Itu jelas sebuah pertanyaan yang berani. Zakaria sampai membutuhkan waktu dua menit sendiri sebelum mulai menjawab.
“Begini. Papa sadar dengan sakit Papa yang membuat Mama kurang terpuaskan. Itu bukan salah Mama. Itu salah Papa. Jadi, daripada meratapi keadaan Papa sekarang mikirnya beda. Kenapa nggak terima aja keadaan ini dengan legowo dan menyesuaikan hidup dengan keadaan yang baru. Mama masih muda, aktif. Jangan sampai Mama jadi tertinggal dari sisi karier dan kehidupan karena nungguin Papa. Papa nggak mau dan nggak boleh egois. Kalau Mama ada peluang maju, ambil. Ambil aja biarpun itu bakal bikin Papa jadi ketinggalan. Atau bikin Papa inferior. No problem. Kebahagiaan Mama, itu nomor satu. Papa harus jadi lebih permisif sama Mama dan ini semua demi pernikahan kita bersama.”
Shirley kaget dengan pernyataan dan komitmen baru dari Zakaria.
“Apakah itu maksudnya… Papa…” Shirley tak tega melanjutkan ucapan.
Zakaria tersenyum dan mengangguk. “Betul. Papa izinkan kamu untuk… bersama pria lain.”
“Kalau sampai… misalnya nih… mmm…. Mama tidur… bersama?”
“Gapapa, it’s okay.”
“Betul? Papa nggak cemburu?”
“Nggak lagi.”
“Dengan pria manapun?”
“Dengan pria manapun.”
Shirley tercekat. Dari apa yang ia pernah dengar, perilaku ini biasa disebut cuckolding dan sebetulnya sudah banyak menjangkiti beberapa pasangan. Mereka membiarkan pasangannya berhubungan s**s dengan orang lain dan malah mereka juga memfasilitasinya. Dulu ia menilai itu sebagai kejanggalan dan sekarang ia mendapat sudut pandang baru dan mengerti alasan sebenarnya. Ia tak tahu apakah perlu bersyukur atau bersedih. Melihat mimik muka Shirley yang berubah, Zakaria meraih tangan Shirley dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan tetap di stir mobil.
“Cinta kita akan tetap hangat, Ma. Dan rumah tangga kita bisa makin bertahan. Mama sudah mengorbankan begitu banyak. Bahkan sampai lakuin penggelapan dana kantor untuk kesembuhan Papa. Alangkah egois kalo aku nggak mau lagi mencintaimu.”
Shirley terdiam.
“Udah lama kita nggak dua-duaan ke mall.” Zakaria mengganti topik pembicaraan. “Pergi yuk, Ma?”
“Bukannya kita lumayan sering pergi ke mall?”
“Maksud aku, kita udah punya kesepakatan baru kan? Jadi kali ini kita ke mall bukan cuma untuk makan. Papa juga ingin pamerin ke dunia bahwa Papa punya bini yang mulus, cakep, sexy.”
Shirley tersenyum. Jadi ini rupanya masih berkaitan dengan topik sebelumnya. Ah, Zakaria yang malang. Semua berakhir ke soal yang itu lagi, itu lagi.
“Mau nggak, Ma?”
“Boleh.”
Zakaria kegirangan. “Jadi nanti Mama pake pakaiannya agak terbuka. Aku seneng lho kalo banyak yang liatin Mama.”
*
Mr. Sahal menjadi tamu penting Ervan pada pagi menjelang siang itu. Pria yang menjadi customer terbesar dari Timur Tengah itu mendatangkan banyak keuntungan bagi Mintarja Grup. Baik keuntungan langsung maupun tidak langsung seperti kenaikan harga saham perusahaan di Bursa Efek Jakarta. Sejak jaman ayahnya dan kini ditangani Ervan, orang itu betul-betul menjadi raja. Begitu menginjakkan kaki di Jakarta ia langsung diistimewakan. Akomodasi terbaik pasti disiapkan. Dan bagi Ervan tak hanya akomodasi melainkan juga entertainment. Hiburan. Sebuah bahasa halus yang arti sebenarnya adalah: wanita.
Di Mintarja Grup, matanya selalu terpuaskan karena perusahaan rekanannya ini tak ubahnya studio film yang diisi banyak artis cantik. Terkadang, tatkala ia berminat pada seseorang dan keberuntungan sedikit menyertainya, ia bisa meniduri salah satunya. Tentu itu semua melalui bantuan Ervan.
Hari ini untuk pertama kalinya ia bertemu dengan sekretaris baru untuk CEO yang baru, yaitu Shirley. Seorang wanita 44 tahun namun berpenampilan belasan tahun lebih muda dari usia sebenarnya. Cantik dari segala sisi, membuat Mr. Sahal tertarik dan mencari kesempatan untuk bisa bersamanya.
*
Hari itu hari libur yang dimanfaatkan Shirley dengan tidur, istirahat, dan bermalas-malasan lebih lama. Zakaria tidak di rumah. Sejak narik beberapa jam lalu, saat itu ia berkitar-kitar di daerah Tangerang. Sangat jauh dari lokasi rumah mereka. Suasana rumah sangat sepi. Setelah selesai melakukan tugas harian yang dirasa perlu, ia mulai beristirahat lagi. Dengan smartphonenya ia mulai asyik membaca artikel tips kecantikan sampai kemudian sebuah iklan pop-up muncul di layar smartphone yang ia gunakan.
Iklan itu adalah iklan obat peningkat gairah suami-isteri. Ini iklan yang sangat sering muncul. Tapi kali itu iklan itu berdampak beda. Sangat beda. Setelah diklik, ia langsung dibawa mengunjungi sebuah situs web tentang jual-beli aneka obat herbal selain itu ia juga menjual alat bantu s**s.
Shirley tak tertarik. Ia mengabaikan iklan dan kini malah mulai berTikTok. Ia sebal ketika aplikasi terhenti karena paket data internetnya habis. Ugh, kehidupan milenial tanpa paket internet benar-benar tak lebih dari suatu kejengkelan. Setengah jam kemudian ketika ia hendak bersiap pergi ke minimarket untuk membeli pulsa, telponnya bergetar karena Fitri menelpon dirinya.
“Lu gak bisa liat orang seneng ya. Baru aja istirahat dikit udah grecokin lagi.”
Itu kalimat pembuka dari Shirley. Tadinya ia pikir itu akan jadi pembuka yang lucu. Tapi Fitri ternyata tidak menanggapi .
“Gue nelpon lu karena kepo.”
“Kepo kenapa?”
“Wah, ketahuan lu nggak buka WA dari gue.”
“Paket data udah habis setengah jam lalu. Ini gue mau pergi buat beli paket lagi. Ada apa sih? Penting banget emangnya?”
“Penting gak penting sih. Tergantung lu liat dari sudut pandang apa.”
Shirley menarik nafas panjang. “Cerita deh. Emang lu kirim link apa? Link bokep?”
“Iya. Gue juga kirim link ke email lu.”
Shirley tertawa mengakak. “Lu susah-susah hubungi gue hanya untuk ngasih tau ada link bokep yang bagus? Emang bintangnya siapa? Pasti heboh.”
“Emang heboh. Coba lu tebak, siapa bintangnya?”
“Kasih clue dule. Artis sinetron, artis layar perak, artis Hollywood atau…”
“Artisnya lu sendiri, tauk!”
Shirley tercekat. Kalau Fitri berbicara dengan nada tinggi dan tegas, biasanya memang serius. Ia lalu mencari tau dan mendapat info mengejutkan. Di salah satu laman khusus dewasa, ada video klip dirinya yang sedang m********i. Ini bisa jadi masalah besar karena wajah Shirley sangat jelas terpampang di sana.
Dengan bergegas, ia keluar rumah, mencegat ojek, dan menuju minimarket terdekat. s**l! Jaringan mereka sedang terganggu dan pengisian pulsa ponsel tak bisa dilayani. Saat keluar ruangan ia baru menyadari bahwa ada warnet tak jauh dari minimarket yang ia baru masuki.
Buru-buru ia mendatangi warnet tadi. Beruntung ada sebuah bilik di pojok dalam kondisi kosong. Di bilik lain beberapa anak berseragam SD asyik bermain game online. Dasar bocah bandel, saat bermain mereka mudah memaki atau mengumpat dengan kata-kata kotor yang memerahkan kuping.
Tapi sudahlah. Shirley tak mau pusing dan mulai melanjutkan aktifitas di bilik pilihannya. Bilik itu adalah ruangan seukuran panjang x lebar x tinggi sebesar setengah x setengah x satu meter setengah. Dengan tinggi seperti itu orang di luar bisa sedikit melihat ke dalam hanya melalui pintu keluar masuk.
Tak lama kemudian jarinya sudah lincah bermain di keyboard. Melalui email yang dikirim Fitri ia meng-klik link yang mengarahkannya ke Pornhub, sebuah situs khusus berisi ribuan video p***o yang sebetulnya diblokir oleh pemerintah. Melalui akses VPN, ia berhasil memasuki situs dewasa yang bermarkas entah di belahan dunia mana.
Ia hampir terpekik kaget ketika layar monitor menampilkan adegan dirinya. Fitri ternyata benar. Adegan dirinya sedang bermasturbasi diupload ke situs itu dan kini ia sedang melihat buktinya. Video itu berdurasi lima menit saja, tapi terasa lama sekali. Shirley berpikir-pikir bagaimana mungkin clip itu bisa ada di sana karena hanya dua gadget yang menyimpan yaitu smarphone miliknya dan milik Zakaria.
Suaminyakah yang mengirim ke orang lain sebelum orang itu upload ke situs ini? Atau diam-diam saat di-reparasi pada sebuah toko bulan lalu ada data ponselnya dicuri? Atau mungkinkah ini hasil kerja hacker? Segalanya mungkin.