c h a p t e r 0 6

1718 Words
Dari sekian banyak hal yang Dila tahu tentang Delo, Nadhif adalah salah satunya. Delo pernah cerita, bahwa ia sempat punya masalah dengan salah satu anak IPS bernama Nadhif. Awalnya Dila juga tidak percaya. Rasanya enggak mungkin aja cowok selugu dan sebaik Delo bisa punya masalah dengan orang lain. Tapi sewaktu akhirnya Dila melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Delo dan Nadhif berpapasan, tampaknya yang Delo ceritakan itu memang serius. Dila melihat dengan jelas, kedua bola mata hitam Delo dan Nadhif sama-sama memancarkan tanda permusuhan yang kentara. Sayang, sampai akhirnya Dila putus dengan Delo pun, Dila masih belum tahu apa penyebab cowok itu bermasalah dengan Nadhif. Delo tidak pernah cerita secara detail. Dila paham, itu mungkin privasi Delo. Makanya, Dila juga tidak mau repot-repot bertanya lebih lanjut. “Dila duduk sama Nadhif?” Sepanjang Dila keluar kelas sampai sekarang berdiri di halte, Delo masih saja mengekor di belakang Dila. Dila benar-benar risi. Cowok itu terus-terusan menanyakan hal yang sama sejak tadi. Padahal dia sudah jelas-jelas melihat Dila duduk di tempat yang sama dengan Nadhif, tapi kenapa cowok itu masih aja bertanya? “Dila.” “Apaan sih, Del?” “Tadi duduk sama Nadhif?” “Iya,” jawab Dila akhirnya. Lelah. “Selama UTS bakalan duduk sama dia?” “Iya.” “Pindah.” “Apa?” “Pindah,” ulang Delo. “Jangan duduk sama dia.” Dila menatap Delo jengkel. “Apaan sih, ya enggak bisalah. Itu kan udah dari sananya.” “Bilang ke gurunya, disuruh pindah sama Delo, gitu.” “Ya gak bisalah!” Dila makin sewot. “Udah deh, jangan bikin yang aneh-aneh. Lagian, emang kenapa sih kalau gue duduk sama Nadhif? Dia orangnya gak macem-macem kok.” “Belum,” ralat Delo. “Orang tadi dia nawarin gue contekan. Jarang-jarang ada temen sebangku yang kayak gitu. Biasanya kan mereka sibuk sendiri.” “Dia itu enggak ada kerjaan, makanya nawarin contekan.” “Lo juga enggak ada kerjaan, ngekor-ngekor ke sini.” Telak. Delo langsung bungkam dibuatnya. Tak beberapa lama, bus yang ditunggu Dila akhirnya datang. Dila langsung melangkah masuk begitu bus menepi. Tanpa disangka-sangka, Delo juga ikut masuk ke dalam dan duduk di sebelah Dila. Terang aja, Dila yang tadinya sudah ingin bersantai duduk di dalam bus sambil melihat keluar jendela, seketika terperanjat begitu menyadari bahwa orang yang duduk di sebelahnya adalah Delo, cowok yang sejak tadi mengikutinya seperti anak bebek. “Kok lo ikutan naik?” kata Dila kaget. Yang ditanya malah tampak cuek, acuh tak acuh mengangkat bahunya. “Soalnya Dila juga naik.” Dila menatap Delo tak percaya. “Kan rumah lo enggak lewat sini?” Alih-alih membalas ucapan Dila barusan, Delo justru membetulkan posisi duduknya jadi menghadap Dila penuh. Raut wajah cowok itu tiba-tiba serius. Matanya melihat Dila dengan lekat. “Dila,” kata Delo memulai. Meski Dila hanya diam tak merespons, tapi Delo tahu bahwa cewek itu tengah menunggu kata-kata selanjutnya yang akan keluar. “Jangan terlalu deket sama Nadhif,” ucap Delo melanjutkan. Usai mendengar pernyataan Delo barusan, Dila malah semakin menatap Delo tak mengerti. Maksud cowok itu apa sih? Kenapa dia masih terus bersikeras menyuruh Dila agar tidak berada di dekat Nadhif? Memang apa yang salah dengan cowok itu? “Kenapa?” tanya Dila akhirnya. Delo diam, tampak berpikir. “Coba kasih tau gue alesan kenapa gue enggak boleh deket-deket sama Nadhif. Sejauh ini yang gue tau, dia orangnya fine-fine aja kok,” ujar Dila lagi. Delo menggeleng. “Jangan aja. Jangan terlalu deket sama dia.” Makin-makin aja kening Dila berkerut dalam. Belum sempat cewek itu mengutarakan rasa herannya sekaligus bertanya lebih lanjut apa yang salah dengan Nadhif, Delo sudah lebih dulu bangkit berdiri lalu menyuruh sopir bus untuk berhenti. “Hati-hati di