days 17

3586 Words
Batas Waktu Axton menarik resletingnya. Perban putih masih menempeli sekitar pelipisnya, tapi rambutnya sudah semerawut. Ia memungut kemejanya di lantai dan melihat Milly dari pantulan di cermin. Gadis itu terkulai lemas sambil menangis kecil di atas ranjang. Kedua pergelangan tangannya memerah bekas simpulan gesper yang dilepas Axton. Selimut tergeletak di sampingnya, terlihat berantakan. Pun dengan seprei. Tidak ada satu pun busana yang melekat di tubuh Milly. Murni polos, terlihat begitu kotor dan lengket. Jejak-jejak basah dan panas akibat cumbuan liar Axton tercetak jelas di beberapa bagian tubuh gadis itu, sementara di sekitar pangkal pahanya dipenuhi cairan milik lelaki itu yang berceceran. Aroma percintaan terasa pekat menguar di sekitar, membuktikan seberapa dahsyat pergumulan panas yang dilakukan mereka di kamar ini. “Apa aku sudah pernah mengatakan padamu bahwa kau memiliki daya tarik sensual dari suaramu?” Milly menutup matanya rapat-rapat, tidak ingin mendengar apapun ucapan lelaki itu yang ia yakini akan melecehkannya. Axton berbalik dan memakai kemejanya. Mengancing satu persatu sambil menatap Milly yang terisak. “Kau bisa dengan mudah merangsang pria mana pun hanya dengan merintih.” “Keparat!” Axton tidak memedulikan umpatan itu, justru mendekati Milly. Perlahan membungkukkan setengah tubuhnya, meletakkan kedua tangannya di sisi kepala gadis itu. “Bersihkan dirimu dalam satu jam dari sekarang. Jika aku kembali dan menemukanmu masih dalam keadaan seperti ini….” jeda. Bola mata abu-abu Axton memercikkan kilat nakal ketika bertemu dengan bola mata hijau Milly yang sembab tapi diliputi kilatan kebencian. “Aku benar-benar akan menyetubuhimu seharian.” Apa lelaki itu sedang mengancamnya? Wajah Milly memerah, malu dan marah menjadi satu akan kalimat vulgar Axton. Tapi lelaki itu sudah berdiri tegak. Satu tangannya menyelip di saku. “Ingat, satu jam dari sekarang,” ulangnya tegas. Setelah itu terdengar bunyi pintu tertutup, pertanda Axton telah keluar. Milly yang terisak lantas meraih bantal, melemparkannya ke arah pintu demi pelampiasan emosinya. Tapi karena tenaganya telah terkuras alhasil bantal itu justru tergeletak di lantai dekat kasurnya. Lalu hening mengisi ruangan itu. Perlahan Milly beranjak, meraih selimut untuk membungkus tubuh polosnya. Namun tiba-tiba, pintu kamar itu terbuka lagi. Otomatis Milly menoleh dan ia terkesiap melihat Axton. Lelaki itu mendekatinya, memicu binar kegelisahan di wajah Milly. “Ini belum… satu…” Kalimat itu terputus, berganti pekikan Milly. Lelaki itu melakukannya dengan cepat. Merengkuh tubuhnya erat sekaligus membuang selimut itu ke sembarang arah, lalu menyelami bola mata Milly. “Itu hanya batas waktu yang kuberikan. Tapi kau rupanya belum juga membersihkan diri.” “Apa kau gila? Kau bahkan belum semenit keluar!” protes Milly panik. “Berhenti membela dirimu.” “Kau keparat sialan!” Kata-kata Milly sangat tepat mengumpati Axton karena lelaki itu sekarang malah mengangkat tubuh Milly bak karung beras. Melangkah santai menuju kamar mandi. Memberontak, Milly memukul punggung Axton dengan tenaga yang tersisa. Kakinya turut menendang, mencoba melakukan perlawanan. “Tidak. Turunkan aku!” “Kau bedebah-Awh!” umpatan itu berubah menjadi rintihan kesakitan. Mata Milly memanas karena pelecehan Axton yang menampar keras bokongnya berlanjut meremasnya kuat. Kemudian disusul kalimat vulgar lelaki itu, “Bokong sialan, aku akan menghunjammu dengan keras.” *** Milly menjerit serak di tengah guyuran air shower. Ia tidak bisa lagi merasakan sakit akan luka tembak di pergelangan tangannya. Karena gejolak gairah jauh lebih besar menguasai tubuhnya sekarang. Axton terus menghantam kuat miliknya dari belakang, membenturkan buah dada Milly dengan keras ke kaca shower. “Ahh…” lenguh Milly menengadah. Tangannya refleks menjambak rambut Axton ketika lelaki itu menarik pinggulnya menjauhi kaca shower hanya untuk menghujam lebih keras. Lagi-lagi dari belakang. “Hentikan… bedebah!” desah Milly keras. Di antara aksi bercinta itu, pancaran air shower terus mengguyur sekujur tubuh polos mereka. Tapi tidak bisa menutupi sensasi panas yang menjalar ketika kulit mereka saling bergesekan. Axton tidak mengeluarkan suara. Ia begitu menikmati setiap hentakan liarnya di dalam tubuh gadis itu. Satu tangannya meremas kuat payudara Milly, sedang tangannya yang lain mengusap kewanitaannya. “Berhenti… berhenti memperlakukanku seperti ini!” tangis Milly tersiksa oleh gempuran Axton yang bertubi-tubi dan terasa meremukkan tubuhnya. Apalagi tangan lelaki tidak henti-hentinya menggerayangi tubuhnya, membuat Milly merasa sangat hina. “Kau memang pantas diperlakukan seperti ini. Seperti Ibumu.” “Sudah kukatakan aku bukan gadis seperti itu!” Axton tidak membalas, justru menggerung dan membenamkannya kepalanya di lekukan leher Milly, terus fokus memompa dengan brutal dan liar. Membuat Milly agak kesulitan mengikuti ritmenya. Dua jari Axton kini juga turut bermain di bawah sana, mengusap-usapnya kasar, sengaja menambah gelombang kenikmatan secara beruntun. Dan lelaki itu berhasil karena Milly nyaris gila sekarang. “Aku bukan pemuas nafsumu brengsek!” jerit Milly terdengar mengutuki Axton. Ia ingin menyingkirkan tangan Axton di bawah sana, tapi terlambat. Kepalanya refleks mendongak, melenguh panjang karena berhasil mencapai klimaksnya. Nafas Milly terengah-engah. Mukanya merah padam. Tubuhnya bergetar di bawah pancuran air shower dan Axton hanya berhenti sesaat. Hidung lelaki itu menyentuh leher Milly, menelusuri, menghirup aroma kulit gadis itu, mencumbunya kemudian hingga menuju telinga. Walau ia merasakan kaki Milly seperti jeli, bahwa gadis itu mulai kehabisan tenaga, tusukan demi tusukan kembali gencar dilakukan Axton dari belakang. “Cukup. Hentikan!” jerit Milly lagi menyadari bahwa Axton tidak mengijinkannya istirahat. “Dibanding berhenti kau terlihat sangat menikmatinya.” “Ahhh…” desah Milly secara spontan karena Axton kini menangkup payudaranya, melintir putingnya dengan kasar. “Sekarang terlihat sangat jelas. Desahanmu membuktikannya.” “Itu karena tangan sialanmu brengsek!” “Aku anggap itu sebagai pujian.” Detik berikutnya, Axton membalik tubuh Milly dengan cepat, menghimpitnya ke kaca shower hingga punggung gadis itu terbentur di sana. Kembali Axton memompa maju mundur dengan bernafsu, sesekali mengecup basah pipi Milly. Guyuran air shower menjadi saksi percintaan panas mereka. Kedua kaki Milly dipaksa Axton melingkar di pinggangnya. Mata Milly berair dan ia cuma bisa memejam kuat, merasakan ritme cepat Axton yang menggagahi tubuhnya dengan semena-mena. Kerja otaknya mulai tumpul karena hunjaman Axton yang berulang-ulang. Kasar, tapi menimbulkan sensasi terbakar yang mempengaruhi tubuhnya. “Kumohon… hentikan!” “Kau ingin aku lebih