Tidak ada yang berubah di dalam rumah ini. Foto-foto kebersamaan keluarganya dulu masih terpajang rapi di dinding, sesekali dia mengamati semua foto itu. Lalu tanpa sadar tersenyum tipis kala mengingat semua momen yang mereka lewati, terlarut dalam masa lalu kelam yang amat mewarnai dirinya. Hingga tak sadar kalau sekarang ia masih terluka, lukanya bahkan masih menganga lebar. Aswat menghela napas pelan. Menunduk menatap sarapan pagi ala kadar yang dia buat oleh tangannya sendiri. Saat begini, terkadang dia tak menyangka kalau dirinya sekarang hidup dalam kesepian yang amat mendalam. Mencoba menjali meski berat, mencoba bangkit meski susah, itulah dirinya sekarang. Tatapannya terpaku kala membuka pintu utama—niat hari hendak pergi kerja—tetapi malah tertegun melihat sosok di depannya itu

