Part 18

1137 Words
"Rene?" Bara hampir saja menjatuhkan keranjang belanjanya jika saja ia tidak segera mengendalikan dirinya sendiri. Setelah tiga tahun lebih ia tidak melihat wajah Rene, tepatnya sejak berita pernikahan gadis itu dengan sahabat baiknya. Dan sekarang gadis itu berdiri tepat di depannya dengan keadaan yang sama seperti beberapa tahun yang lalu. Tidak ada perubahan pada wajah dan tubuh Rene. Dia malah terlihat lebih cantik. Rene tampak tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang rapih juga lesung pipi gadis itu yang tidak terlalu dalam. "Kebetulan sekali kita bertemu di sini," ucapnya tanpa merasa bersalah sedikit pun. Padahal gadis itu telah meninggalkannya tepat di hari pernikahan mereka, hari yang seharusnya menjadi hari yang paling membahagiakan untuk mereka berdua. Sayangnya hari itu malah berubah menjadi bencana setelah gadis itu kabur bersama pria lain yang tak lain adalah sahabat dari Bara.  Sayangnya, Bara yang dulu merasa begitu benci pada Rene dan tidak pernah bertemu gadis itu lagi, ia harap suatu saat ketika bertemu lagi dengan Rene, ia bisa menunjukkan kekecewaannya pada gadis itu atau bahkan kemarahan. Sayangnya yang saat ini ia tunjukan adalah senyuman pada gadis itu, seakan mengerti dengan tindakan seenaknya Rene dulu padanya dan pada keluarganya.  "Kamu apa kabar?" tanya Rene, masih dengan senyumnya yang seperti dulu. Padahal Rene seumuran dengannya. Sama-sama sudah menginjak umur tiga puluh tahunan. Tapi wajah Rene sama sekali tidak berubah. Dia tetap cantik. "Baik. Kamu sendiri?" balas Bara dengan suara yang dibuat sebiasa mungkin meski hatinya kembali berdebar saat ini. Rene hanya menatap Bara dengan sendu. Gadis itu memperhatikan sekitarnya yang sepi. Hanya ada satu kasir yang berjaga di belakang meja dengan mata yang mengantuk. Karena memang sepagi ini dengan kondisi rest area yang sepi, pengunjung di minimarket pun juga sepi. Hanya ada mereka berdua di sini. "Aku merindukanmu," ucapnya sembari mendekat ke arah Bara. Menatap pria itu dengan sensual, mereka tengah berdiri di antara rak-rak makanan sehingga posisi mereka tidak terlihat.  Bara merasa jantungnya berdebar begitu cepat ketika Rene menjadi begitu dekat dengannya. Apalagi pakaian yang Rene kenakan memiliki bagian d**a yang rendah sehingga memperlihatkan belahan d**a gadis itu yang tadi hanya tertutup dengan sweeter tapi perlahan gadis itu buka di depannya. "Maaf." Ia memalingkan wajahnya. "Aku akan segera menikah." Wajah Rene mendadak berubah saat mendengar kalimat yang Bara ucapkan selanjutnya. "Sama siapa? Bukannya kamu nggak bisa move on dari aku?" tanyanya dengan cepat. Bara mendengus kesal. "Kamu sendiri yang meninggalkanku tepat di hari pernikahan kita, tentu saja aku bisa melupakanmu. Kenapa tidak?"  "Kamu nggak tahu keadaan yang sebenarnya, Bar. Aku benar-benar tersiksa bersama Dion," ucap Rene dengan wajah yang memelas. Ia mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Bara dengan erat.  "Maksud kamu? Lalu kamu sedang apa di sini sendiria?" Rene menatap sekelilingnya lagi. "Aku sebenarnya bersama Dion. Dia ada pekerjaan di Malang jadi aku diajak. Dia tidak membiarkanku di rumah sendirian karena takut aku menemuimu. Tapi untunglah Tuhan sangat baik padaku sehingga aku bisa bertemu denganmu." "Aku tidak mengerti." Bara menggeleng pelan.  "Maukah kita bertemu nanti di Malang? Aku akan menceritakan yang sebenarnya. Aku tidak memintamu untuk kembali padaku, aku hanya ingin menjelaskan semuanya. Sebelum kamu... menjadi milik gadis lain," ucap Rene yang kembali menempelkan dadanya pada d**a bidang Bara, merasakan jantung pria itu yang berdebar begitu cepat. Gadis itu sangat yakin jika Bara masih memiliki rasa yang sama padanya dan pria itu pasti akan menemuinya. "Sejujurnya, hanya kamu pria yang bisa memuaskan aku." Ia mengedipkan sebelah matanya ke arah Bara sembari menuntun tangan Bara ke arah dadanya yang kencang lalu berbalik dan meninggalkan pria itu.  Bara hanya mematung di tempatnya ketika Rene membayar minumannya di kasir lalu keluar dan masuk ke dalam mobil BMW yang terparkir tak jauh dari minimarket. Lalu mobil itu melaju pergi dari sana. Ia pun segera membayar belanjaannya dan kembali ke mobilnya. Ia sendiri tak mengerti dengan apa yang terjadi.  Apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Rene dan Dion? Apa yang akan Rene katakan padanya?  Malang. Bahkan mereka akan ke tempat yang sama. Apa memang semua ini sudah takdir untuk mereka berdua? Bara tidak bisa mengelak saat Rene berhasil membuat darahnya berdesir dan merasa ingin menerkam gadis itu seperti dulu. Ya, mereka berdua memang biasa melakukannya dulu saat masih menjadi sepasang kekasih. Dan anehnya, Rene tak kunjung hamil meski mereka sering melakukannya. Karena memang Rene yang berinisiatif mengkonsumsi pil KB untuk mencegah kehamilannya.  Bara pun berjalan dengan cepat menuju mobilnya yang terparkir dekat Pom bensin rest area. Ketika ia masuk ke dalam mobilnya, Camila baru saja bangun dan menatapnya. "Maaf ya kalo lama." Camila mengangguk sembari tersenyum kecil. Gadis itu berbaring di jok motor dengan wajah yang mengarah ke Bara. "Nggak apa-apa. Kamu udah nggak ngantuk sepertinya." Ia mendapati wajah Bara yang lebih segar dari sebelum pria itu pergi. Mungkin udara malam di luar berhasil membuat rasa kantuk pria itu menguap. Hanya kamu pria yang bisa memuaskan aku, Bar.  Ucapan Rene tiba-tiba terngiang-ngiang di dalam kepala Bara. Membuat adrenalin pria itu tertantang.  Bara menatap Camila yang tampaknya masih mengantuk. Ia tidak ingin Camila meninggalkannya seperti yang Rene lakukan dulu. Ia ingin membuat Camila tidak bisa lepas darinya sampai gadis itu tidak bisa jauh-jauh darinya. Jika Rene bahkan masih mengira hanya dirinya yang bisa memuaskan gadis itu, maka Camila pun harus merasa begitu juga.  Bara langsung menutup pintu mobil dan mematikan lampunya sehingga sekeliling mereka tampak gelap. Untungnya rest area memang sepi. Bahkan mobilnya terparkir jauh dari mobil lain. Kaca mobilnya memang dibuat gelap sehingga dari luar aktifitas mereka tidak akan jelas terlihat.  "Mas Bara?" suara lembut Camila membuat sesuatu yang sejak tadi terdesak memaksa ingin keluar dari tempatnya. Apalagi Camila memanggilnya dengan sebutan 'mas', yang terdengar sangat lembut.  Tanpa menunggu lagi, Bara langsung melumat bibir Camila dengan ganas sembari tangannya meremas d**a gadis itu dengan kuat. Camila sepertinya sedikit kesakitan tapi juga merasakan kenikmatan yang luar biasa tapi mulutnya tertahan dalam mulut Bara sehingga dia tidak bebas mendesah. Posisi Camila yang terbaring di jok mobil dengan seatbelt yang masih terpasang pun membuat gadis itu tidak bisa bergerak bebas. Tangan Bara kembali menjelajah, menarik ke atas dress yang Camila kenakan dan memasukkan satu jarinya ke dalam l**************n Camila yang telah basah. "Mas... " Camila mendesah pelan ketika tangan Bara mengocoknya dengan sangat cepat apalagi ketika satu jari milik Bara ikut masuk ke dalam sana, membuatnya merasakan nikmat yang begitu kuat sampai ia tidak bisa menahannya. Desahannya semakin kuat saat ia sudah tidak bisa menahannya lagi, membuat Bara tersenyum kecil, merasa puas karena berhasil memuaskan kekasihnya. Wajah Camila yang memerah membuat Bara gemas. Pria itu pun membuka resleting celananya dan melepaskan seatbelt yang Camila kenakan. Gadis itu masih lemas di tempatnya tapi Bara memaksa Camila untuk bangun dan mengarahkan wajah gadis itu ke kejantanannya.  Walau tidak pernah melakukannya, Camila mengerti apa yang Bara inginkan. Gadis itu pun mengulum milik Bara yang sudah berdiri tegap dan keras dengan urat-urat yang timbul di sana. Meski tidak terbiasa dan ingin muntah, Camila melakukannya. Apalagi ketika ia melihat wajah Bara yang tampak menikmatinya. Hingga tak lama pria itu mengeluarkan cairan kenikmatannya tapi tangannya tidak melepaskan kepala Camila, memaksa gadis itu untuk menelannya.  "Ah... kamu memang pintar, Sayang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD