Aulia masih larut dalam haru. Ia dan Rossa juga beberapa rekan lainnya, sedang menikmati kebahagiaan mereka. Namun, terlihat jelas yang paling berbahagia di sini adalah Aulia. Sebab gadis itu tidak hanya akan menggapai cita-citanya untuk menjadi arsitek hebat tapi juga ia akan mencari ibu kandungnya di tanah kelahirannya—Bandung. Di tengah kebahagiaan Aulia, tiba-tiba Angga datang menghampiri, “Aulia, selamat.” Pemuda itu mengulurkan tangannya. “Makasih, Ngga.” Aulia membalas uluran tangan Angga. “Eh, Ngga, aku lihat nama kamu juga ada di mading sekolah. Kamu juga lolos di ITB, jurusan ... haduh, jurusan apa ya? Aku lupa tadi.” Rossa mengernyit seraya berpikir keras. “Iya, Alhamdulillah aku lolos jurusan teknik informasi.” “Waw ... hebat, Angga. Kamu bakal jadi ahli pemrograman. Nanti