jalan, Dila,” pesan Delo sebelum akhirnya turun dari bus. Selepas kepergian Delo, Dila langsung termenung di tempatnya. Sampai saat ini, Dila masih belum mengerti apa alasan Delo melarang Dila untuk dekat-dekat dengan Nadhif. Sempat terlintas di benak cewek itu bahwa Delo menyuruhnya jauh-jauh dari Nadhif adalah semata-mata karena Delo sendiri punya masalah pribadi dengan Nadhif. Tapi toh, kalaupun iya itu alasannya, memang apa hubungannya dengan Dila? Dila tidak pernah punya masalah apa-apa sebelumnya dengan Nadhif, jadi untuk apa dia malah menghindari cowok itu? Lagi pula, Delo juga bukan siapa-siapa Dila lagi, jadi wajar kalau seandainya Dila lebih memilih untuk mengabaikan larangan Delo barusan. Ÿ Ÿ Ÿ*** Setelah insiden salah kirim kemarin malam, Dila jadi malu banget untuk berangkat sekolah. Tadinya, cewek itu berniat mengirim pesan minta maaf karena telah salah kirim. Tapi begitu dipikir-pikir, Dila langsung mengurungkan niatnya karena dengan begitu, Delo bakalan tahu bahwa Dila sedang membicarakannya di SMS. Besoknya, selama pelajaran berlangsung, konsentrasi Dila benar-benar buyar. Entah ada magnet apa yang selalu menarik kepalanya untuk menoleh ke belakang, ke tempat Delo berada. Dan kebetulan sekali, saat itu juga, Dila mendadak harus sekelompok dengan Delo di pelajaran Bahasa Indonesia. Sepanjang mengerjakan tugas kelompok yang diberikan, Dila sama sekali enggak bisa tenang. Dikit-dikit matanya melirik ke arah Delo yang tengah serius menulis. Duh, Delo ini kenapa susah banget dibaca sih? Sebenarnya cowok itu udah menerima pesan dari Dila atau belum? Kalau udah, kenapa reaksinya flat banget? Atau jangan-jangan, itu tanda kalau Dila ditolak oleh Delo?! Memikirkan hal horor barusan, badan Dila refleks bergidik ngeri. Dila bahkan belum ambil start, tapi Delo udah menolaknya duluan?! Tak tahan dengan berbagai pemikiran yang rasanya bisa membuat kepala meledak, Dila pun memutuskan untuk bicara. "Del?" panggil Dila pelan, juga hati-hati. Yang dipanggil perlahan mengangkat wajah, melayangkan tatapan bertanyanya pada Dila. "Itu, Del, SMS … yang tadi malem,” kata Dila memulai. "SMS?" Delo mengernyit. Dila menelan ludah. "Iya, SMS. Ada SMS dari gu—" "Enggak," jawab Delo langsung, menggeleng cepat. "Enggak ada SMS." "Beneran?" Delo mengangguk yakin. "Hape gue kan lagi rusak. Jadi SMS-nya gak mungkin masuk." Mendengar pernyataan Delo barusan, Dila tanpa sadar membuang napas leganya keras. "Oh, ya udah deh kalau gitu. Enggak jadi, Del." Dila cengengesan. Setelahnya, barulah Dila bisa bernapas dengan tenang. Ringisan kecemasan yang tadi pagi menghiasi wajah Dila, kini telah berganti dengan senyum penuh kebahagiaan. Ajaibnya, senyuman itu terus awet sampai bel tanda pulang berbunyi. Dila terus memamerkan senyumnya bahkan saat berjalan melewati lapangan parkir sekolah sekalipun. Lalu setelah itu, tebak apa yang terjadi? Ada Delo di parkiran! Cowok itu sedang sibuk mengeluarkan sepedanya dari parkiran sepeda khusus kelas sepuluh dan kelas sebelas. Dengan sabar, Dila sengaja menunggu Delo mengendarai sepedanya keluar dari parkiran. "Delo!" sapa Dila riang, begitu melihat Delo lewat dengan sepedanya. Delo refleks menghentikan sepedanya dan menoleh. "Eh, Dila." Cowok itu tersenyum. "Baru mau pulang?" tanya Dila basa-basi. Delo mengangguk. "Sama, dong." Dila nyengir. "Arah mana, Del? Lurus apa belok?" "Belok." "Wah! Kalau gitu ngelewatin halte bus yang ada di sana dong? Gue soalnya biasa naik bus di situ kalau mau pulang," kata Dila, menatap tempat di boncengan sepeda Delo penuh arti sembari asik cengar-cengir. "Iya, lewat situ." Delo mengangguk. Dila tertawa keras. "Nah, iya, Del, gue kalau mau pulang suka jalan dulu ke sana. Kadang ya, gue suka pegel kalau jalan. Eh, giliran udah sampe sana, taunya busnya udah pergi. Padahal gue cuma telat beberapa detik loh." "Iya?" Delo melihat jam tangannya sekilas. "Lima menit lagi busnya berangkat, Dil. Enggak jalan sekarang?" Tawarin nebeng kek! batin Dila gemas. Merasa percuma dengan niatnya mengkode Delo, Dila pun memutuskan untuk bicara secara terang-terangan. "Makanya itu, Del. Supaya enggak telat, gue boleh nebeng, ya?" pinta Dila langsung. Dan tepat seperti yang Dila perkirakan, Delo pun balas mengangguk seraya melirik tempat boncengannya. "Boleh. Enggak apa-apa kan sambil berdiri?" Dila mengangguk semangat dan tersenyum lebar. "Enggak! Enggak pa-pa, kok!" Detik berikutnya, Dila sudah berdiri tegak di pijakan kaki yang berfungsi sebagai tempat boncengan sambil memegangi pundak Delo. Walaupun saat ini hanya ada keheningan yang melingkupi, tapi Dila udah bahagia kok meski hanya berboncengan tanpa suara seperti sekarang. Tak lama kemudian, sepeda yang dikendarai Delo sampai di tempat tujuan. Tepat waktu. Dila segera turun dari boncengan sepeda milik Delo, melambai singkat, lalu berlari masuk ke dalam bus. Beberapa detik kemudian, bus pun mulai berangkat. Selepas kepergian Dila, senyum yang tadi Delo pasang seketika luntur, diganti dengan ringisan panik bercampur lega. Cowok itu kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celana, membuka satu pesan singkat yang didapatnya kemarin malam lalu membacanya kembali. Sebuah SMS dari Dila. Begitu melihat foto sekaligus pesan yang Dila kirim kemarin malam, tanpa pikir panjang, Delo langsung menemui kakak perempuannya yang berprofesi sebagai wedding organizer. Cowok itu bilang, "Kak, Kakak bisa bantuin temen aku ngadain acara nikahannya, nggak?" "Bisa. Kapan?" Delo menggaruk pipinya pelan. "Enggak tau deh. Mungkin sepuluh tahun nanti?" "Hah?! Lama amat?!" "Iya, dia minta aku buat bantuin nyelenggarin acara nikahannya nanti. Bisa nggak, Kak?" "Lah, emang dia bilangnya gimana?" Delo menyerahkan ponselnya, membiarkan kakak perempuannya itu membaca pesan singkat yang dikirim Dila barusan. Dan begitu Poppy membaca sederet pesan singkat dari ponsel adiknya, seketika itu juga, tawa Poppy meledak. "Apaan, nih? Si Dila-Dila ini sengaja ngirim ini atau gimana?" Delo mengangguk polos. "Iya, baru aja tadi." "b**o banget sih lo! Dia bukan minta lo buat bantuin nyelenggarain acara nikahannya tau! Baca yang bener!" Delo mengernyit bingung, mengambil kembali ponselnya dari tangan Poppy dan membaca lagi pesan dari Dila. "Bener, kok. Nih, 'Delo yang bakalan ngadain acara nikahannya bareng gue'. Maksudnya kan Dila minta bantuan aku buat ngadain acara nikahannya. Dia tau kalau kakak itu wedding organizer." "Lo pura-pura gak ngerti atau beneran g****k sih, Del? Maksud si Dila ini, lo sama dia tuh yang jadi pengantinnya. Yang ngadain acaranya. Gitu loh maksudnya. Ah, gimana sih lo? Sedih banget gue punya adek telmi." Poppy terkekeh geli sembari kembali melanjutkan pekerjaannya. Begitu tahu fakta itu dari kakaknya, Delo mendadak salting sendiri. Cowok itu jadi bingung harus membalas pesan dari Dila dengan kata-kata seperti apa. Saking bingungnya, Delo sampai-sampai ketiduran di kasur dan berujung dengan tidak membalas pesan dari cewek itu. Makanya, sewaktu Dila tiba-tiba bertanya soal SMS kemarin malam, Delo refleks mengatakan hapenya rusak karena terlalu panik dan gugup. Padahal, tadinya Delo sudah memantapkan hati untuk bersikap pura-pura tidak tahu di depan Dila. Tapi ternyata, bahkan saat boncengan tadi pun, Delo benar-benar merasa nervous sampai-sampai enggak berani bersuara untuk mengajak Dila mengobrol. "Kenapa gue jadi bilang hape gue rusak sih," gerutu Delo, mengacak-acak rambutnya frustrasi. Cuma karena satu pesan singkat, otaknya tiba-tiba berubah jadi linglung. Dan cuma karena satu cewek, Delo mendadak gugup enggak keruan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD