57

1007 Words

Brian menunggu di depan ruang ICU sendirian. Ia belum pulang, mandi bahkan makan. Ia sangat cemas. Apalagi ia tidak bisa menunggu Restu di dalam. Suasana di sana juga kurang menyenangkan. Beberapa kali perawat memanggil keluarga pasien dan mengabarkan kalau kondisi pasien yang ada di ruang ICU mengalami penurunan dan bisa meninggal sewaktu-waktu. Brian takut hal itu akan terjadi juga padanya. Sesekali Brian memandang flashdisk yang diberikan Restu padanya lalu menghela nafas panjang. “Bri,” seorang pemuda sebaya dengan Brian menepuk bahu Brian yang termangu. Brian menoleh ke arah pemuda itu dan memberikan sedikit pelukan. “Man,” sapa Brian. “Terima kasih banget kamu sudah mau kemari,” ujarnya sambil melepas pelukan antar lelaki itu. “Ada apa sebenarnya?” Tanya Manu. “Entahlah, aku tida

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD