Sepasang manusia yang sedang berkasih sayang itu larut dalam haru dan rasa cinta yang mendalam. Saling melengkapi, saling menjaga, walau terjadi kesalah pahaman di antara mereka. “Sayang, jam berapa kita akan pergi?” Andhini mengeluarkan kepalanya dari rangkulan Reinald. Netranya menatap ke jam bulat yang tergantung indah di tempatnya. “Aku akan segera bersiap, sebab kemarin janjinya sekitar jam sembilan atau jam sepuluh pagi.” “Ya sudah, bersiaplah. Mas akan tunggu di luar. Mas akan ke kamar Andre dulu, mana tahu putra kita sudah bangun.” Andhini mengangguk, “Iya, Mas.” Reinald memberikan sebuah kecupan hangat di pipi Andhini sebelum ia benar-benar melangkah meninggalkan kamarnya. Ia ingin memberi ruang untuk Andhini bersiap dan ia juga ingin bercengkrama sejenak dengan putranya.

