Tatapannya menyendu, Aswat hanya bisa memandangi wajah damai anak-anak yang sedang tertidur. Harapan dua anaknya tidak bisa terpenuhi malam ini. Akan tetapi, untuk ke depannya bisa tercapai nantinya. Aswat menghela napas panjang, menunduk dan mengecup dahi anak-anak secara bergantian. Aswat keluar dari kamar anak-anak. Kemudian mendaratkan bokongnya ke sofa, punggungnya bersandar. Sudah hampi jam 10 malam, tapi tidak ada tanda kepulangan Dewi. Aswat berulang kali sudah mengembuskan napas bosan, sudah terlalu lama dia menunggu Dewi. Bahkan sudah ada tiga batang nikotin yang dia hisap, berharap pening di kepalanya hilang begitu saja. Sebab, memikirkan keberadaan Dewi sangat menguras tenaga sekali. "Dewi kamu sudah lupa sama rumah kamu, huh?" gumam Aswat, mematikan batang rokoknya yang suda

