“Senang berkenalan dengan mbak Riska. Asri berharap lain waktu kita bisa bertemu lagi.” Asri mengulurkan tangannya. Riska membalas, “Senang juga berkenalan dengan kamu, Asri. Mbak harap, Asri jangan bersedih lagi. Kapan-kapan kita bertemu lagi.” “Iya, Mbak.” “Kita berpisah di sini ya. Suami mbak sudah menjemput.” “Iya, Mbak. Jemputan Asri juga sudah datang.” Asri dan wanita yang bernama Riska itu pun berpisah. Asri lega, ia kembali bisa menghirup udara tanah kelahirannya. Asri sengaja menyuruh sopir pribadi Reinald menjemput tanpa diketahui oleh Reinald karena ia ingin memberi kejutan kepada ke dua orang tuanya. “Kang Deden, Makasih ya sudah mau menjemput Asri.” Asri menyapa ramah sopir pribadi ayahnya. “Jangan begitu, Non. Bukankah itu sudah kewajiban akang untuk memastikan putri m