keras melakukannya?” “Tidak!” Tapi sialnya Axton benar-benar melakukannya. Lelaki itu sengaja mengeluarkan lalu memasukkan miliknya hanya untuk menghujam lebih dahsyat. Hingga Milly menengadah, tersentak dan mendesah lantang. “Ahhh… cukup!” “Lagi?” “Tidak. Bajingan!” Milly menumpahkan emosinya dengan mencakar punggung Axton, membuat lelaki itu meringis. Namun detik selanjutnya desahan lantang Milly lagi-lagi bergema karena Axton mengulanginya lagi dan ini lebih keras dari sebelumnya. Membuat Milly bisa mendengar jelas suara sentakan dan penyatuan tubuh mereka. Milik Axton begitu dalam menusuknya, membuat bagian intimnya terasa perih. Namun juga nikmat. Gempuran lelaki itu bahkan terasa menuntut dan brutal. Milly bergerak gelisah di bawah kuasa Axton. Bahkan mulut gadis itu terbuka dan tertutup. Wajahnya memerah dan tampak letih. “Cukup… Ku-Hmmmph!” Axton langsung membungkam mulut Milly. Bibir Axton terasa dingin di bibir Milly. Menempel kuat, melumat dengan bernafsu tinggi. Mata Milly yang redup melebar. Ia mencoba meronta tapi Axton dengan sengaja mengigit bibirnya, melukai hingga sedikit berdarah, lalu mencecap rasa asin itu. Memasukkan lidahnya, menginvasi rongga mulut gadis itu. Air liur sampai menetes di sudut bibir Milly. Gadis itu mengerang waktu ciuman Axton semakin dalam. Kepala lelaki itu sampai bergerak miring, terlihat dikuasai oleh hasrat gairah membara. Dan sebentar lagi Axton merasa ia akan mencapai gelombang kenikmatan itu. Maka ia segera melepas pagutannya, mengerang nikmat. Cairan itu menyembur ke dalam, meluber hangat dan sebagian tumpah mengotori sekitar pangkal Milly lagi. Tidak lama Milly juga menggelinjang. Gadis itu lagi-lagi mencapai orgasmenya. Tubuh Milly lunglai dan matanya sayu. Namun nafasnya memburu. Sama dengan Axton. Tapi Axton tidak berniat melepas penyatuan mereka. Belum. Ia belum selesai. Ia harus terus melakukannya agar gadis itu bisa menghasilkannya-memberikan apa yang ia inginkan. Rambut Axton basah, berantakan dan luka pelipisnya terlihat jelas karena perban telah dilepaskannya sejak ia menjajakkan kaki di kamar mandi. Manik matanya mengamati bibir Milly yang bengkak, merekah dan menggoda untuk dicicipi. Axton mengusap sensual bibir Milly dengan jempolnya. Ia hendak menciumnya lagi, tapi Milly segera mencakar pipinya kuat dengan kuku tajamnya, menciptakan goresan luka yang sukses membuat Axton merintih kesakitan. “Aku… aku membencimu keparat!” Naas, setelah umpatan itu Axton melanjutkan permainannya. Sontak Milly menjerit. Kepalanya terbentur kaca shower karena hunjaman keras Axton yang sangat dalam. Lelaki itu seperti mencurahkan segala emosinya lewat hentakan demi hentakan itu. Lingkaran kaki Milly di pinggang Axton pun spontan mengerat. Axton kemudian mendekatkan wajahnya, menempel keningnya pada kening Milly. Deru nafasnya berhembus kasar dan bola matanya memerhatikan pergerakan mulut Milly yang kini mendesah kencang. Axton makin terangsang. Dan tanpa diduga Milly, lelaki itu meraih wajahnya dan mencoba mencium lagi dan kali ini berhasil. Lelaki itu mengulum rakus bibirnya, merengut seluruh oksigen yang Milly punya. Dan karena gairah luar biasa yang diciptakan Axton sistem kerja otak Milly menjadi tidak berfungsi. Hingga kedua tangannya secara spontan melingkar di leher Axton, meremas kuat rambut lelaki itu. Mata Milly tertutup rapat, tapi sudut matanya meneteskan air mata. Axton tersenyum puas saat sadar Milly pasrah dan membalas ciumannya. Di antara pagutan itu, pinggul Axton terus memompa membabi buta, menyentak hingga menghasilkan gelenyar panas memabukkan yang merambat di kulit mereka karena terus bersentuhan dengan keras dan kasar. Sementara air shower terus mengguyur mereka dengan deras. Dan untuk kesekian kalinya Milly mengalami orgasme yang melelahkan. Begitu pula dengan Axton, ia terlihat sangat puas ketika berhasil menyemprotkan benihnya ke dalam rahim gadis itu, entah berapa banyak. --- Sandiwara “Sejauh ini, kondisi Nyonya Wella memang mulai membaik. Pastikan konsumsi obatnya rutin diberikan,” kata Dokter Matt kepada Axton setelah memeriksa kondisi Wella. Axton telah selesai membersihkan diri dan sekarang ia duduk di samping ranjang Wella. Rambutnya agak basah. Kaos putih bertuliskan champion dan celana katun berwarna hitam—celana chino menjadi pakaian santai Axton. Perban putih yang melingkari kepalanya pun telah diganti dengan yang baru. Plester tertempel di pipi kanannya. Tapi Dokter Matt tidak berani menanyakan perihal perban di kepala maupun plester di wajah Axton. Ia cuma menjalankan profesinya sesuai yang diinginkan Axton. “Kemajuan ini sungguh luarbiasa. Karena terakhir kali, anda memanggil saya, kondisi mental Nyonya Wella sangat buruk dan saya tidak yakin Nyonya Wella bisa pulih dalam rentang waktu yang cepat.” Axton melirik Wella yang tampak pulas dalam tidurnya sambil mendengar setiap kata-kata Dokter Matt. Sedang Thomas yang berada di dekat Axton turut menyimak. “Jika terus seperti ini saya yakin Nyonya Wella akan kembali seperti sedia kala. Hanya saja, pastikan Nyonya Wella menjauhi hal-hal yang memicu depresinya. Karena itu menjadi sesuatu yang sensitif baginya.” “Terimakasih, Dok,” ungkap Axton kepada Dokter Matt yang telah merapikan alat medisnya, menenteng tas siap untuk pamit. Dokter Matt menggangguk dengan senyum ramah. “Kalau begitu, saya permisi.” Axton pun berdiri. Mereka saling menjabat. Kemudian Thomas mulai mengantar Dokter Matt itu keluar. Setelah itu Axton menoleh pada wajah damai Wella, ia terkejut waktu melihat mata Ibunya terbuka, pertanda Wella terbangun. “Mom…” “Berhenti memanggil Dokter itu. Mommy tidak sakit Aro. Lagi pula, kau pikir Mommy tidak dengar apa yang kalian bicarakan.” “Maafkan aku Mom. Aku bisa pastikan Dokter itu tidak akan datang lagi,” balas Axton menenangkan sambil tersenyum lembut, kembali duduk di sisi ranjang. “Kau serius?” “Mm-hm.” Wella kemudian mengernyit melihat plester di pipi Axton dan Axton menyadari arah mata Wella. Maka segera ia membuat alasan, “Pisau cukur tidak sengaja terkena wajahku ketika aku menggunakannya, Mom.” Detik berikutnya Wella tiba-tiba merengkuh Axton. Sempat Axton terkejut sebelum balas memeluk dan mengusap punggung rapuh Wella. Ia tidak menyangka bahwa sekarang ia bertambah dewasa dan Wella semakin rentan termakan usia. Axton juga tidak lupa akan pesan-pesan Dokter Matt. Ia tidak tahu bagaimana reaksi Ibunya jika sampai mengetahuinya. Tentang ia yang menikahi putri wanita jalang itu demi membalaskan hal yang setimpal. Akan tetapi paling tidak, Axton bisa menepati ucapannya terkait hal yang diinginkan Wella saat di halaman. Seorang cucu. Lewat rencana itu pula, Axton bisa mendapat dua keuntungan sekaligus. Pertama, ia berhasil meluluhlantakkan secara total kehidupan gadis itu. Kedua, status Milly—untuk sementara—dapat