Seturun dari taxi yang mengantarnya pulang, Aurel mengambil Revan terlebih dulu dari Mbak Narni. Aurel mengucap terima kasih dengan nada nyaris tak terdengar. Ia lalu pulang ke rumahnya yang hanya berjarak tiga rumah dari tempat Mbak Narni. Setibanya di rumah, ketika pintu rumah baru sedetik tertutup, tangisnya pun pecah. Tangis Aurel adalah sebentuk ekspresi rasa sesal, bersalah, takut, dan jijik. Ia sangat ingin dan berharap itu hanya mimpi. Sebuah mimpi yang ketika ia terbangun, semua lenyap terbawa angin tanpa pernah datang kembali. Masalahnya, itu ternyata memang bukan mimpi. Dari dalam tas tangan yang ia bawa ia merogoh dan menemukan segepok uang tunai dan sebuah kartu nama. Keduanya adalah bukti nyata bahwa apa yang ia alami belum lama dengan penggemarnya di sebuah hotel adalah be

