Melihat Maira dan Eshal yang akhirnya memiliki pasangan masing-masing, Selina tak bisa mengelak dari perasaan yang menggelitik di dalam hatinya. Ia tentu saja bahagia untuk kedua sahabatnya—Maira yang lebih dulu menikah, kini tengah menikmati hidup barunya, dan Eshal yang baru saja melangkah ke jenjang yang sama dengan seseorang yang jelas mencintainya. Tapi, ada sesuatu yang terasa kosong di dalam dirinya. Bukan rasa iri, bukan kesedihan, hanya perasaan bahwa kini, ia tertinggal sendirian. Namun, Selina bukan tipe yang mudah panik soal pernikahan. Ia tahu bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing, dan ia tak ingin terburu-buru hanya karena tekanan sosial atau karena merasa sendirian. Selama ini, ia cukup nyaman dengan kesibukannya. Pekerjaan dan penelitian tesis yang seakan tak

