Setelah perjalanan panjang yang penuh cerita, Eshal, Selina, dan Maira akhirnya kembali ke Indonesia. Amsterdam menjadi akhir dari petualangan campervan mereka, tetapi juga awal dari berbagai babak baru dalam hidup mereka. Eshal menatap ke luar jendela pesawat, pikirannya mengembara ke semua momen yang telah ia lalui selama berminggu-minggu terakhir. Ia tersenyum kecil saat mengingat Hanafi yang masih sempat merekamnya sebelum ia masuk ke ruang tunggu. "Jangan berubah pikiran ya? Kalau berubah, aku nikahin kamu secara paksa," katanya dengan nada menggoda. Ah, Hanafi memang selalu punya cara membuatnya tertawa. Di sebelahnya, Selina tampak diam, tetapi pikirannya penuh. Bagi Eshal dan Maira, pulang ke Indonesia mungkin hanya berarti kembali ke kehidupan sehari-hari, tetapi bagi Selina, in

