days 19

2624 Words
Kebimbangan Axton Axton memijat pangkal hidungnya. Ia menggeleng. Sepertinya ia sudah tidak waras. Gelas kosong yang berisi wine langsung ditandaskannya dan diletakkannya ke meja. Topeng silver masih melekat di area matanya. Pun sama dengan Milly yang duduk di hadapannya. Dan di balik topeng itu, ia terpekur menatap piring berisi steak daging, masih utuh dan belum tersentuh. Sebuah kalimat Axton yang terasa familiar di telinganya tadi, terus bergaung di benaknya. Ia tidak lagi merona, melainkan tengah berpikir keras. “Kehilanganmu adalah sesuatu hal yang tidak aku inginkan di dunia ini.” Di tengah keramaian ruangan itu Milly seperti mendengar suara-suara lain tanpa sadar. Muncul begitu saja tanpa dimintanya. “Tidak apa bagaimana sih? Kakimu jadi berdarah. Aku akan menghajar anak lelaki itu. Ia tidak seharusnya menyerempetmu.” “Kau mau apa? Berkelahi? Kau berjanji padaku untuk tidak membuat keonaran lagi. Lagipula luka seperti ini tidak akan membahayakanku.” “Aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa padamu. Itu saja. Karena kehilanganmu adalah sesuatu hal yang tidak aku inginkan di dunia ini.” Tersentak, Milly mengerjap. Ia menoleh ke sekeliling di mana para tamu semua tampak menikmati hidangan. Entah mengapa suasana hati Milly mendadak menjadi sendu. Suara itu begitu nyata. Tapi ia tidak tahu siapa lelaki yang berbicara seperti itu padanya. Dan begitu setetes air mata lagi meluruh di pipinya, ia menyekanya. Memandangnya sesaat. Air mata ini terasa berbeda dan dihasilkan dari suasana hatinya yang tidak jelas. Mengangkat kepala, ia memandang Axton yang rupanya balik mengamatinya. Nama gadis yang disebutkan Axton bukan kebetulan. Nama gadis itu mirip dengan anak perempuan itu. Anak perempuan yang pernah hadir pada peristiwa samar dalam alam bawah sadarnya tanpa alasan. Walau Milly tidak yakin akan dugaannya tentang sosok gadis itu. Tapi hal itu berhasil memancing rasa penasarannya. “Aku benci dengan bola matamu,” gumam Axton pelan. “Kenapa? Karena bola mataku mengingatkanmu dengan Eve?” ceplos Milly gamang. Axton menatap Milly dengan pandangan yang sulit diartikan. “Apa sekarang kau bertingkah sebagai istri yang cemburu padaku?” “Aku tidak sedang cemburu. Aku serius bertanya padamu.” “Kenapa aku harus memberitahumu?” “Dan apa aku salah menanyakan hal itu padamu?” sanggah Milly balik. “Kau benar-benar bertingkah sebagai istri pencemburu,” tanggap Axton singkat. “Aku sudah bilang aku tidak cemburu.” “Kalau begitu, kau tidak seharusnya mencari tahu apapun tentangku.” Axton lantas beranjak dan Milly mendongak. “Selesaikan makanmu dan jangan coba kabur dariku.” Setelah itu Axton melenggang, meninggalkan Milly yang membeku. Dengan pelan, kepala Milly memutar ke belakang. Mengamati punggung kokoh Axton dari jauh. Suara tangisan anak laki-laki yang pernah merasuk di pikirannya beberapa waktu lalu masih bisa Milly bayangkan gema suaranya. Dan di antara bunyi halus dentingan alat makan dan obrolan ringan orang-orang di sekeliling mereka, Milly berbisik, “Apa mungkin kau adalah anak laki-laki menyedihkan itu?” Kemudian ia menyebut nama anak laki-laki yang pernah muncul di bawah alam sadarnya. Anak laki-laki yang bahkan tidak bisa ia lihat jelas wajahnya. “Aro…” Tiba-tiba langkah Axton berhenti. Jantung Milly bertalu-talu saat Axton berbalik dan balas menatapnya. Lelaki itu mendekat dan menghampirinya kembali. Tanpa memutuskan kontak mata mereka, Axton meraih ponselnya di meja yang sempat tertinggal. “Kau dilarang kemana-mana,” peringatnya.7 *** “Thomas, aku ingin kau menyelidiki semua hal tentang Milly Kincaid. Termasuk riwayat hidupnya,” pinta Axton di ujung telepon. Ia memerhatikan Milly beberapa meter dari posisi berdirinya. Mulai dari gadis itu mengambil gelas berisi air putih di meja, meneguk pelan sampai sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri di tengah ruangan. “Jangan ada satu pun yang kau lewatkan Thomas.” Di seberang Thomas cukup heran akan perintah dadakan Axton itu, tapi ia tetap mematuhinya. “Sesuai keinginan anda, saya akan melaksanakannya Tuan Ax.” “Kabari aku secepatnya jika kau sudah mendapatkannya Thomas.” Setelah itu sambungan diputuskan Axton. Ia meyimpan ponsel di saku dan kembali memandang Milly dari jarak jauh. Wajahnya tampak tenang, namun hatinya dilanda sebersit keresahan. Karena panggilan nama kecilnya sempat didengarnya keluar dari mulut Milly. Panggilan yang selama ini hanya disebutkan oleh dua wanita berarti dalam hidupnya.6 Dan tanpa disadari Axton, Fernandez berada di belakangnya sejak tadi. Mendengar seluruh pembicaraannya. Lelaki itu menggenakan kemeja hitam dilapisi jas abu-abu. Topeng hitam menyamarkan sebagian wajahnya. “Sepertinya aku telah melewatkan sesuatu di sini,” celetuk Fernandez yang tiba-tiba muncul di sebelah Axton sambil memegang segelas wine. Axton lantas menoleh sekilas, “Kau mengagetkanku, sialan,” responnya pendek. Fernandez menatap ke depan. Pada sebuah meja, di mana Milly tampak kikuk duduk sendirian di sana. Tetap mengontrol diri, sekali pun ia sadar bahwa Axton mulai mencurigai perihal identitas Milly. “Chloe tampak sangat kesal hari ini. Gadis itu menghadangku seperti banteng ketika datang.” Fernandez tidak berbasa-basi sedikitpun. Langsung mengungkapkan apa yang memang ingin ia katakan. “Ia mengatakan padaku bahwa kau telah menikah. Dan kau membawa istrimu di hadapannya. Tapi aku satu-satunya orang yang tahu benar siapa gadis yang bersamamu sekarang.” “Ini tidak akan berlangsung lama.” “Jadi itu sebuah kebenaran yang harus kupercayai atau sebuah kebohongan baru yang kau karang?” “Aku hanya ingin gadis pirang itu menjauhi hidupku Andez.” “Aku mengerti jika itu semacam taktikmu. Tapi aku tidak mengerti apa yang sebenarnya kau pikirkan.” Fernandez meneguk minumannya sekilas. “Aku telah membantumu untuk segala rencanamu terhadap gadis itu. Tapi sepertinya kau tampak kacau hari ini.” Menatap Axton dengan sorot tidak terbaca, Fernandez melanjutkan,”Kau bahkan menganggap gadis itu adalah Eve.” “Kurasa mungkin ini karena hantaman asbak,” gumam Axton. “Hantaman asbak?” Fernandez mengernyit dan ia sadar plester di pipi Axton. “Apa plester itu juga termasuk?” Axton menatap Fernandez. “Aku tidak ingin membahasnya Andez. Itu sangat mengesalkan.” Fernandez mengedikkan bahu dengan mimik tanpa ekspresi. “Baiklah. Aku tidak akan membahasnya. Tapi kau perlu ingat satu hal Axton. Milly bukanlah Eve.” Axton kembali memandang Milly. Dan Fernandez mengikuti arah pandangnya. Evelyn sekarang terlihat berbeda. Mencolok dan tampak tidak nyaman di antara para tamu yang hadir di pesta ini. Beberapa bulan tidak mengetahui identitas aslinya, rupanya dapat juga mengubah segala hal yang berhubungan dengan kehidupan gadis itu. Padahal dulu gadis itu sering berada di pesta-pesta yang jauh lebih megah dari ini. “Jika kau tidak segera menyingkirkan gadis itu, Eve mungkin akan kecewa padamu saat ia tahu kau telah menikahi gadis lain. Kau percaya Eve masih hidup bukan?” Axton tahu pertanyaan Fernandez itu bersifat retoris dan temannya itu kembali berbicara, “Melihatmu tidak menyerah menyuruh Thomas untuk menemukannya, membuatku juga memercayai hal itu. Eve, ia pasti menunggumu untuk ditemukan.” “Sama seperti permainan petak umpet yang pernah kita mainkan ketika masih remaja. Kau selalu menemukannya Axton.” Nada bicara Fernandez selalu sama. Datar dan tidak berirama. “Dan sekalipun saat ini tidak ada jejak apapun yang bisa menuntunmu padanya, tapi aku yakin suatu hari kau akan tetap menemukannya.” Lalu Fernandez menepuk sekilas bahu Axton. Tepukan akrab namun memiliki makna lain yang tidak disadari oleh Axton. Setelahnya Fernandez langsung menandaskan wine itu sekaligus dan Axton hanya memerhatikannya. Sejujurnya, Fernandez tidak sedang dalam kondisi ingin menguatkan Axton. Justru sebaliknya, ia sedang terbakar emosi. Karena sepertinya misi balas dendamnya akan kandas jika Axton mengetahui kebenarannya. Bahwa gadis yang dicarinya selama ini berada di sisinya. Dan sebelum fakta itu terkuak, Fernandez perlu melakukan sesuatu. Beberapa menit kemudian, seluruh lampu di ruangan itu tiba-tiba padam. Hingga memicu kehebohan dari para tamu yang hadir. Keresahan terasa pekat menyelimuti di sekeliling. Namun suara MC di atas panggung, mencoba menenangkan kericuhan suara-suara di ruangan yang saling bergaung. “Tolong semua tenang. Walau ada sedikit masalah di sini tapi semua ini akan segera dibereskan. Tidak perlu panik.” Dan memang benar. Hanya sebentar saja, lampu kembali menyala. Tapi sukses membuat Axton mengumpat, “Sial,” karena tempat yang diduduki Milly telah kosong. Entah kemana perginya gadis itu. Tapi Fernandez sempat melihat sosok Milly lenyap diseret paksa dua gadis keluar ruangan dan ia tidak memberitahu hal itu pada Axton, justru sebaliknya berkata, “Kurasa ia memanfaatkan situasi ini untuk kabur darimu.” --- Chloe dan Kawan-Kawan “Lepaskan aku!” berontak Milly, mencoba melepaskan diri dari dua gadis yang tidak ia kenal dan mencengkram kedua pergelangan tangannya, tapi sepertinya juga berada di pesta. Karena mereka menggenakan topeng dengan model dan warna berbeda. Yang satu berwarna emas, yang satu berwarna kuning. Senada dengan dress mereka yang minim dan terbuka. Anting dan kalung mahal nan berkilau turut menghiasi tubuh mereka, makin memperkuat kesan berkelas. Dan saat ini ia berada di halaman, cukup jauh dari keramaian. “Apa kau tidak bisa diam?!” hardik si gadis berdress kuning. Sok memasang wajah galak. Rambutnya berwarna coklat sebahu dan dicurly. “Lagipula kita tidak sedang ingin menyakitimu!” Kemudian si gadis berdress emas dengan rambut hitam tergerai sepanjang dada itu memanggil seseorang dengan tenang, “Chloe. Kau bisa keluar sekarang.” Tidak lama, Chloe muncul dari balik pohon. “Axton tidak melihat kami,” lapor si gadis berdress emas itu menambahkan. Si gadis berdress kuning lalu menyambung dengan gerutuan tidak sabaran, “Dan sebaiknya kau segera menyelesaikan ini jika kau tidak ingin ketahuan olehnya.” Sementara Milly menampilkan raut terkejut. “Kau…” Gadis itu adalah gadis yang tadi sempat menghinanya. Bahkan kini Milly bisa mengetahui jelas seperti apa rupa gadis itu. Rambut pirang. Dan make up yang terpoles di wajah itu terkesan berani. Karena wajah gadis itu tidak lagi disembunyikan oleh topeng. Tidak hanya itu, ternyata Milly baru ingat gadis itu pernah tidak sengaja dilihatnya di kantor Axton. Perjumpaan pertama yang menodai matanya sekaligus membuatnya merasa terjebak di situasi yang salah. “Kaget melihatku?” Chloe menatap tidak suka pada Milly. Milly sadar bahwa gadis itu memegang pisau di tangan kanannya. Sontak radar peringatan di kepala Milly pun menyala. Dan begitu gadis itu mendekatinya Milly segera melontarkan pertanyaan was-was. “Ma-mau apa kau?” “Tentu saja melihat wajahmu.” Chloe mengusap-usap ujung pisau di tangannya, tanpa menatap Milly. “Karena aku sangat merindukanmu Eve.” Bola mata Milly berpendar gelisah. Jantungnya berdebar-debar. Mereka semua salah orang. Itu pikir Milly. Lantas ia meronta pada cekalan yang dicengkram oleh kedua karib Chloe. “Tidak! Tunggu. Kau salah orang! Aku bukan-” “Berhenti melawan!” tegur si gadis berdress kuning memotong. Ia pun makin kuat mencengkram pergelangan tangan Milly. “Jika tidak, pisau itu bisa melukaimu!” Sorot mata Chloe memercikkan kekesalan pada Milly, ia berkata tegas, “Aku tidak salah orang. Kau jelas-jelas bersama Axton hari ini.” Chloe lalu mulai mengarahkan pisau itu ke sisi wajah Milly untuk memutuskan tali topeng gadis itu. Karena ia tidak sudi melepasnya dengan tangannya. Namun naas, sebelum hal itu terjadi Milly yang merasa terancam, dengan cepat menginjak masing-masing kaki karib Chloe. Tindakan spontan yang ia lakukan begitu saja. Hingga cekalan itu terlepas. “Ouch, s**t!” “Wanita sialan!” “Kau berani-” jeritan Chloe terputus karena ia didorong kasar oleh Milly, mengakibatkan tubuhnya terjengkal ke halaman. Memekik kesakitan sejenak, Chloe kemudian berteriak emosi. “Tangkap dia!” Detik selanjutnya, Chloe dan kedua karibnya mengejar Milly sebisanya dengan raut kesal. Derap langkah saling beradu di halaman itu. Milly menoleh ke belakang. Bisa ia lihat ekspresi Chloe dan dua karibnya itu memerah emosi layaknya gunung yang akan meletuskan larva panas. Buru-buru Milly melepas highheels di kakinya agar lebih mudah dalam berlari. “Kau berhenti di sana!” Chloe setengah menjerit dengan wajah murka. Namun Milly tidak menggubrisnya dan melanjutkan aksi berlarinya. Topeng silver itu masih setia melindungi sebagian wajahnya. Tapi tidak disangka-sangka sebuah mobil melaju di tengah jalanan sepi ketika Milly berhenti sejenak untuk mengambil nafas di sana. Suara klakson itu membuat kepala Milly menoleh. Chloe dan dua karibnya segera merem mendadak beberapa meter dari posisi Milly berdiri. Jika Chloe tersenyum puas dengan wajah angkuhnya, maka lain halnya dengan dua karibnya yang menampilkan mimik terkejut bercampur panik ketika menyaksikan detik-detik mobil itu akan menabrak Milly. Melihat cahaya lampu mobil yang dihidupkan pengemudi demi peringatan menyingkir, tidak juga membuat tubuh Milly bergeser. Ia seketika menjadi kaku. Namun bola matanya membesar. Lalu…. *** Di sisi lain, Axton dan Fernandez berpencar mencari Milly. Mulai dari di dalam ruangan, mengitari seluruh tamu hingga mereka bertemu kembali di halaman. Saling berhadapan. Fernandez berkacak pinggang sementara Axton menyugar rambutnya frustrasi. Topeng silver telah lepas dari wajahnya dan diremasnya di tangan. Sedangkan topeng hitam Fernandez masih bertahan. “Aku tidak menemukannya,” beritahu Fernandez pada Axton. Ia berusaha tenang walau hatinya merasa kesal. Karena tekadnya menuntaskan segalanya hari ini tergantung dari seberapa cepat usahanya menemukan Milly. Sejak Fernandez tahu Axton hampir mendekati kebenaran tentang kekasihnya itu, ia telah bersumpah untuk melenyapkan gadis itu dengan tangannya sendiri. Itulah sebabnya ia tidak membagi kronologis hilangnya Milly tadi kepada Axton. Apalagi malam ini, Elena kebetulan tidak bisa menemaninya. Jadi Fernandez tidak perlu mencemaskan dampak dari tindakannya. Dan setelah itu semua berakhir. Ia bisa menghentikan segala sandiwaranya di depan Axton. “Apa mungkin ia bersembunyi di suatu tempat?” gumam Fernandez celingak-celinguk sekitar. “Entahlah Andez. Aku juga tidak menemukannya.” “Lalu kau mau melakukan apa sekarang?” Fernandez menatap Axton yang kini memunggunginya. Ia yakin wajah temannya itu juga tampak kesal. Itu terbukti dari luapan emosi yang disalurkan Axton dengan meninju keras pohon di depan mereka. “Aku tidak tahu Andez. Aku tidak bisa berpikir.” Tangan Axton masih menancap di batang pohon itu tapi kepalanya tertunduk. Tidak lama keheningan menyerebak sebelum suara tenang Fernandez memecah, “Jika kau takut melenyapkannya, aku bisa melakukannya untukmu Axton.” Axton berbalik dan menatap Fernandez. “Aku bisa mengatasinya sendiri Andez.” Lalu tiba-tiba Fernandez menyerang Axton. Ia mencengkram kerah kemeja Axton. “Aku meragukan hal itu. Kau tidak akan bisa mengatasinya Axton. Sadarlah Axton, gadis itu bukan Eve!” Bola mata Axton membesar, agak terkejut melihat kemarahan Fernandez. Setelah itu tubuhnya agak terdorong ke belakang karena Fernandez menghempaskannya. Fernandez mengusap mulutnya, membuang nafas setelahnya. “Aku hanya tidak suka kau menyamakan Eve dengan gadis itu,” kilahnya. “Kau tampak emosional Andez.” “Aku hanya merasa ada sesuatu yang salah denganmu, Axton. Kau tampak seperti orang yang sedang jatuh cinta pada gadis itu. Tatapanmu menunjukkan demikian.” Kali ini wajah Fernandez telah normal. Ekspresinya terlihat datar namun pandangannya menyorot dingin pada Axton. “Chloe menceritakan semuanya dengan emosi padaku. Ia lakukan itu secara spontan karena ia pikir aku mengetahui sesuatu tentang gadis yang kau sebut sebagai Eve.” Axton hanya menyimak ucapan Fernandez. “Dan jika kau pikir aku mencemaskan Elena karena rencana sialanmu yang melibatku, kau salah. Ini lebih dari itu. Semua tidak sesederhana itu Axton.” Sorot dingin Fernandez berubah dalam sekejap menjadi serius. “Kau dan Eve adalah sahabatku. Aku hanya tidak ingin jika suatu hari Eve hadir di hidupmu kembali, kalian hanya bertemu untuk saling mengucapkan perpisahan. Dan itu semua hanya karena Milly telah mengubahmu.” Axton menatap Fernandez dengan sorot tidak terbaca. “Kau tahu jelas itu tidak mungkin Andez.” Fernandez lalu memutuskan kontak mata mereka. Dan pada saat ia melihat ke arah lain, ia tidak sengaja mendapati sosok Milly di tengah jalan hampir akan tertabrak mobil. Jaraknya cukup jauh dari mereka. Dan sepertinya tipis untuk menjangkau gadis itu jika dihitung dari kecepatan laju mobil tersebut. Bahkan di sana gadis itu tampak gemetaran. Melihat tatapan Fernandez terfokus pada satu titik, membuat Axton segera mengikuti arah pandang Fernandez. Bersamaan dengan itu Fernandez membalas, “Kalau begitu buktikan padaku Axton.” Ia melirik Axton. Kedua tangan Axton lantas mengepal kuat. Rahangnya mengatup rapat. Ia sadar makna di balik kalimat Fernandez. Dan ia juga sadar apa yang akan terjadi dengan Milly sebentar lagi. Hanya satu detik, Axton pun mengumpat, “Sial!” Pada akhirnya ia membuang topeng silver di tangannya. Memutuskan berlari kencang demi menyelamatkan gadis itu sebisanya. Melihat itu, Fernandez terkejut. Ia berteriak di belakang, memanggil, “Axton!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD