BAB 4. Wanita itu, Anggreni

1255 Words
Anggasta memutuskan untuk bekerja sebagai penjaga toko buku yang sering dia datangi. Dulu, saat masih kuliah, pria itulah yang menjaga toko tersebut, pria itu juga sudah sangat akrab dengan pemiliknya, jadi kapan saja Anggasta ingin bergabung lagi, pemilik toko buku Agrafa itu dengan senang hati menerimanya. Pria itu tengah merapikan buku ke rak saat melihat seorang gadis cantik memasuki toko. Dia adalah wanita yang sering dia lihat ke toko tersebut baik sekedar membaca buku atau membeli beberapa buku terbaru. Anggasta sudah sering melihatnya bahkan saat masih kuliah dulu. Hari ini gadis itu datang dengan pakaian simpel seperti biasa, namun tidak mengurangi kecantikannya. Wajahnya memang biasa saja, yang membuatnya istimewa adalah cara gadis itu tersenyum ramah pada semua orang yang dia temui. Gadis itu mulai memasuki toko, tentu setiap pergerakannya tidak terlepas dari pandangan Anggasta. “Segitunya ngeliatinnya!” tegur Dony, Anggasta tersadar dari lamunannya, menyelesaikan pekerjaannya dan mulai duduk di salah satu meja baca yang disediakan di toko tersebut. Dari tempatnya duduk, Anggasta “Eh sejak kapan di sini?’ tanya Anggasta heran. Dony memilih mengambil kursi untuk duduk di hadapan sahabatnya. “Kenapa gak ajak kenalan saja?” sudah lama Anggasta mengamati wanita itu namun sampai sekarang pria itu tidak berani mengajak wanita ramah itu untuk berkenalan. “Aku bingung memulainya dari mana,” balas Anggasta, yup dia sangat ingin mengenal namanya, bertahun-tahun Anggasta hanya memperhatikan wanita itu dari jauh. Pria menatap rak yang terlihat tidak berdiri dengan kokoh, Anggasta mulai panik saat melihat wanita itu berjalan ke arah rak tersebut. Anggasta segera bangkit dari duduknya mendekati gadis itu. Anggasta tiba tepat waktu untuk menarik tangan gadis itu menjauh dari rak buku yang akhirnya roboh. Anggasta bisa melihat wajah syok itu. Siapa pun pasti syok sehabis selamat dari maut. Entah apa yang terjadi jika Anggasta tidak segara menarik tangannya. Mungkin dia sudah tertimpa rak serta buku yang pasti beratnya tidak terkirakan lagi. “Are you okay?” akhirnya Anggasta menyapanya juga meski harus dalam keadaan darurat. Netra itu menatapnya, untuk pertama kalinya Anggasta bisa begitu dekat dengan wanita itu. “Ah iya, aku baik-baik saja, terima kasih sudah menolongku,” balas Anggreni, yup gadis yang selama ini diperhatikan oleh Anggasta adalah Anggreni Faresta, gadis cantik dengan trauma masa lalu. “ Syukurlah, aku lega mendengarnya,” “Kau bukannya penjaga toko ini? Sudah lama aku tidak melihatmu, “ tutur Anggreni. “Ah itu, ada sedikit urusan jadi jarang kemari lagi,” balas Anggasta seadanya. Yuup, dia dulunya sering berada di sana saat kuliah, lalu berhenti karena mendapatkan pekerjaan yang dia impikan. “Oh iya aku Anggreni, panggil saja Greni,” ucapnya sembari mengulurkan tangan. Dia memperkenalkan dirinya terlebih dahulu, sementara selama ini Anggastalah yang memperhatikannya. Ada untungnya juga Anggasta kembali bekerja di toko tersebut. Semenjak bekerja di perusahaan dia sangat jarang ke sana, membuatnya tidak lagi melihat wanita ramah itu. sekarang dia mengetahui namanya, wanita cantik dengan nama yang amat cocok dengannya. “ Nama kamu?” ulang Greni “Ah iya, nama aku Anggasta panggil Gasta saja atau kalau mau panggil Angga aja biar akrab. Itu nama kecil aku di panti,” balas Anggasta, Anggreni mengangguk mengerti. “Baiklah Angga, aku suka nama itu,” gadis itu terkekeh membuat senyum di bibir Anggasta . Ada sedikit kelegaan yang muncul dalam hati Anggasta di tengah masalah yang sedang menghampirinya. Anggreni terlihat mengedarkan pandangannya. Buku dari rak yang roboh itu masih berantakan. “Aku bantuin deh, gimana? Anggap aja sebagai ucapan terimakasih,” tawar Greni, gadis itu terlihat begitu ingin membalas kebaikan Anggasta yang telah menyelamatkan nyawanya. Uang bisa dicari lagi, namun nyawa tidak bisa dibayar atau digantikan oleh apa pun. Sebanyak apa pun uang yang Anggasta minta pasti akan Anggreni berikan, gadis itu benar-benar merasa berterima kasih padanya. “Ehm, okay kalau gitu,” balas Anggasta. Keduanya mulai merapikan buku yang berserakan. Sesekali keduanya tertawa, juga bercanda. Anggreni merasa senang bisa bertemu pria seperti Anggasta yang ternyata juga memiliki ketertarikan di dunia perbisnisan. Pria itu bahkan lulusan dari jurusan manajemen bisnis sama seperti Anggreni. Wajar saja jika Anggreni langsung nyambung saat berbicara dengan pria itu. “Jadi dia membawa uang kamu lari semua? Jahat banget sih,” ucap Anggreni turut prihatin. Di zaman sekarang memang sangat sulit menemukan seseorang yang bisa diberi kepercayaan. Bahkan orang yang sedari dulu kita percaya bisa saja berubah menghianati kita. “Hem, begitulah. Seharusnya aku memang tidak percaya begitu saja. Padahal, itu adalah proyek pertamaku,” tuturnya penuh penyesalan. Kalau ada kata seharusnya, pria itu tidak akan mengambil resiko sebesar itu untyk merintis usaha, yah kalau dia mengetahui akan berakibat sefatal ini maka Anggasta pasti tidak melakukannya. “Memang sih, sulit mencari orang yang benar-benar jujur, apalagi di zaman yang makin maju, yang orang butuhkan adalah uang, segalanya tentang uang, bahkan nyawapun jadi taruhannya,” tutur Greni, ah gadis itu memang berwawasan luas. Anggasta tersenyum tipis mendengarnya. “Entahlah,  pemilik perusahaan sebesar itu bisa menipu apalagi yang hanya orang biasa,” orang yang menipu Anggasta adalah seorang bos perusahaan besar, katanya. Entah itu benar tau tidak. Anggasta masih mencari tahu identitasnya yang sebenarnya. “Zaman sekarang mah nama perusahaan yang katanya besar bisa dibuat. Bisa aja dia memang bukan dari perusahaan besar, hanya orang yang mengaku-ngaku saja,” balas gadis itu. “Benar juga,” gumam Anggasta baru menyadarinya sekarang. Pantas saja saat Anggasta minta bertemu di perusahaan milik pria itu langsung ditolak, ternyata dia hanya pura-pura memiliki perusahaan besar. “Seharusnya aku memberitakan hal ini bukan? Agar dia tidak bisa menipu orang lagi, bahaya kalau sampai dia menipu perusahaan besar, bisa-bisa langsung gulung tikar,” Anggast tentu tidak ingin ada orang yang mengalami hal yang sama dengannya. Cukup, dia yang pusing karena masalah itu. “Benar tuh,’ tidak terasa banyak mengobrol membuat pekerjaan mereka selesai tanpa terasa. Buku sudah tertata kembali di rak yang lebih kokoh. “Kalau boleh tau, apa nama perusahaan yang tengah menipu kamu?” tanya Anggreni penasaran, dia berniat akan membuatnya ke media agar orang-orang menghindar dari perusahaan tersebut. “Bima company, nama pemiliknya Arga, pria paruh baya yang kkatanya berasal dari singapura,’ baru Anggasta sadari kalau dia termakan omong kosong yang pria paruh baya itu ucapkan. Dia tidak mencari faktanya, hanya mendengar katanya saja. Betapa bodohnya kamu, Anggasta. “Bima company? Really?” gadis itu terlihat membelalak tidak percaya. “Aku punya bukti kerja sama serta bukti transfer uangnya, kalau kamu mau lihat akan aku tunjukan,’ tutur Anggasta berpikir gadis itu pasti tidak akan mudah percaya padanya. Bagaimanapun dia hanya orang baru yang telah menyelamatkan nyawanya. “Really? Boleh aku lihat?” Anggasta mengangguk lalu membuka ponselnya. Pria itu menunjukkan semua bukti yang dia punya. “Beneran om Bima, kalau gitu perusahaan Papa dalam bahaya dong,” gumam gadis itu. “Kamu kenal sama orangnya?” tanya Anggasta, gadis itu mengangguk. “Ada proyek besar yang akan Papa tanda tangani bersama dia. Proyek miliyaran yang kalau sampai gagal akan membuat perusahaan Papa bangkut,’ balas gadis itu. Anggreni menatap Anggasta meminta bantuan pria itu. mereka harus menggagalkan kontraknya atau perusahaan Faresta akan gulung tikar. Anggasta tentu saja tidak menolak, bagaimanapun mereka tidak boleh mengalami hal yang sama dengannya. “ Kamu sudah gak ada kerjaan kan? Atau aku bisa izin sama bos kamu?” tawar Anggreni, Anggasta menggeleng lalu tersenyum tipis. “Tenang saja, ada sahabat aku di depan yang bisa menjaga toko sementara waktu,” tuturnya membuat Anggreni menghela nafas lega. Gadis itu menarik tangan Anggasta keluar dari toko. Mereka harus bergerak cepat sebelum terlambat. Saat keluar dari toko, Dony menatap sahabatnya itu dengan tatapan seolah mengatakan ‘ cie akhirnya kenalan’, itulah yang Anggasta tangkap dari sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD