"Ya Allah Bu... Farhan..." "Nduk!!! Astaghfirullahal'adziim... Astaghfirullah... Istighfar, Nduk... Ayo istighfar... Ayo, ke dipan, jangan di bawah kayak gini." Ibunya bergegas menangkap tubuhnyayang luruh ke bawah saat mendengar berita tersebut. Hatinya yang dia coba kuat - kuatkan beberapa minggu terakhir ini kembali porak poranda mendengar berita persidangan Farhan. Ibunya menuntunnya untuk duduk di ranjang, lalu bergegas secepat yang tubuh tuanya bisa untuk mengambil minum untuknya agar lebih tenang. "Ini, minum dulu ya, Nduk, biar lebih tenang." Katanya. Marsih menerimanya dengan tangan gemetaran. Dia mencoba meneguk beberapa kali sebelum mengembalikannya lagi pada Ibunya. Dia menarik nafas bebrapa kali untuk menenangkan dirinya yang kemrungsung dan medadak gelisah sedari tadi. Ke

