuti beberapa hari untuk menemui orangtuamu di Malang. Om Akbar akan mewakili sebagai keluargaku untuk melamar kamu. Dia bersedia datang walau setelah itu langsung pulang lagi ke Bogor. Bagaimana?" "A-apa? Minggu depan kamu akan melamarku? Mendadak sekali." Camila tampak shock, lagi. "Loh memang seharusnya begitu, kan? Aku tidak tahu apa orangtuamu akan merestui kita, walau aku optimis dengan diriku. Baru setelah itu kita persiapkan pernikahan kita, Sayang. Bagaimana?" "Aku belum mengabari orangtuaku." Camila mencebik karena Bara yang tidak memberitahu rencana ini sejak awal. Walau memang rencana pernikahan mereka memang mendadak. Bagaimana kalo orangtuanya berpikiran negatif dengan anak perempuannya yang sekarang tinggal jauh dari mereka? Ya, meski memang pikiran negatif mereka benar. Tapi setidaknya Camila tidak sedang dalam keadaan hamil. Ia tidak tahu bagaimana reaksi kedua orangtuanya nanti jika tahu minggu depan dirinya akan dilamar pria lain. "Masih ada waktu satu minggu kok. Lagipula tidak perlu penyambutan yang meriah." "Tetap saja, tidak meriah pun pasti satu kampung akan heboh saat tahu aku dilamar pria lain setelah belum ada satu tahun gagal menikah."  Bara tergelak lalu mengacak-acak rambut Camila dengan gemas. "Bukankah itu bagus untuk membungkam mantan calon suamimu yang sudah mengkhianatimu? Dia akan menyesal pastinya karena tahu calon suami barumu sesempurna diriku." Camila berdecih. "Dasar! Baiklah. Aku akan segera mengabari orangtuaku. Tapi kamu tanggung sendiri jika mereka berpikiran buruk tentang hubungan kita atau menyambutmu dengan wajah masam." Bara mengangguk-angguk mengerti. Ia juga tahu apa yang menjadi kekhawatiran di dalam kepala calon istrinya. Ia juga sudah menyiapkan diri untuk itu. "Tenang saja. Mereka tidak akan berani mengusirku dan Om Akbar. Malah mereka akan menyayangi calon menantunya ini." "Jangan terlalu kepedean!" ................ Benar saja dugaan Camila, ketika ia menelpon kedua orangtuanya dan mengabari mereka soal rencana Bara yang akan datang melamarnya minggu depan, mereka terkejut. Terutama ayahnya, pria paruh baya itu sampai bertanya berkali-kali padanya soal apa yang terjadi hingga dalam waktu dekat dan begitu mendadak malah mau dilamar pria lain. Mereka sampai mengira dirinya hamil duluan.  Camila berkali-kali meyakinkan jika keadaannya baik-baik saja disini dan tidak ada hal yang seperti mereka takutkan terjadi. Mungkin mereka masih belum bisa percaya tapi akhirnya mereka mengiyakan dan akan membuat acara kecil untuk lamaran anak mereka yang kedua kalinya. Mereka hanya berharap jika pria yang akan melamar anak mereka benar-benar pria yang baik dan tidak akan membuat keluarga mereka malu lagi. Camila berkali-kali meyakinkan jika Bara adalah pria yang baik, bahkan atasan di kantor barunya. "Tuh kan. Mereka mengira aku sudah hamil duluan," ucap Camila setelah teleponnya sudah berakhir. Ia sengaja menelpon orangtuanya di depan Bara dan dinyalakan speakernya agar pria itu bisa mendengar respon calon mertuanya.  Bara tersenyum menenangkan. "Sudahlah. Yang penting persiapkan diri karena seminggu ini kita akan sibuk menyelesaikan pekerjaan sebelum ditinggal cuti. Aku berencana cuti empat hari agar kita bisa liburan juga di tempat tinggalmu." Camila tersenyum senang. Ia memang merindukan kampung halamannya dan berbagai destinasi wisata yang bagus disana. Padahal rencananya ia akan pulang satu bulan sekali ke Malang tapi karena pekerjaannya yang padat dan tempat tinggalnya yang sangat jauh dari sini, Camila jadi belum sempat pulang. Tidak mungkin ia memanfaatkan sabtu minggu untuk bolak balik Malang- Jakarta. Sangat melelahkan. "Baiklah! Aku akan menunjukkan tempat-tempat bagus di Malang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD