Kejutan Pahit
“Anda Milly Kincaid?” tanya Thomas yang berjaga di pintu ruang kerja Axton.
Milly yang tampak ling lung akibat tidak terbiasa dengan luasnya setiap area di gedung ini lantas menatap Thomas. Ia tadi diperintahkan untuk menuju ke lantai ini. Tepatnya lantai 30. Semburat senyum tipis dipamerkannya.
“Kau teman Andez?”
Thomas berdeham ketika meneliti penampilan Milly dari atas sampai bawah secara terang-terangan. Gadis itu mengenakan dress peach tanpa lengan namun panjangnya melewati lutut. Juga sepatu converse. Padanan yang cukup aneh. Terlebih masker bunga-bunga yang menutupi sebagian wajah gadis itu.
“Saya bukan teman Tuan Andez.”
“Lalu?”
“Anda tidak perlu tahu siapa saya. Mari saya antarkan anda bertemu dengan Tuan Ax. Karena Tuan Ax sudah menunggu anda sejak tadi.”
“Terimakasih. Jadi Tuan Ax adalah teman Tuan Andez?” tanyanya pada Thomas ketika Thomas membuka pintu dan mempersiapkannya untuk melangkah ke dalam.
Namun alih-alih pertanyaan itu terjawab, Thomas justru membatu di tempat. Begitu pula dengan Milly. Jika muka Milly sudah memerah seperti kepiting rebus, maka lain halnya dengan Thomas yang masih tampak tegap dan tenang, walau ia merasa tidak nyaman.
“Axton…” desah Chloe dengan wajah merah padam terbakar gairah.
“Hentikan…”
“Ini yang kau mau bukan?” Axton dengan tatapan tanpa minat, masih sibuk memainkan jemarinya di inti Chloe, bergerak dengan tempo cepat.
“T-tuan Ax,” dehem canggung Thomas, mengintrupsi aksi mereka. Axton lantas menoleh, melepaskan cekalan di kedua tangan Chloe yang dikurungnya di atas dan pada detik yang sama sebuah tamparan tak ayal mendarat di pipinya. Cukup nyaring.
Chloe baru saja menamparnya demi menjaga martabatnya. Itu membuat pipi Axton terasa kebas.
Milly spontan menutup mata sejenak. Begitupula dengan Thomas.
Wajah Chloe memanas dan tampak kesal. “Dasar menyebalkan!” makinya pada Axton.
Axton menggerakkan rahangnya, mengusap pipinya itu dengan satu tangannya yang bersih. Kemudian mengeluarkan sapu tangan di kantongnya, melap sisa cairan Chloe di jemarinya.
Sedangkan Chloe, buru-buru merapikan pakaiannya. Lalu berlalu melewati Milly dan Thomas.
Tapi sebelum itu ia berhenti dan memandang galak ke arah Thomas dengan nafas cepat akibat emosi.
“Thomas ingatkan kepada Tuanmu untuk tidak melakukan hal itu padaku. Kau harus mengajarkan Tuanmu untuk bersikap lebih baik lagi!” kilahnya kesal.
Lalu Chloe menoleh ke arah Axton yang tidak menampilkan ekspresi apapun. Menghentakkan kakinya sebelum membanting kencang pintu kerja Axton.
“Kau boleh keluar Thomas.”
Thomas mengangguk walau agak kikuk tapi Axton tampak tidak peduli. Sekarang fokus Axton tertuju pada Milly. Gadis itu tampak tidak nyaman berdiri di sana.
“Duduklah,” ujar Axton kepada Milly ketika terdengar pintu tertutup.
Milly lantas mengikuti Axton yang telah merapikan kancing kemejanya kembali. Lalu bersamaan saat Axton duduk, meletakkan jasnya ke sandaran sofa, Milly pun mendaratkan bokongnya di sofa nyaman itu.
Mereka saling berhadapan untuk beberapa detik sebelum Axton berdiri. “Sebentar.” Menuju ruangan rahasia yang terbuka otomatis di dinding, menampakkan sebuah kamar di sana.
Selama sesaat Milly menunggu.
Dan tanpa sepengetahuan gadis itu, Axton tengah mengirim pesan kepada Thomas lewat ponselnya.
Lalu detik berikutnya, ketika Axton datang dan membawa sebotol alkohol juga dua gelas, bola mata Milly melotot sempurna. Lelaki itu meletakkan gelas dan botol itu di meja. Kemudian duduk dan kali ini berada di sebelahnya. Mulai menuangkan cairan itu dan memberikannya kepada Milly.
“Terimakasih. Tapi aku tidak minum,” tolak Milly halus.
“Kau tahu, menolak minuman itu sangat tidak sopan.”
Ucapan pedas Axton itu sukses membuat Milly merasa serba salah. Ia lantas menerimanya, memegang gelas itu sejenak. Lelaki ini…
Bagaimana bisa ia bertingkah tidak terjadi apapun setelah peristiwa tidak senonoh yang dilakukannya beberapa detik lalu?
Jujur sekarang perasaan Milly mendadak tidak tenang. Ia membuang nafas sejenak, mencoba mengumpulkan ketenangan kembali lalu berkata, “Um… kurasa—”
“Kita belum berkenalan bukan?” Axton menyela usai menandaskan minumannya di gelas. Menambahnya lagi kemudian menatap Milly.
“Aku Axton Bardrolf.”
Senyum kaku terbit di bibir Milly di balik maskernya ketika Axton mengedikkan kepala, memintanya untuk segera menyesap minuman di tangannya. Aura lelaki itu begitu dominan juga terasa menyeramkan, membuat Milly otomatis patuh. Membalikkan tubuhnya sejenak, menurunkan maskernya lalu mulai mencicipi.
Setelah itu menaikkan maskernya ulang, matanya terpejam akibat rasa pahit minuman itu. “Aku Milly Kincaid,” ujarnya kemudian.
Axton menarik sudut bibirnya. “Kau mencari pembunuh Ibumu bukan?”
“Ya.” Tiba-tiba Milly berdiri dan menatap Axton dengan perasaan sungkan.
“Tapi aku minta maaf padamu. Kurasa aku tidak memerlukan bantuanmu. Terimakasih sebelumnya.”
Milly menunduk sekilas kepada Axton. Lalu berjalan cepat menuju pintu tapi pintu itu terkunci. Ia menoleh pada Axton dan kaget waktu sadar lelaki itu sudah tidak ada di sana. Menghilang seperti hantu. Namun tiba-tiba sebuah suara mengejutkannya.
“Kau mencariku?”
Tidak hanya itu saja. Ia sempat memekik sebab Axton meraih pinggangnya, memutarnya kemudian untuk menghadap. Lelaki itu menyorot tajam.
Dengan kasar Milly menelan ludah. “Pintumu tidak bisa terbuka.”
“Itu karena aku menyuruh Thomas untuk menguncinya.”
“Apa?”
“Kau adalah tamuku dan aku tidak ingin ada yang menganggu kita.”
“Tapi aku bukan orang penting,” kilah Milly terkekeh santai di balik masker, mencoba mencairkan suasana yang terasa horor di sekitarnya.
“Kau memang bukan orang penting. Tapi kau adalah anak dari wanita jalang itu.”
Perkataan Axton itu seketika membuat Milly membisu, tampak shock. Ia menatap Axton dan ada binar kelicikan di sorot mata itu, membuat Milly seketika menepis tangan lelaki itu di pinggangnya. Bergerak mundur dengan mata memanas. Lidahnya terasa kelu waktu ia menyuarakan isi kepalanya, menebak,
“Apa kau—”
“Ya.” Axton menyela, tersenyum miring mendekati Milly dengan pelan.
“Aku orangnya. Kau sudah menemukanku.”
***
Kehancuran Menyakitkan
“Turunkan aku!” jerit Milly meronta memukul punggung Axton ketika lelaki berjalan membawanya menuju kamar rahasia di ruangan kerjanya.
Milly tadi sempat ingin melarikan diri lewat jendela kerja Axton. Berniat menghancurkannya, namun batal sebab ia menjadi tertegun selama beberapa detik waktu sadar ketinggian di bawah sana. Lalu sebelum ia menghindar lebih lanjut, Axton telah lebih dulu mengangkat tubuhnya.
“Ah,” ringis Milly ketika Axton melemparnya di ranjang. Tubuhnya terbanting di sana dan kepalanya terasa pening. Sementara ia mengumpulkan kesadarannya sejenak, Axton tiba-tiba menarik kakinya membuat ia meluncur ke bawah.
“Apa yang kau lakukan?!” pekik Milly histeris. Apalagi saat Axton mulai merangkak ke atasnya, menangkap kedua tangannya, mengikatnya dengan dasi yang sebelumnya diambil di atas nakas.
“Menurutmu?” Axton bertanya balik di sela giginya yang menarik kencang simpulan dasi itu, lalu mengaitkannya di ranjang.
Milly menggeleng diliputi perasaan panik. “Tidak. Tidak!”
Axton kemudian selesai memenjarakan tangannya. Ia mengurung Milly di bawahnya dan menyeringai.
“Ibumu pasti begitu menjagamu hm? Ia bahkan menyebarkan berita palsu tentang kematian putrinya sendiri. Buktinya kau masih hidup dan bertahan hingga detik ini.”
Milly menatap sengit Axton. Berusaha berani walau matanya hendak melesakkan air mata.
“Apa maksudmu?”
“Kau dan Ibumu telah bekerjasama menghancurkan keluargaku.”
“Aku dan Ibuku bukan orang seperti itu!”
“Kenyataannya Ibumu menyembunyikanmu dari seluruh dunia. Kau pun turut andil dengan menggunakan benda ini untuk mengelabui semua orang.” Axton melepas masker Milly kasar dan meremasnya kemudian.
Tapi selama beberapa saat ia tercenung melihat keseluruhan wajah Milly. Bukan karena paras kecantikan gadis itu. Melainkan bola mata yang dimiliki oleh Milly. Terkesan mengingatkannya pada seseorang di masa lalunya yang begitu ia rindukan.
Dan Axton baru memerhatikan hal itu sekarang. Tapi secepat kilat ia menepisnya. Menanamkan di benaknya bahwa gadis di hadapannya ini adalah putri seorang wanita jalang. Mereka hanya kebetulan memiliki jenis bola mata yang sama.
“Kau tidak pantas memiliki bola mata yang indah,” bisik Axton dingin.
“Apa?”
Namun detik berikutnya Milly menjerit, “Hentikan!”
Masalahnya Axton mengoyak paksa pakaiannya tanpa ampun. Hingga bunyi kain robek berkali-kali terdengar di ruangan kedap suara itu. Menyisakan tubuh Milly yang tertutup bra hitam dan dalaman dengan warna senada.
“Kau masih ingin mengelak sekarang?” Axton menundukkan wajahnya di perut Milly. Menjilat di sana, lalu naik ke atas, sementara jemarinya menelusup di dalam bra Milly, menangkupnya kemudian.
Senyum nakal diberikan Axton pada wajah Milly karena gadis itu mendesah, “Ah…”
“Le… lepaskan… aku…” Nafas Milly berubah terengah-engah ketika Axton menyurukkan kepalanya di lehernya, memberi kecupan menjijikan di sana bersamaan dengan pijatan di buah dadanya.
“Lepas katamu?” gumam Axton menoleh sekilas pada wajah Milly karena merasakan pipi gadis itu basah akibat air mata yang mengucur.
“Tidak sampai aku puas menghancurkanmu dan membuat Ibumu merasa terpuruk di alam sana.”
“Kau tidak bisa melakukan hal ini padaku!” teriak Milly memalingkan wajahnya muak saat Axton hendak menciumnya. Hingga tangan besar Axton mengapit kedua pipinya.
“Let see, jalang.”
“Kau pria kejam!” maki Milly dan membuang ludah di muka Axton. Spontan mata Axton terpejam sesaat. Batal menciumnya. Lelaki itu lalu menggeram dan mengusap wajahnya. Menatap nyalang Milly.
