Dua kalimat yang ringan di lisan dan berat di timbangan, dan dua-duanya disenangi oleh Allah. Yaitu kalimat, subhanallah wa bihamdihi, subhanallah al-azhim. (HR. Bukhari dan Muslim)
***
Sekembalinya dari Bali, Ali dan Zahra langsung menempati rumah yang sudah Ali persiapkan jauh-jauh hari. Sebuah rumah bergaya mini malis yang ukurannya tidak terlalu besar. Sederhana, Zahra suka. Di dalamnya terdapat tiga buah kamar, ruang tamu dan ruang keluarga dibuat menyatu. Nuansa seisi rumah berwarna abu.
Saat ini Zahra sedang membereskan barang-barang miliknya yang sudah diangkut. Perempuan itu melipat baju, menatanya di dalam lemari.
Kening Zahra berkerut saat Ali menghampirinya dengan membawa koper, tanpa kata lelaki itu memasukkan beberapa baju.
"Mau kemana?" Zahra bertanya bingung karena Ali terlihat sudah rapi.
"Lombok, besok aku ada flight."
"Flight?
"Lupa nih pasti." Ali memincingkan mata.
"Lupa apa?" Zahra semakin kebingungan.
Ali menghela napas. "Suami kamu ini pilot, Zahra. Ingat itu, ya."
"Ah iya." Zahra menepuk jidatnya. "Kok aku bisa lupa ya? Padahal kemarin di angkut naik heli. Duh susah ya jadi orang pelupa kayak aku."
"Di angkut, dikira beras kali," ujarnya diiringi kekehan. "Makanya ingat dong jangan lupa."
"Kalau ingat namanya enggak lupa. Gimana sih." Zahra tertawa. "Serius deh pelupa itu enggak enak, cape."
"Cape kenapa?"
"Aku pernah ke kamar mandi tapi lupa bawa handuk, jadi aku balik lagi buat ambil handuk. Aku juga pernah ke kedai tapi kelupaan bawa hp, jadi aku harus balik lagi ke rumah. Ribet deh pokoknya. Oh iya satu kali, aku pernah cari jilbab bongkar seisi lemari tapi ternyata jilbab yang dicari udah aku pake." Zahra bercerita dengan antusias, panjang lebar. Hal itu membuat Ali tertawa. Raut wajah yang Zahra tampilkan terlihat kesal.
"Aku juga pernah sih, cari buku tapi ternyata bukunya lagi aku pegang. Dan di situ aku merasa bodoh."
Zahra tertawa. "Aku juga pernah kayak gitu, astagfirullah."
"Ada-ada aja," ujar Ali seraya menutup koper.
"Oh iya, kamu perginya berapa hari?"
"Dua hari aja."
"Aku sering ditinggal dong ya," ujar Zahra.
Ali tersenyum, ia mengelus pelan puncak kepala Zahra. "Ra, ini salah satu kekurangan aku. Aku enggak punya banyak waktu buat kamu."
Zahra balas tersenyum. "Aku ngerti kok, kamu 'kan kerja. Lagi pula aku juga punya kekurangan. Sama aku, kamu bakal sering diabaikan waktu aku nulis. Jadi, impas 'kan?"
Ali menghela napas. "Iya, impas kok," ujarnya setelah itu ia mengambil handuk dari dalam lemari. "Mandi yuk."
Zahra mengerjap. "Kamu ngajak aku mandi?" Pertanyaan Zahra mendapat anggukan dari Ali.
"Bereneng kayak waktu itu. Kita lomba lagi." Ali menaik-turunkan alisnya, menggoda.
"Enggak mau, kamu modus!" Zahra menolak, Ali tertawa.
"Yaudah deh aku mandi di kamar mandi aja, berenangnya lain kali."
"Mandinya jangan lama-lama, aku juga mau mandi abis ini."
"Mandi bareng mau?"
Mata Zahra melotot. "Cepetan mandi gih!"
Ali tertawa. "Iya-iya," ujarnya setelah itu menghilang di balik pintu kamar mandi.
***
Zahra menatap keluar jendela, bias air hujan tampak di sana. Ia bergeming di posisi tak sadar bahwa sedari tadi Ali menatapnya.
"Aku udah masuk kamar sekitar satu menit, dan kamu sama sekali enggak sadar kalau ada aku." Ali duduk di samping Zahra, lelaki itu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Zahra terkesiap. "Aku melamun ya?" Ia bertanya polos.
"Iya, orang kamu sampai enggak sadar kalau aku masuk kamar."
Zahra tersenyum canggung. "Maaf."
"Dalam waktu satu menit kamu bisa menyelesaikan sepertiga Al-Quran. Kalau cuma ngelamun enggak akan dapat apa-apa." Ali ikut menatap keluar jendela. "Satu menit itu berharga."
Kening Zahra berkerut. "Enggak mungkin ih."
"Dalam waktu satu menit kamu bisa baca surah Al-Ikhlas tiga kali, nilai surah itu sama loh kayak sepertiga Al-Quran," jelas Ali.
"Demi Dzat yang menguasai diriku, sesungguhnya nilai surat Al-Ikhlas serupa dengan sepertiga Al-Quran. (HR. Bukhari).
"Jadi sayang 'kan kalau terbuang untuk melamun."
Zahra tersenyum. "Makasih ya udah ngasih tau."
Ali balas tersenyum. "Satu menit juga bisa menghapus dosa. Kita tinggal baca subhanallah wabihamdih, seratus kali. Gampang banget."
"Barang siapa membaca 'subhanallah wabihamdih' seratus kali dalam sehari niscaya dosa-dosa akan dihapus walaupun sebanyak buih dilautan. (HR. Muslim).
Zahra meraih tangan Ali lalu menggenggamnya. Perlahan ia mencium penuh takzim punggung tangan lelaki yang sudah sah menjadi suaminya itu. Cukup lama, Ali tersenyum dibuatnya.
***
"Ini jilbab punya siapa?" Safira menunjukkan jilbab berwarna hitam pada Azka. Ukurannya kecil, mungkin cocok untuk anak berusia tujuh tahun.
Azka mengambilnya dari tangan Safira. "Punya Zahra ini, lucu banget 'kan ya?" Lelaki itu terkekeh seraya memperhatikan jilbab mungil itu.
"Lucu banget, nanti aku kasih ke Zahra. Pasti dia udah lupa kalau jilbab dia waktu kecil ada sama kamu."
"Jangan, aku pengen simpan buat kenang-kenangan." Azka mengambil kotak berukuran cukup besar dari kolong tempat tidur, ia memasukkan jilbab Zahra ke dalam kotak itu.
"Itu barang-barang punya Zahra?" Safira terus memperhatikan apa yang Azka lakukan.
"Iya, ini barang-barang kenangan aku sama dia. Liat deh boneka ini lucu banget." Azka menunjukkan boneka beruang pada Safira.
"Udah buluk gini." Safira terkekeh kecil.
"Walaupun buluk kayak gini tapi Zahra suka banget, dulu boneka ini pernah dibuang ke sungai sama anak-anak nakal depan komplek. Zahra nangis, mau enggak mau aku nyebur buat ambil boneka ini. Terus setelah itu Zahra kasih aku boneka ini sebagai ucapan terima kasih." Azka antusias bercerita. Setelah itu mengalirlah berbagai macam cerita masa kecil yang dialami Azka dan Zahra. Sepanjang bercerita mata lelaki itu tampak berbinar bahagia.
Safira menanggapi dengan antusias cerita Azka, walaupun dalam hatinya ia merasa sedikit tidak nyaman ketika Azka terus-terusan membahas tentang Zahra. Sahabat baiknya sendiri.
Entah kenapa Safira merasa iri karena Zahra bisa lebih dulu dekat dengan Azka. Bahkan suaminya itu hafal kebiasaan dan makanan kesukaan Zahra. Sampai seperti itu.
Tetapi wajar saja karena lebih dari separuh kehidupan Azka bersama dengan Zahra. Mereka bersahabat, hanya itu. Iya.
"Waktu kecil tuh kamu dekat banget 'kan ya sama Zahra bahkan sampai sekarang pun masih dekat. Kamu pernah enggak ngerasain cinta monyet sama Zahra?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari Safira.
Azka tertawa mendengar pertanyaan dari istrinya itu. "Cinta monyet? Enggak deh kayaknya. Aku enggak pernah tertarik sama Zahra. Enggak pernah punya perasaan lebih sama dia. Aku melindungi dia itu murni karena aku sayang sama dia sebagai seorang sahabat."
Mendengar itu Safira merasa lega. Sangat lega.