OBSESIKU MEMBUATKU GILA

2430 Words
Obsesiku terhadap Tsany masih membabi-buta membuat aku makin tak bisa mengontrol apa yang akan aku lakukan kedepannya. aku terus memaksa Rafli Agar aku bisa bertemu dengan Tsany, iyaa rasanya aku tidak ingin orang lain selain Tsany . aku mulai menguntit Tsany, menurut Rafly Tsany bersekolah di sekolah swasta yang bonafid di Cikarang dan iya memberitahu dimana sekolah Tsany. sampai aku tak sadar bahwa sudah 3 hari aku membolos sekolah hanya untuk melihat di sekolah Tsany. akhirnya pada saat yang tepat, waktu itu di hari Jum'at aku melihat Tsany dan teman-teman nya pergi ke suatu tempat, dan aku pun berhasil untuk mengikuti mobil hitam honda jazz RS yang di tumpanginya, aku terus mengikuti kemana Tsany dan teman-temannya pergi bahkan aku langsung menelpon Rafli agar Rafli menemani ku. "Tutt...... tuutt..... Tuttt......" suara teleponku yang sedang menyambungkan "duh lama banget lagi angkat telpon nya" gumamku sambil menggerutu kesal. "hallo.... kenapa bro" akhirnya setelah beberapa kali menelpon, Rafli mengangkat telponnya. "dimana lu ?" tanya ku dengan tegas "disekolah, kenapa ada apa?" Rafli malah bertanya balik memastikan bahwa tidak ada apa - apa yang terjadi padaku. "sini fli, gue tunggu di MOI ( Mall of Indonesia ) ga pake lama gue udah mau sampe nih" perintahku pada Rafli, seolah Rafli pun tidak ingin bertanya banyak pada ku, lantas ia pun menjawab "gue meluncur, tunggu disitu nanti kasih tau aja elu dimana nya " "hm... oke" sambil ku menutup telpon ku. masih di perjalananpun membuat perasaan ku tak karuan. aku benar - benar sangat ingin bertemu dengan Tsany dan mengenalnya lebih jauh. lebih dari teman, ini baru aku rasakan ternyata Ini yang dinamakan cinta . baru kali ini kurasakan. tiap detakan jantungku yang makin tidak karuan bahkan nafasku yang terengah engah. Gelisah gundah gulana yang ku rasakan sangat lah mengganggu pikiran ku. aku mulai berbelok ke tujuan ku di mall of Indonesia, aku terus mengikuti mobil Honda jazz hitam yang di tumpangi Tsany dan teman - temannya. kami berputar - putar dan akhirnya kami mendapatkan tempat parkir di Basemant. turunlah Tsany dengan baju bebasnya yang membuat aku kaget oh, ternyata ia membawa baju ganti. aku terpukau untuk yang keduakalinya ,, bisa - bisa nya anak Sekolah Menengah Pertama membuat aku seperti ini seperti orang yang kerasukan setan. kaki nya yang jenjang tubuhnya yang tinggi semampai nan indah , serta perpaduan outfit kekinian yang membuatku enggan untuk melepaskan pandanganku terhadap nya. "Tuhann.... kapan ini berakhir" gumamku "aku harus mendapatkannya" sambungku sambil bergumam sendiri. dengan tas selempang berwarna peach itu dia pergi masuk ke dalam mall of Indonesia bersama kedua temannya lantas aku pun tak ingin kalah untuk terus menguntitnya. mengikuti kemana langkah nya pergi. sampai tiba akhirnya langkahku terhenti di depan tulisan "GRAMEDIA" "oh ternyata dia mau kesini" gumamku sampai saat itu teleponku berdering kriinggg~ ternyata Rafli menelpon "oitt..." ku angkat telpon itu " dimana bro? " tanya Rafly aku masih terdiam "gue udh di Mall of Indonesia nih" sampai lupa aku sedang dalam pembicaraan telpon bersama Rafli.. "oh... ohhh... di.... di... grraaa...mee..dia" jawabku terbata - bata "ealah yaudah tunggu disitu jangan kemana - mana" seolah yang tahu aku tidak bisa melakukan apa-apa aku hanya bisa terdiam kaku. haduh..... Toshiyuki Ryu Aldyan kamu ini pemuda yang payah. aku memang selama ini aku belum pernah berpacaran sama sekali. bahkan aku sangat kaku dengan gadis - gadis se usiaku bahkan aku tidak pernah menyapa ataupun mengobrol dengan gadis - gadis se usiaku. maka aneh jika aku merasakan hal yang aku anggap baru.... bahkan ibuku sendiri mengatakan bahwa aku ini tidak seperti lelaki lainnya, sampai-sampai aku di tuduh bahwa aku suka dengan sesama jenisku, aku hanya tersenyum jika ibuku mengatai aku sambil bergurau jika aku adalah seorang gay. tapi kali ini aku akan membuktikan kepada ibuku jika aku adalah lelaki sejati yang menyukai seorang gadis juga. "aldy.... aldy..... aldy....... " terdengar suara lelaki yang memanggilku dari kejauhan, lantas aku mulai menoleh ke arah dimana suara itu berasal "oh... si Rafli ternyata.." gumamku sembari mengela nafas, "sini bro" perintahku sambil melambaikan tanganku seolah menyuruhnya menghampiri ku, Rafli berlari kecil menghampiri ke arah dimana aku berdiri. "wei ngapain lu berdiri sendiri disini ?" tanyanya sambil bingung mengapa aku tidak bergerak dari tempat aku berdiri. "eh.. ehh... iya fli, lu liat tuh cakep banget yaa gebetan gue.. hahaha" sambil ku menyiku lengan Rafli "ah elu, lagi jatuh cinta, tai ayam pun rasa vanila, hahahaha....." gurau Rafli padaku. Entah apa yang aku rasakan, memang rasa Cinta ini candu, sembari bergurau dengan Rafli, aku berjalan menyusuri rak - rak buku di dalam Gramedia itu, mataku mulai melihat sekitar ku cari dimana Tsany berada. "nah itu dia" bisik dalam hatiku ternyata Tsany sedang membaca buku di sofa pojok yang sunyi, aku mengira bahwa ia akan membaca bersama teman - temannya, namun tidak, ia sedang membaca jurnal - jurnal kesehatan. sikap gelisahku pun mulai tak karuan. melihat Tsany berdiri dan mulai berjalan, aku pun lantas mulai membututi nya, dan diapun berjalan menyusuri lorong - lorong buku itu. dan "PRAK.....!!!!" aku yang ceroboh karena telalu tergesa - gesa sampai akhirnya menabrak Tsany, Hingga buku - buku dalam dekapannya pun berjatuhan sambil bergumam "aduhh...... aww....." keluhnya Tsany yang terdengar jelas di telingaku "Gimana sih, kalau jalan Lihat - lihat lohhhh..... jadi sakit kan.." sambungnya dengan nada tinggi. Rafli pun mulai bergegas menghampiriku, dan Tsany "dy,... lu egak apa - apa kan dy?" sambil menyapu - nyapu kaki ku dan membantuku berdiri. "Any lu gak apa - apa kan? " Tanya nya pada Tsany sembari merapikan Tumpukan buku yang berserakan itu. "lah elu Fli, gue gak apa - apa kok, bilangin tuh temen lu lain kali harus lebih hati - hati" sambil cembetut ia menggerutu. mengapa melihat Tsany marah bukannya aku malah menjadi Ilfeel aku malah makin menyukai nya. aduh gawat sepertinya aku mulai tidak bisa bernafas, ya tuhan apakah aku akan mati karena jatuh cinta. -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Hanya saja Devinisi tentang Cinta Gambaran cinta Tiap individu pasti berbeda Bahkan Rasanya pun akan Jauh berbeda disetiap orang Ini yang aku rasakan, sesak di jantung Terengap pula nafasku Menatapmu pun aku tak sanggup Tapi jika tidak melihatmu mungkin rasanya Langit ini pun akan runtuh seketika Biarkan aku coba jalani rasa cinta ini sendiri saja semoga apa yang aku rasakan bisa kau balas di kemudian hari walaupun harus ku terjang rintangan demi mendapatkan hatimu -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Dahinya Tsany mengerenyit sambil bertanya kepada Rafli "kok elu ada disini ?" Rafli pun Menjawab "lagi.... lagii..... ehmmm.... lagi main aja " dengan tatapnya yang seolah tidak percaya dengan jawaban Rafli, Tsany pun bertanya lagi "gak sekolah?" sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Rafli " ehh... engga, baru aja keluar" "Hmmmm....... boong lu ya? " tanya nya mengintrogasi Rafli, aku pun agak kebingungan mengapa Rafly dan Tsany terlihat bergitu dekat dan menggunakan bahasa yang non formal. "awas lu ya sampe bolos gue aduin sama tante Rita" ancam Tsany kepada Rafli. aku pun yang sedang bertanya - tanya itu akhirnya dibangunkan dari lamunan ku karena Rafly mengajakku makan, seolah sedang mengalihkan pembicaraan yang mulai mengintervensi dirinya. "udah siang ini, sebagai tanda maaf gue, gimana kalau gue Traktir makan siang, sekalian untuk tutup mulutnya Tsany supaya tidak mengadu ke Bunda gue hehehe....." sembari menyeringai Rafli merangkul aku dan Tsany dan aku pun berbisik pada Rafli "fli kok elu bisa se deket itu sama Tsany?" sembari penasaran ku tatap wajah Rafli yang mulai menyebalkan menurutku. "udah... udah nanti juga gue ceritain.." sambil mengedip - ngedipkan matanya padaku. Sebenarnya siapa Rafli itu, lalu mengapa ia bisa sedekat itu dengan Tsany. pikiran itu terus menerus menyelimuti otakku, sambil kami berjalan menuju Resto andalan Rafly. --- TA WAN --- disini adalah tempat kesukaan Rafli, karna Rafli sangat menggemari masakan Chinese food itu Rafli pun mulai mempercepet langkahnya dan menghampiri Waiter dan berkata "mas, untuk tiga orang ya..." waiter itu sambil mengarahkan ke tempat duduk kosong yang akan kami tempati "boleh di sebelah sini saja mas" jawab mas waiter berbaju hitam dengan tubuh tinggi itu dengan rambut klimis dengan wax yang membuat Rambutnya selalu on poin. Duduklah kami bertiga dalam meja bundar itu. dan dengan sigap Rafli membuat pesanan sambil berkata "tenang nanti ini semua gue yang bayar oke" "kita makan menu kesukaan gue ya" sambungnya sambil memesan pesanannya " mas aku mau ini satu, ini satu , ini satu , dan ini satu ya" sambil menunjuk menu yang di pesan oleh rafli "ealah iya mas, Nasinya tiga ya" mas waiter itu pun mengangguk - angguk tanda ia mengerti dengan apa yang di minta Rafli. kemudian waiter itupun mengulang orderan yang di buat oleh Rafli. ".........." "sudah sesuai ya mas?" tanya mas - mas waiter itu. "oke mas" jawab Rafli dengan cepat seolah ia ingin langsung membahas apa yang aku pertanyakan tadi. memang rafli ini temanku yang sepertinya sudah tau apa yang aku inginkan apa yang aku butuhkan dan seolah ia bisa menebak apa yang ada di pikiranku saat itu Daebak~ sementara aku masih terdiam tak menyangka bahwa orang yang di sampingku saat ini adalah Tsany orang yang aku suka. Jantung ku pun terus berdegup dengan cepat. bahkan aku tak tahu apa yang akan aku tanyakan, apa yang akan aku ceritakan seketika rasanya lidah ini terasa keluh dengan cara yang tiba - tiba tanpa memberitahu. jika memberi tahu mungkin aku bisa persiapan dulu kan hehehe.... mulai lah perbincangan itu, dan ternyata Tsany yang memulai dengan membuat pertanyaan yang sama yang ia lontarkan di toko buku tadi. "jadi Rafly... elu lagi ngapain disini ? elu bolos?" "eh.... iyaa ny, Gue bolos hari ini" tak banyak pembelaan ia pun menembak dengan kata itu terlihat wajah Tsany sangat tidak bersahabat. "hmmm.... " sambil melirik ku dia bertanya "Kayak nya gue udah pernah liat elu deh,....." seketika Tsany pun terdiam sambil memutar bola matanya seolah ia mengingat - ingat dimana Tsany pernah bertemu denganku. "di GOR mungkin" celetuk Rafli aku yang hanya bisa terdiam dan tersenyum karna aku merasa di perhatikan oleh Tsany, berarti memang Tsany memperhatikan ku pada saat aku sedang bermain. " Oh... iyaa kamu anak NB CLUB ya...? anak didik nya pak sigit itu?" sambil mendekatkan wajahnya pada wajahku seperti yang menganalisis wajahku yang tampan ini, bahwasanya aku ini adalah anak didik nya pak sigit atau bukan. " iya aku anak didiknya pak Sigit" jawabku "pantesan kaya pernah lihat gitu, wajahmu itu gak asing buatku" sambil tersenyum, dan lagi membuat ku tak tersadar beberapa detik. " jadi gini ny.... gue to the poin aja ya.... kemarin gue kasih pin BBM lu ke Aldy ini, hampir 7 hari loh sampe ga di Acc terus sama elu" dengan sigap Rafi menyambung pembicaraan yang seolah tak ingin terputus itu. dalam hatiku berkata "ini si Rafly nge gas banget ketauan banget deh gue suka nya sama tu anak, eh tapi gak apa - apa deh ikan sepat ikan gabus, lebih cepat lebih bagus" "oalah ternyata Aldy itu kamu, aku kira orang iseng aja, yaudah tanda pertemanan awal kita, aku Acc ya Pin BBM kamu" jawab Tsany sambil bicara ke arah ku whaaaa....... senang sekali ternyataa rasanya aku ingin loncat dan berteriak...... hmmm..... tak karuan rasa ini.. Tsany... Tsany.... ternyata selama ini kamu yang aku tunggu yang bisa membuat aku lupa apa itu cinta, bahkan sesuatu yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. yaa... sebelumnya, yang aku rasakan itu kan hanya cinta pada kedua orang tuaku kepada saudara dan adikku, bukan rasa cinta pada orang yang di luar keluargaku. hihihii.... aku hanya bisa senyum senyum sendiri sambil terus menatap Tsany. tapi terlihat Tsany mulai Risih dengan tatapanku, dan dia menyeletuk "jangan liatin aku kaya gitu ah.... ga enak " dengan sigap Rafli langsung menjawab "suka kali Ny sama elu" "ih apaan sih orang baru ketemu kan ya dy..." aku hanya senyum dan menjawab "iya..iya..." mungkin terlihat sekali aku agak kaku menghadapi Tsany . tak lama makanan pun datang, kami mulai berbincang Asyik sembari medan Rafli menceritakan bagaimana ia bisa mengenal Tsany. ternyata Rafli dan Tsany adalah teman lama, awalnya Rafli adalah teman dari kakak Sepupu Tsany yang bernama Charlo, tak menyangka Rafli dan Tsany menggeluti Hobi yang sama yaitu bermain bulutangkis dan mereka berada di Persatuan Bulutangkis se Kabupaten Bekasi. Namun yang menjadi pertanyaan mengapa aku dan Tsany jarang bertemu di PB sebenarnya banyak juga pertanyaan itu di otakku. Akhirnya dari pada aku bingung dan terus bertanya dalam benakku, yang terus terang itu sangat sanggat mengganggu ku ya kepo sedikit kan diperbolehkan ya.... aku pun bertanya pada Tsany "Tsany kamu di PB juga?" tanyaku penasaran "he'eh" sambil mengangguk dan mengunyah makanannya "kok aku jarang lihat kamu ya di PB?" sambung pertanyaan ku itu. Tsany pun menelan makanan yang ia kunyah dan meminum segelas teh madu Goji berry kesukaannya dan menjawab "aku kalau latihan selalu malam, dan udah sepi biasanya paling ketemu Rafli lagi Rafli lagi sampe bosan aku" "ohh.... pantesan" jawabku sambil mengangguk - angguk kan kepala ku tanda bahwa aku memahami apa yan Tsany sampaikan padaku. "aku kan pengen jadi atlet tapi aku harus belajar juga karna aku juga akan menghadapi Ujian Nasiona dalam Waktu dekat ini... jadi aku harus bisa pandai - pandai membagi waktuku dengan baik dan berbagi kewajiban serta Hobi ku yang tak bisa aku tinggalkan." "oh begitu ya, lain kali kita latihan bareng yu" "uhuukkkkkkk........" terderngar suara batuk dari Rafli seolah mengejek aku yang sedang PDKT itu dengan Tsany "ajak ajak dong guenya" sambung Rafli sambil menaik - turunkan alisnya. "iyaa boleh dong" Tsany menjawab itu. setelah kami menikmati hidangan itu, kami pun berpisah karena Tsany sudah di Telpon oleh teman - temannya yang sudah menunggu di lobby basemant tempat parkir mobil. sebelum kami berpisah aku membuat isyarat pada Tsany berharap Tsany mengerti dengan apa yang aku maksud. tanganku sambil membentuk telpon dan aku mengatakan sambil jalan menjauh dari Tsany "nanti Telpon ya..." dan Tsany bilang " oke - oke" sambil melambai dan berkata... "byee see you next time Tsaaannnyyyy" aku pun merasa kegirangan yang tak tahu bagaimana mengungkapkannya. bahkan aku hanya bisa tersenyum dan tersenyum lagi Rafli hanya mengeleng - gelengkan kepalanya sembari berkata " iyaa.. iyyaaa orang jatuh cinta, tai ayam aja rasanya vanila haahahaha...." Rafli selalu mengejekku seperti itu namun hari ini. aku sangat berterimakasih pada Tuhan bahwa ini adalah hari yang sangat indah yang pernah aku rasakan. -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Jika Tuhan saja bisa mengabulkan semua doa ku atas dirimu Pasti Tuhan juga bisa mengabulkan semua doaku untuk terus bersamamu Jika Tuhan saja bisa menjadikan mimpi menjadi sebuah kenyataan Pasti Tuhan juga bisa menjadikan mu menjadi kenyataan bagiku entah seberapa yakin aku terhadap dirimu tapi yang pasti melihat matamu itu membuat aku yakin masa depan ku akan cerah bersama dirimu hanya ini yang bisa aku lakukan berdoa dan berdoa semoga amin ku selalu dekat dengan mu dan amin ku menjadi indah dikemudian hari --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD