Days 12

2734 Words
Sumpah Pernikahan Berkali-kali Marcus membuang nafas. Ia menutup matanya sejenak. Ketika terbuka ia menatap Axton yang ternyata sedang menatapnya. Dan bunyi pelatuk selalu bersiap ditarik Thomas untuk menembak isi kepala Marcus tanpa tedeng aling-aling. Tidak merasa ragu barang secuil pun, membuat Marcus menyerah. “Baiklah.” Detik berikutnya Marcus mulai mengutarakan hal yang biasa ia lakukan untuk memastikan keyakinan sepasang suami istri kala mengikat sebuah janji di pernikahan. Pria tua itu menatap Axton yang terarah lurus memandang Milly karena gadis itu menunduk, terus meneteskan air mata. “Axton Bardrolf, bersediakah kau menerima wanita ini sebagai istrimu? Menjaganya dalam keadaan sakit maupun sehat, serta dalam keadaan susah maupun senang sampai mau memisahkan?” Pertanyaan Marcus itu dijawab Axton dengan santai tanpa beban. Tatapannya terus mengunci bola mata Milly. “Ya. Aku menerima jalang ini.” Milly memandang tak percaya kepada Axton. Cairan bening terus membasahi pipinya. Hatinya terasa sesak dan perih mendengar panggilan hina yang entah berapa kali diucapkan Axton padanya. Namun ini terasa jauh lebih buruk, menghancurkannya sampai ke dasar karena Axton mencemoohnya di depan altar, di hadapan salib besar, juga di hadapan Tuhan. Seakan-akan harga dirinya begitu rendah, tidak ada nilainya. Seketika harapan Milly tentang pernikahan indah yang bahagia juga penuh cinta dan selalu diimpikannya menjadi hancur, pecah berkeping-keping bersamaan dengan suara Marcus yang berkumandang, bertanya terkait hal serupa padanya. “Milly Kincaid, bersediakah kau menerima pria ini sebagai suamimu? Menjaganya dalam keadaan sakit maupun sehat, serta dalam keadaan susah maupun senang sampai mau memisahkan?” Milly perlahan menoleh. Bibirnya bergetar dan hendak menyuarakan penolakan, Axton segera menyela dengan cepat tanpa melepaskan pandangannya dari gadis itu, “Tidak perlu menunggu jawabannya Pak Tua. Ia sudah menerima lamaranku tadi. Kau bisa melewati bagian ini.” Milly menggeleng penuh permohonan pada Marcus, dan dibalas Marcus dengan sorot pedih seakan meminta maaf. Ia juga terdesak dan nyawanya hampir berada di ambang maut jika tidak menurut. Kemudian membuang nafas pendek, ia melanjutkan, “Jika itu yang kau inginkan Nak, aku akan pindah ke tahap selanjutnya.” “Kalian dipersilahkan untuk saling menukar cincin.” Marcus mengikuti kemauan Axton. Pria tua itu berdiri di antara Axton dan Milly dengan Thomas yang berkali-kali menekan pistol di pelipisnya. “Robert…” panggil Axton. Robert yang paham lekas membuka borgol di tangan Milly. Rasa nyeri dan kebas langsung dirasakan kedua pergelangan tangan Milly. Sementara Axton mulai merogoh sekotak beludru di kantongnya. Membukanya, mengambil cincin berkilau itu lalu menarik tangan Milly, namun gadis itu enggan. “Tidak…” Lantas Axton menyentaknya dan memaksa menyematkan cincin itu di jari manis Milly. Setelah itu, ia mendongak, menatap gadis itu tepat di mata. “Sekarang giliranmu.” “Pasangkan cincin ini di jariku atau Bibi yang sangat kau sayangi akan bernasib sama seperti Ibumu.” Milly menatap Axton nanar. Air mata tidak henti-hentinya menodai wajahnya. Ia tidak menyangka ada manusia picik seperti Axton di dunia ini. Mengancam, mendesak orang pada sebuah pilihan demi kepentingannya. Sinar kebencian kuat terpancar jelas di mata Milly, menembus netra Axton. “Kau pria kejam…” desisnya mengumpat lemah. Lalu detik berikutnya, Milly sudah menuruti Axton. Gadis itu pada akhirnya mendorong cincin, membuat benda kecil itu melingkar di jemari Axton. Setelah itu Milly memejamkan matanya penuh penyesalan serta kesedihan. Cairan bening itu tiada hentinya mengalir di wajahnya saat