Petang sudah tiba. Jam kantor juga sudah berakhir, hanya ada beberapa karyawan tinggal karena hendak lembur. Dewi sudah membereskan kubikelnya, menyandang tasnya ke bahu kanannya. Lantas mendial nomor Aswat, suaminya itu sudah berjanji akan menjemputnya pulang. “Mas, kamu sudah di mana?” tanya Dewi ketika sambungan telepon sudah terhubung, kakinya terus melangkah hingga kini dia sudah tiba di lobby kantor. “Sudah di depan kantor kamu. Kamu sudah mau ke luar?” Aswat balik bertanya. “Iya, Mas. Tunggu bentar ya,” sambungan telepon terputus, Dewi melangkah sedikit lebar, meski dia memakai high heels—lamanya. Dewi tersenyum lebar ketika mendapati Aswat sudah ada di depan kantor. Lelaki itu berdiri di samping motor. “Mas!” Dewi berlari kecil menghampiri suaminya itu. Rasa lelahnya sedikit b