“Ya. Dan kekejaman itu sebentar lagi akan kau rasakan dariku.”
Setelah itu Axton menarik paksa bra Milly agar terlepas, membuangnya ke sembarang arah. Satu tangannya masih mengapit pipi Milly. Gadis itu menjerit penuh perlawanan.
“Tidak!!”
Tapi Axton tidak peduli. Tangannya kemudian bergerak turun dan merobek penghalang terakhir di tubuh Milly, membuat gadis itu sepenuhnya tidak berbusana.
Kemudian Axton melepas cengkramannya kasar pada pipi Milly, mengakibatkan wajah Milly tertolak ke samping dengan rambut awut-awutan. Axton sudah bergerak turun.
“Kumohon. Jangan…” mohonnya pilu dan mulai terisak.
Axton tidak mengindahkan permintaan Milly. Ia cukup kesal karena diludahi. Di detik gadis itu segera merapatkan kaki sebisanya, di detik itu pula Axton menahannya. Justru membuka lebar, memberikan akses lebih padanya untuk memandang.
“Ibumu adalah orang yang sangat licik.”
“Tidak…”
Milly menggeleng kuat. Isakannya makin mengeras. Ia tidak mengerti apa yang dibicarakan Axton. Sebelum kata-katanya keluar ingin membantah, Axton sudah beraksi di bawah sana.
“Ah…” desah Milly spontan.
Lidah Axton mulai menjilat berulang kali. Lalu melumat dan menginvasi ke seluruhan inti Milly. Menekannya kuat dengan lidah dan terlihat buas mengigit klitorisnya mengakibatkan Milly menjerit kencang.
“Hen… hen… tikan…” racau Milly di sela tangisannya.
Terlebih tangan lelaki itu bergerilya ke atas. Menangkup dua buah dadanya, meremas kuat, memainkannya dengan liar. Tidak ada kelembutan ataupun cinta di sana. Beberapa kali Axton menampar memberikan rasa perih dan kenikmatan yang berbaur jadi satu. Lenguhan itu lagi-lagi lolos dari bibir Milly.
“Aku bilang berhenti!!” jerit Milly sekuat tenaga dan kepalanya seketika terangkat akibat gelombang sensasi yang luar biasa. Kedua tangannya yang terikat dasi, bergerak gelisah, saling meremas. Lalu tubuhnya mulai bergetar hebat.
Setelahnya Milly bisa melihat Axton mengangkat kepalanya. Tersenyum sinis sambil mencecap rasa cairan di bibir. Itu sangat menjijikan namun juga sangat memalukan. Hingga ia membuang muka.
“Berhenti katamu?” gumam Axton remeh.
“Kau baru saja orgasme jalang.”
Lagi, Axton menenggalamkan kepalanya di bawah sana. Membuat Milly sontak menjerit lantang, “Tidak!!!” Kedua tangannya makin gelisah, memaksa terlepas.
Tapi jeritannya itu segera berganti menjadi desahan panjang. Kepalanya refleks menengadah dan pandangannya meredup, tidak fokus.
Kakinya makin dilebarkan Axton dan mulut lelaki itu makin lincah bermain di bawah sana. Mengobrak-abrik seluruhnya dengan nikmat. Berkali-kali menghisap dan menyesap setiap cairan yang mengalir.
Begitu Milly tampak lemas dan tidak berdaya, Axton mulai bergerak naik ke atasnya. Menyeringai menatap wajah gadis itu yang berderai air mata dengan bola mata sayu. Seringaian yang mengandung unsur pelecehan.
“Kau benar-benar sangat murahan.”
Milly yang tidak bertenaga cuma bisa terisak mendengar kalimat Axton yang menohoknya. Di antara isakan itu pula, ia bertanya putus-putus,
“Kenapa… kenapa kau menyebarkan fakta kebohongan terkait kematian Ibuku?”
“Kau bodoh?” cemooh Axton.
“Itu jelas untuk melindungi diriku. Karena hotel itu adalah hotel milik keluargaku.”