sadar bahwa dirinya telah menyelesaikan acara tukar cincin pada pernikahan paksa yang dilakukan lelaki itu kepada dirinya. Bukan karena merasa bahagia, melainkan sebaliknya. Ia merasa hancur. Pistol seketika diturunkan Thomas dari Marcus, membuat lelaki itu lantas bernafas lega, walau di satu sisi ia merasa bersalah pada Milly. Apalagi sekarang bahu gadis itu berguncang hebat akibat menangis di hari pernikahan yang sejujurnya menurut Marcus jauh dari kata resmi. Tapi mereka sedang berdiri di tempat sakral. Dan ini merupakan kefatalan bagi Marcus. “Lanjutkan Pak Tua,” titah Axton lagi menghempaskan Marcus ke realita. Setelah itu Marcus berkata bahwa mereka boleh saling mencium satu sama lain. Di detik itu juga Axton langsung meraih tengkuk Mily dan mencium gadis itu. Milly yang tadi menangis, terkesiap. Bola matanya sontak membulat penuh. Ia meronta, berusaha melepaskan diri tapi lengan besar Axton segera melingkar di pinggang makin merapatkan tubuh mereka. Ciuman itu terasa liar, panas dan bernafsu. Sangat tidak pantas dilakukan di hadapan altar suci bagi Milly. Axton seperti menyelipkan beragam emosi negatif di dalamnya. Dan di antara ciumana buas itu, Marcus memalingkan wajah, menatap Thomas. “Kau sudah puas Thomas?” gumam Marcus pahit. Thomas hanya diam dengan wajah tenang, walau dalam hati ia mengalami pergumulan keras. Tapi sekali lagi, tidak ada yang bisa dilakukan Thomas. “Kau tahu bahwa aku selalu menjadi pengecut dan kau kembali membuatku mengulangi kesalahan yang sama pada Tuan yang berbeda.” *** Milly terduduk di lantai dan menangis. Pakaiannya belum berganti. Jas hitam lelaki itu masih melekat di tubuhnya. Dan sekarang ia berada di rumah Axton di Seattle. Entah berapa banyak kekayaan yang dimiliki oleh lelaki itu sebenarnya hingga memiliki rumah dimana-mana, Milly tidak peduli. Ia hanya ingin terbebas dari Axton. Bahkan tadi ia sempat menampar Axton, membalas perbuatan lelaki itu yang sudah sangat keterlaluan memperlakukan dirinya, namun tetap itu tidak sebanding dengan semua perbuatan biadab lelaki itu selama ini. Dan mengikatnya dalam janji suci pernikahan secara paksa adalah yang terburuk dari segalanya. Apa sebenarnya yang direncanakan lelaki itu? Saat mata Milly berserobok dengan cincin pernikahannya di jari manis. Ia segera melepasnya kasar, membuangnya ke sembarang arah. Perlahan cincin itu pun menggelinding hingga menyentuh sudut almari yang posisinya tidak jauh dari jangkauannya. Kilauan cincin itu sama sekali tidak membuat ia merasa senang, Milly justru menangis sesegukan. Ia ingin menolak kenyataan yang telah terjadi. Ia tidak pernah ingin menjadi istri dari Axton Bardrolf, lelaki bejat yang telah merenggut nyawa Ibunya juga menodainya dengan sangat buruk. --- Axton duduk di sofa hitam. Dua kancing kemeja putih bagian atasnya terbuka. Ia menghisap rokok dan menghembuskannya, sementara Thomas mulai menyerahkan beberapa dokumen padanya. “Ini dokumen yang anda minta Tuan Ax.” Menyelipkan rokok di antara jemarinya, Axton mengambilnya. Mulai memilahnya dan membacanya dengan seksama, meski sesekali ekor mata Axton melirik ke pintu dimana suara tangis Milly terdengar samar. “Thomas bisa kau atasi suara berisik yang mengangguku.” Thomas tahu maksud dari kalimat Axton. Suara berisik itu merupakan tangisan Milly dan dengan berat hati Thomas lagi-lagi patuh, mengundurkan diri untuk melaksanakan perintah Axton. Axton tidak menoleh sedikitpun pada Thomas dan hanya memusatkan perhatian pada dokumen-dokumen di tangannya sambil terkadang meniup kembali asap rokok. Tidak lama kemudian terdengar teriakan Milly yang memberontak yang mendadak berangsur lenyap. Dalam sekejap suasana menjadi hening, sedangkan Axton tetap setia pada dokumen-dokumen di tangannya. Tampak serius menelitinya. Perlu diketahui bahwa Axton memiliki bisnis restoran, club dan casino, juga bisnis perhotelan yang tersebar di Amerika Serikat, salah satunya berada di Los Angeles. Bukan hanya itu. Perusahaan teknologi besar di bidang software development dan telah digunakan oleh beberapa rumah sakit di Amerika Serikat yang cukup terkenal berada dalam naungannya. Memiliki banyak bisnis yang sukses menjadikan dirinya cukup berpengaruh di Amerika Serikat. Hingga tidak susah bagi Axton untuk membuat sebagian orang tunduk padanya. Selain itu, selama ini masyarakat pun menilainya sebagai sosok yang santun dan dermawan. Karena terkadang Axton memberikan kekayaannya sebagian untuk disumbangkan dalam kegiatan-kegiatan sosial. “Kau sepertinya sudah membereskannya. Apa yang kaulakukan padanya Thomas?” Axton melirik Thomas sekilas yang telah muncul di sebelahnya. “Robert mengikat kaki dan tangannya dan saya menyumpal mulutnya dengan kain Tuan Ax.” Kemudian Thomas membungkuk hormat. “Sekarang anda bisa menyelesaikan pekerjaan anda dengan tenang Tuan Ax.” “Terimakasih Thomas.” “Apa anda membutuhkan sesuatu yang lain Tuan Ax?” Tangan Axton memilah dokumen terhenti. Ia tiba-tiba teringat pada sesuatu. Sorot matanya kemudian berpendar nakal membayangkan rencana yang dari awal ingin ia laksanakan untuk membuat gadis itu semakin hancur. Mengangkat kepala dari dokumen, Axton menatap Thomas. “Hubungi kembali Maddie dan pastikan besok ia menemuiku Thomas.” “Apa anda tetap akan mempekerjakannya sebagai—” “Tentu saja. Ia tetap akan bekerja untukku Thomas,” interupsi Axton cepat pada Thomas. Ia kemudian mematikan api rokoknya di atas asbak. “Lagi pula ia perlu belajar banyak hal tentang pekerjaan Ibunya.” “Maafkan saya Tuan Ax. Saya berpikir bahwa gadis itu sekarang telah menjadi istri anda. Jadi jika hal ini sampai terjadi, anda bisa—” “Tidak perlu mencemaskanku Thomas. Cukup lakukan apa yang kukatakan.” Lagi-lagi Axton memotong, terlihat tidak ingin ditentang. Ia meletakkan beberapa dokumen di meja karena sudah selesai melihatnya. “Baik Tuan Ax.” Ada sedikit keraguan dalam suara Thomas tapi ia tetap melaksanakan perintah Axton, berlalu dari sana. Sepeninggalan Thomas, Axton memutar kepalanya ke arah pintu dimana tangis gadis itu telah sirna. Beranjak dari sofa, ia pun melangkah menuju pintu itu. Memegang kenop dan membukanya. Axton lalu menyandarkan tubuhnya ke kusen pintu. Bersedekap, memandang Milly yang terbaring di ranjang dengan tangan dan kaki yang terikat menyatu oleh tali. Gumpalan kain berada di antara mulutnya. Milly menatap penuh kemurkaan padanya. Lalu tanpa sengaja mata Axton melihat cincin pernikahan tergeletak di dekat almari. Masuk ke dalam, ia memungutnya. “Berikan tanganmu.” Axton duduk di tepi ranjang. “Hmmmpph,” protes Milly melotot dengan sisa air mata. “Mengesalkan.” Axton spontan meraih tangan Milly yang terpenjara borgol, menyentak kasar dan mulai menyematkan cincin itu. Dengan mata sembab, Milly memandang punggung tegak Axton yang beranjak meninggalkannya. “Istirahatlah yang tenang jalang. Besok kau akan melewati hari yang panjang bersamaku.” Lalu pintu itu tertutup, menghasilkan debaman pelan. *** Keesokan harinya, Axton berdiri di atas kapal, menikmati angin sepoi-sepoi laut yang bertiup hingga mengacak beberapa rambutnya. Ia menyesap sampanye dengan nikmat. Lautan biru terbentang luas dan langit terlihat cerah dengan beberapa ekor burung yang turut beterbangan. “Tuan Ax,” panggil Maddie dari belakang dan Axton berbalik. “Kau sudah selesai Maddie?” Maddie merupakan Bos Kecil di salah satu Club dan Casino milik Axton. Ia memiliki bentuk tubuh agak berisi dengan rambut sebahu yang dicat berwarna merah. Tato kupu-kupu terukir di sekitar lehernya. Maddie selama ini bertugas untuk menerima para wanita malam yang ingin bekerja di Club dan Casino. Tidak hanya itu, ia selalu mengawasi dan mengintruksi para wanita malam itu untuk bisa menghibur para pengunjung dengan tarian erotis, menguasai tiang dansa di panggung dengan baik, juga memuaskan nafsu para pria hidung belang. Wanita itu pula kerap menjadi teman mengobrol Axton selain Fernandez. Juga membantu Axton dalam misi liciknya waktu membuat berita kematian palsu tentang Milly. “Apa aku pernah mengecewakanmu Tuan Ax?” respon Maddie yang menyelipkannya rokok di bibir merah terangnya, memantiknya. Lalu menghirup dan membuang asapnya ke udara. Axton tertawa rendah dengan kata-kata sombong Maddie. Ia lalu menandaskan sampanye dalam satu teguk. Memberikan gelas itu kepada Maddie yang lantas segera dipegang oleh wanita itu dengan senyum senang. “Aku ingin melihatnya.” “Kau akan terpukau dengan hasil karyaku Tuan Ax.” *** Tidak lama kemudian Axton telah berada di ruang disko dan bar pada kapal pesiar ini, sementara Maddie berdiri di sampingnya. Dua anak buah Maddie yang tadi mendandani dan mempermak Milly lantas menuju ke arah Maddie dengan senyum jahat. “Bagaimana?” goda Maddie saat Axton melangkah menuju Milly dan berputar mengelilinginya, menelusuri setiap jengkal tubuh gadis itu dengan seringai pelecehan. Itu membuat Milly berdiri tidak nyaman. Matanya memanas. Merapatkan jubahnya. Berharap bra bertali tipis dan dalaman G-String yang berada di baliknya tidak tampak, tapi percuma saja karena jubah ini dirancang transparan. Dan semua yang ia kenakan saat ini adalah hasil paksaan Maddie beserta anak buah sialannya. Dilanjut polesan make up yang menunjukkan kesan nakal dan berani di wajahnya. Terlebih warna lipstik yang mencolok murni melengkapi penampilan seksinya. “Kau membuatnya menjadi jauh berbeda Maddie.” “Dan sepertinya kau sangat menikmati yang kau lihat Tuan Ax,” usil Maddie lagi mengembuskan asap rokoknya. “Berapa angkaku kali ini?” Axton tersenyum miring, sementara hati Milly mencelos. Tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Terlebih ketika mendengar kata-kata Axton selanjutnya, “Aku berikan kau angka 8 dari 10 dalam kategori mengubahnya menjadi wanita penghibur, Maddie.” “Oh, kau membuatku tersanjung Tuan Ax.” Maddie tergelak. Axton berpaling pada Milly. Mereka beradu tatap untuk beberapa saat hingga Axton bisa melihat percikan emosi kecil di bola mata itu, berontak penuh amarah namun sarat akan ketidakberdayaan. “Jadi bagaimana penilaianmu terhadap gadis ini Maddie?” Maddie langsung menjawab dengan lancar disertai sorot mata gemilang. Tawanya juga mendadak mereda. “Gadis ini jelas memiliki bentuk tubuh yang sempurna Tuan Ax. Kupastikan kau bisa meraup untung yang sangat banyak jika kau menjadikannya sebagai salah satu penari erotis di Clubmu.” “Kau yang terbaik dalam meramalkan Maddie,” puji Axton pada Maddie dan semakin membuat Milly merasa tertohok dan hina. Dengan cepat ia memalingkan muka dari Axton. “Aku juga memikirkan hal demikian.” Axton lalu dengan lancang meremas bokong bulat Milly. Itu membuat Milly tersentak seperskian detik sebelum menepis dan menjerit lantang, “Jauhkan tangannmu dariku!” Dan pada detik itu Maddie langsung bertindak, maju dan memberi hukuman pada Milly. Ia menjambak rambut gadis itu hingga pekikan kesakitan dihasilkan Milly. “Berani-beraninya kau berteriak di depan Tuan Ax!” Sementara Axton berakting tersenyum pahit menyaksikan rintihan Milly. Detik selanjutnya, Axton sudah duduk nyaman di sofa sambil menyetel musik sensual. Berlanjut menyalakan TV yang memuat rekaman CCTV beberapa penari erotis terpanas dan menjadi juara di Clubnya yang disediakan Maddie sesuai perintahnya. Milly lalu tersungkur di lantai di dekat sepatu Axton. Rambutnya menjuntai menutupi sebagian wajahnya, tampak tidak beraturan. Buliran air mata itu hampir melesak di matanya. Dan tepat ketika ia beradu pandang dengan Axton, penuh pancaran kebencian berbaur kepedihan, Maddie menamparnya membuat kepalanya tertolak ke samping. Mulut Milly spontan agak terbuka saking terkejutnya. “Jangan pernah menatap Tuan Ax seperti itu jalang!” tegur Maddie emosi sarat akan bentakan. Axton lantas membungkukkan sedikit tubuhnya. Meraih dagu Milly, mengapit di antara jempol dan telunjuk, membuat gadis itu menatapnya. “Menarilah untukku.” “Apa?” Melepaskan tangannya dari wajah Milly, Axton kemudian menoleh pada sebuah tayangan di TV. Berujar santai, “Seperti wanita itu. Ia adalah penari erotis nomor satu di Clubku dan kau harus menirunya.” Spontan Milly menoleh, mengikuti arah pandang Axton. Seketika dadanya Milly terasa seperti dihimpit batu besar hingga membuat nafasnya hampir terengut. Sangat menyesakkan. Hatinya pun menjadi hancur berantakan menyadari sosok wanita yang terpampang di layar TV itu… adalah Ibunya. Kepala Milly lantas menggeleng miris. “Tidak…” Pada layar itu Ibunya berputar di tiang dansa tanpa busana. Bahkan salah satu pria tua berada di panggung dengannya, mencoba menggerayangi payudaranya. Namun Ibunya tidak tampak keberatan. Malah mengalungkan kedua lengannya ke belakang leher pria tua itu dan mengigit bibir, memicu sorakan beberapa penonton. “Hentikan tangismu dan mulailah pekerjaanmu jalang!” bentak Maddie yang menarik paksa Milly berdiri dan membawanya ke tiang dansa di tengah ruangan. Axton menuangkan sampanye yang ada di meja ke gelas. Menyeruputnya tanpa melepaskan tatapan dari Milly yang sekarang disorot oleh cahaya lampu warna-warni di ruangan ini, dimana penerangannya remang-remang. Gadis itu menatap Axton dengan tajam. Genangan terkumpul di pelupuk matanya. Kedua tangannya kembali mengepal kecil dan ia masih bersikeras untuk tidak bergerak ataupun melakukan keinginan lelaki itu. “Aku akan memberikan pilihan padamu.” Axton menjentikkan jemarinya di gelas kaca sambil menatap Milly dengan seringai licik. “Menari di depanku atau menari untuk mereka.” Milly menelan ludahnya kasar ketika melihat Axton menatap ke arah layar yang memuat sorakan kesenangan para penonton. “Maddie dan aku sepakat bahwa kau bisa menjadi omset yang luar biasa untuk bisnisku.” Kembali Axton menatap Milly tepat di mata. “Jadi katakan padaku, apa keputusanmu?” Kepalan tangan Milly makin kuat dan bersamaan dengan setetes air mata yang kembali membasahi pipinya, ia mengumpulkan seluruh keberanian yang ia punya untuk menjerit mengumpati Axton, “Aku bersumpah, aku akan membunuhmu keparat!” Dan di detik itu Maddie kembali menamparnya untuk kedua kalinya. Kepala Milly lagi-lagi tertolak ke samping. Tapi tamparan kali ini cukup keras. Hingga dengan tangan gemetar Milly memegang pipinya, berlanjut pada bibirnya yang mengucurkan sedikit darah. “Kau tidak seharusnya mengatakan kata-kata itu kepada Tuan Ax! Kau harus menghormatinya jalang!” semprot Maddie dengan amarah. “Hentikan Maddie.” Axton beranjak dari sofa dan menghampiri Milly yang menyorot sengit ke arahnya meski begitu tetesan air mata terus mengalir di pipi gadis itu. “Aku akan menunggu kapan waktu itu tiba…” Axton menggantungkan kalimatnya. Lalu menjulurkan telunjuknya menyentuh dagu Milly, mengangkatnya. Menatap ke dalam bola mata gadis itu lekat dan menekan setiap kata-katanya, “Waktu dimana kau akan membunuhku Milly Kincaid.” *** Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD