Jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Asri lelah menangis di kamarnya sendirian. Gadis itu sudah mengenakan kembali piyama tidurnya yang baru. Perlahan, gadis itu pun berjalan mendekati pintu kamarnya dan mengunci pintu itu dari dalam. Di balik kegundahan hatinya, Asri tetap berusaha bangkit dan melepas sprei menjijikkan yang ada berkas cairan Deden. Asri menyentak sprei itu dengan kasar. Sayangnya, bercak darah dan kotoran dari cairan itu, tembus ke ranjangnya yang berwarna putih tulang. Asri masuk ke kamar mandi, mengambil sabun dan sikat gigi. Gadis itu berusaha membersihkan noda-noda itu sendiri. Ia melakukannya seraya menangis. Asri tidak ingin siapa pun tahu dengan apa yang sudah menimpa dirinya hari ini. Setelah memastikan tidak ada lagi bercak noda di ranjangnya, A