“Menurutmu apa yang akan dirasakan para tamu yang menginap di hotel itu jika tahu ada kasus pembunuhan?” Axton lantas tersenyum sinis.
“Mereka pasti merasa bahwa penjagaan keamanan tidak ketat dan itu akan meresahkan. Selain itu, citra perusahaan, investor, juga omsetku akan berdampak.”
Milly menangis tersedu-sedu.
Axton seketika mengalihkan pandangan ke arah lain. Nafasnya memburu. Tangannya menarik laci nakas, mengambil sesuatu di dalam sana.
“Bedebah,” lirih Milly mengumpat lemah.
Saat mendapati benda itu, Axton kembali menatap Milly. Pandangannya telah berkabut. Api gairah meletup-letup begitu kuat dalam dirinya. Bagian bawah dirinya telah mengeras, terasa sesak dan minta dipuaskan segera.
Wajah memerah Milly, juga peluh yang membanjiri akibat dua kali mengalami klimaks hanya dengan permainan lidahnya itu makin merangsang Axton, memikat hasratnya dengan dahsyat. Memengaruhi dirinya dengan berbahaya. Ia tidak sabar ingin menenggalamkan dirinya, merasakan pusaran gairah itu di dalam kehangatan milik gadis itu yang diduga Axton belum tersentuh.
Mengingat fakta tentang seberapa dalam Clara melindungi putri berharganya ini dan tentu saja sebentar lagi akan dirusaknya.
“Ya. Aku memang bedebah,” suara Axton terdengar serak membalas makian Milly.
Mata Milly sontak terbelalak menyaksikan sebuah benda yang digigit Axton untuk dirobek pembungkusnya.
“Tidak. Tidak. Jangan…” isak Milly waktu menyadari Axton yang telah memasangkan benda itu.
Sebelum sempat ia meronta, Axton telah menarik tubuh gadis itu mendekat dan menghunjamkan miliknya kuat. Tapi sebelum itu ia sempat berbisik parau di telinga Milly, “Aku akan benar-benar meremukkanmu Milly Kincaid.”
Axton lalu menggeram di pundak Milly dan mulai menggerakkan pinggul mereka yang terasa nikmat untuknya. Sebaliknya, Milly meringis menahan sakit. Suaranya terkunci dalam sekejap. Tapi mulutnya terbuka. Air matanya berlinang.
“Sa…sakit…” lirihnya saat Axton makin mempercepat temponya.
Axton menyeringai samar menyadari mimik Milly yang mengernyit dan meringis. Isakan gadis itu menjadi tertahan.
Seperti dugaannya gadis itu memang terasa sempit hingga Axton bukannya memelankan temponya, ia makin memaksa dengan brutal, menembus serta merobek sesuatu di dalam sana yang sangat rapat. Mengempurnya tanpa ampun.
Milly sontak menjerit kesakitan, sementara nafas Axton terengah-engah. Tapi lambat laun jeritan itu berubah menjadi lenguhan nikmat.
Itu membuat Axton tersenyum miring.
Langsung ia meraih wajah Milly dan menciumnya, “Kau sangat berisik jalang,” gumamnya di sela ciuman mereka.
Milly mengerang waktu Axton begitu buas melahap bibirnya. Lelaki itu terlihat sangat handal memagut bibirnya. Dan di antara lumatan demi lumatan ganas itu, Axton perlahan melepaskan ikatan tali dasinya.
Membawa tangan lemas Milly ke lehernya. Makin memperdalam ciumannya, menginvasi rongga mulut gadis itu dengan lidahnya sambil terus menghentakkan miliknya berkali-kali pada tubuh Milly dengan kasar dan keras.
Ingin rasanya Milly mendorong kuat Axton tapi tubuhnya justru bereaksi lain. Otaknya seketika menjadi tumpul akibat bara gairah hingga ia malah mengikuti tautan lidah Axton. Mencakar punggung lelaki itu di balik kemeja, membuat Axton meringis di antara pagutan panas mereka.
Tubuh Axton pun makin rapat menghimpit tubuh Milly, terbenam lebih dalam, menikmati inti gadis itu yang mengapit rapat miliknya.
bersambung