membuat Chloe jera. Maka satu-satunya hal yang perlu Axton lakukan sekarang hanyalah merahasiakan segala rencananya itu rapat-rapat dari Wella. “Mom, aku ingin memberitahukanmu kabar bahagia.” Axton mengurai pelukannya. “Kau punya hadiah untuk Mommy?” senyum Wella. Axton memasang wajah keraguan sejenak. Meringis pada Wella. “Ini mungkin bisa jadi hadiah untukmu tapi tidak dalam waktu dekat Mom.” Dan ketika ia berhasil mengabulkan harapan Wella lewat Milly, ia akan mengarang sesuatu hal—seperti meninggal atau apapun—kepada Ibunya terkait perpisahannya dengan gadis itu demi menutupi segalanya. Axton bisa mengatur sedemikian rupa, menyusunnya dengan rapi, tanpa cela. Namun tetap akan menciptakan bekas kehancuran pada hidup gadis itu. “Apa itu Aro?” Axton tersenyum melihat raut penasaran Wella. “Berjanjilah bahwa kau tidak akan memukuliku Mom hanya karena aku terlambat memberitahukan kabar bahagia ini padamu.” “Kau ingin membuat Mommy mati penasaran?” Axton tertawa renyah merespon ucapan Wella. Kembali ia merengkuh tubuh Ibunya dengan sayang. “No, Mom. Aku hanya ingin bilang bahwa aku telah menikahi seseorang,” bisik Axton santai. Wella terhenyak. Ia menjauhkan tubuh Axton cepat. Mengamati bola mata Axton, barangkali Putranya itu sedang membuat lelucon. “Dan ia tinggal bersama kita Mom.” Wella mencari kebohongan di wajah Axton tapi hanya keseriusan yang ia dapati di wajah Axton. “Ia sedang istirahat karena baru tiba satu jam yang lalu dari Seattle. Di sana ia mengunjungi makam kedua orangtuanya, Mom,” karang Axton. Padahal sekarang Milly sedang didandani oleh Gloria sesuai arahan Axton. Berpakaian rapi demi melaksanakan skenario singkat yang sudah direncanakan Axton dari awal sebelum Wella bangun. Ia akan mempertemukan Milly dengan Ibunya. Guna meyakinkan sekaligus memperkecil rasa curiga Wella akan setiap fakta yang ia beberkan. Mereka akan bersandiwara sebagai sepasang insan yang saling jatuh cinta. Beruntung, ancaman akan nyawa Rachel Leigh—wanita tua yang disayangi gadis itu meski tidak memiliki hubungan darah—selalu membuat Milly tidak berkutik dan berakhir menurutinya. “Ia hanya mempunyai diriku di dunia ini, Mom.” “Kau serius Aro? Tunggu, maksud Mommy, bagaimana bisa? Dan, kapan? Lalu… Chloe…” Pertanyaan beruntun Wella itu langsung dijawab Axton dengan erangan, “Mom.” Axton memandang Wella yang tampak bingung. Ia membuang nafas. “Kumohon jangan mengungkit Chloe, Mom. Istriku biasa akan mendiamkanku seharian.” Wella berkedip beberapa detik. “Ia sedikit pencemburu. Dan lagi, Chloe dan aku tidak pernah serius untuk terikat pada pernikahan Mom.” “Apa?” “Aku tahu ini pasti terasa aneh untukmu Mom. Tapi… aku dan istriku… kami sungguhan saling melengkapi.” *** Wella menatap gadis di hadapannya. Bola mata hijau itu terlihat sayu dan sembab. Rambut cokelat dicepol asal. Dan beberapa helai anak rambut tampak menjuntai di sekitar wajah. Juga sweater berwarna merah membalut tubuh gadis itu, menutupi hingga leher dan panjangnya di atas lutut. Dan semua yang dikenakan Milly itu telah diatur oleh pelayan Axton sesuai selera lelaki itu. Axton duduk di sebelahnya, mengapit mesra pinggang Milly. “Ia bernama Milly, Mom. Dan kami…” menggantung kalimatnya sejenak, Axton memberikan tatapan hangat pada Milly, “kami akhirnya memutuskan untuk bersama.” Lelaki itu benar-benar aktor yang handal. Sandiwaranya begitu sempurna. Milly memberikan lirikan tajam pada Axton karena getaran benda sialan yang dimasukkan lelaki itu di daerah sensitifnya saat di kamar, sebelum membawanya duduk di depan Wella. Walau tidak melihat langsung, tapi Milly tahu Axton memainkan alat kontrol itu di dalam saku celana. Sengaja menyiksanya. “Ya..” Spontan Milly membuka suara. Memupuskan gurat ketidakyakinan Wella seketika. “Aku… aku jatuh cinta pada Putramu.” Suara itu begitu halus, nyaris seperti bisikan dan sedikit bergetar. Axton melemparkan senyum tipis pada Milly dengan tampang tak berdosa yang disambut Milly dengan membuang muka. Di depan mereka, Wella mengira gelagat Milly itu sedang tersipu hingga ia tidak kuasa menyunggingkan senyum geli. “Itu bagus. Mengetahui kau mencintai Putraku, aku sangat senang mendengarnya.” Nada bicara Wella terdengar rapuh. Persis dengan gurat wajahnya. Tapi paras wanita tua itu masih tetap cantik. Kedua tangan Milly saling meremas di atas paha, sesekali ia mengigit bibirnya, tapi ia mencoba untuk memfokuskan pandangan pada Wella. Memaksakan senyum terbit di antara getaran yang makin menggila yang ditimbulkan benda sialan itu, di bawah sana. “Dan tentang ketiadaan orangtuamu, kau bisa menganggapku sebagai Ibumu, memanggilku Mommy seperti Putraku. Kau tidak lagi sendirian. ” “Mom.” Wella menyadari maksud dibalik bisikan pelan Axton. Ia pikir Axton tidak ingin mengungkitnya. Itu terlihat dari cara Putranya menatap Milly. Seperti menyiratkan makna lain. Dan Wella menafsirkan itu sebagai bentuk kekhawatiran Axton. Karena topik ini bisa jadi sensitif bagi gadis itu. “Maafkan Mommy. Mommy hanya ingin istrimu merasa nyaman dengan Mommy. Karena sekarang ia menjadi bagian keluarga kita.” Kemudian Wella menatap penuh prihatin sekaligus kepedulian yang begitu kentara pada Milly, sebelum kembali menatap Axton. “Lagipula Mommy hanya tidak ingin ia memendam kesedihannya. Ia bisa membaginya dengan Mommy jika ia mau.” Tiba-tiba airmata samar menggenang di pelupuk mata Milly ketika mendengar kata-kata tulus Wella. Ia ingin menguak segala perbuatan tidak bermoral Axton dan segala ancaman lelaki itu. Tapi tidak bisa. Desakan getaran di bawah sana, makin liar dan sukses mencuri konsentrasinya. Membuat Milly tidak yakin bisa bertahan lagi. Sementara Axton tersenyum pada Ibunya. Dalam hati ia meragukan hal itu. Membagi kesedihan bukan hal yang baik untuk pasien yang memiliki riwayat depresi dan sedang berada pada tahap pemulihan. “Sepertinya Mom menyukaimu.” Axton mengecup puncak kepala Milly. Ia berbisik sarat intimidasi kemudian di antara rambut gadis itu tanpa diketahui Wella, “Katakan sesuatu yang menenangkannya,” dan menjauhkan kepalanya. Wella mulai mengernyit, merasa aneh dengan ekspresi Milly. Tapi Milly menatap Wella dan tersenyum lebar. Senyum yang sejujurnya dipaksakan. “Tidak. Aku… aku tidak apa,” responnya terbata-bata. “Sungguh?” Keraguan Wella semakin nyata. Milly menjawab dengan anggukan cepat. “Jadi kau bisa ceritakan awal pertemuanmu dengan Putraku?” Wella menyipitkan mata, menelusuri ujung kepala hingga kaki Milly yang bergerak tidak nyaman. “Ini sangat memalukan Mom,” dehem Axton yang sadar aksi pengamatan Wella pada Milly. Tidak hanya itu, sepertinya Ibunya juga mulai mencurigai dirinya. Karena tatapan Wella seakan sedang menghakiminya sekarang. Shit. Axton merasa kesal dengan Milly. Karena gadis itu tidak berhasil mengikuti apa yang telah disuruhnya dari awal untuk tidak menimbulkan tanda tanya pada Ibunya. Maka dalam sekali pencet, ia menaikkan getaran vibrator itu pada tingkat paling maksimal. Itu jelas sukses meruntuhkan pertahanan Milly, spontan menunduk dan berseru, “Akh!” Ia juga tidak sadar refleks merapat pada Axton hingga kepalanya terkulai di dada lelaki itu, terengah-engah dengan jemari yang mencengkram ujung kaos Axton. “Apa kau baik-baik saja?” tanya Wella yang seketika cemas dan curiga pada Axton. Dengan segera, Axton menutupinya. “You’re okay?” Ia mengenggam tangan mungil Milly yang meremas ujung kaosnya, mengusapnya. “Ar-” “Mom sepertinya istriku tidak dalam kondisi yang baik untuk saat ini. Jadi kurasa aku perlu mengantarkannya-” “Tidak.” Jika Axton menginterupsi kalimat Wella tadi, kini giliran Milly yang menginterupsi kalimatnya dengan cepat. Gadis itu segera beranjak dan pamit pada Wella. “Aku… aku hanya perlu ke kamar mandi.” Mata Milly sempat beradu tatap dengan Axton sedetik. Walau tidak ada sorot ekspresi pada bola mata lelaki itu, tapi Milly sadar akan aura negatif yang tersembunyi di baliknya. Aura yang berbahaya dan membuat Milly perlu waspada setelah ini. “Mom, kurasa aku perlu mengecek keadaan istriku. Sepertinya ada yang salah dengannya. Dan lagi, ia belum hafal seluk beluk rumah ini.” Axton menatap lurus sosok Milly yang berderap cepat meninggalkannya di sofa ruang keluarga. Wella yang tadi sempat memerhatikan langkah Milly sadar bahwa arah gadis itu memang bukan menuju pada kamar mandi melainkan dapur di rumah ini, kini menatap Axton. Tapi Axton sudah berdiri terlihat hendak menyusul Milly. Wella mendongak. “Aro, kau tidak menyembunyikan sesuatu hal pada Mommy kan?” Langkah Axton terhenti karena Wella menahan tangannya. Untuk sedetik Axton diam sebelum membalas tatapan sendu Wella. Ia memberikan senyum tipis. “Tidak Mom.” “Tapi-” “Jika ini tentang awal pertemuanku dengan Milly, maka aku akan memberitahumu Mom,” putus Axton langsung, sesekali matanya menatap ke arah hilangnya sosok Milly di ujung ruangan. “Sederhana saja. Pertemuan pertama kali kami terjadi saat ia meminta pekerjaan denganku. Lalu… semua terjadi begitu saja, Mom. Kami… kami saling jatuh cinta.” Wella melepaskan tangannya yang menahan Axton. “Jangan khawatirkan apapun Mom. Kami sudah memutuskan untuk menjadi teman hidup dan menua bersama.” Kemudian Axton mengecup kening Ibunya sekilas dan berbisik, “Dan kami sedang berusaha menambah anggota baru di rumah ini.” Wella sempat terkejut dengan ungkapan Axton. Tapi tidak lama. Ia sudah tidak kuasa menyembunyikan rasa bahagianya lalu tertawa kecil. “Kalau begitu, kau sebaiknya menemani istrimu Aro.” Detik berikutnya Axton telah melenggang dan Wella hanya mengamati punggung tegak Axton yang perlahan lenyap, menyusul Milly di ujung ruangan. “Thomas, kau dengar itu?” Thomas yang baru datang, menginjakkan kaki di rumah ini sambil menenteng sebuah paper bag, mengerutkan kening akan pertanyaan Wella yang terselip nada girang. “Tidak lama lagi akan ada tangisan bayi di rumah ini.” Wella menatap Thomas dengan kegembiraan yang belum pudar. “Ya Nyonya Wella?” Thomas tampak agak linglung di dekat ambang pintu rumah. “Aro sedang berusaha dengan istrinya dan mencari tahunya saat ini Thomas.” Thomas cukup kaget dengan apa yang dikatakan Wella mencoba menetralkan ekspresinya dan membalas seadanya dengan senyum canggung. “Saya turut senang mendengarnya Nyonya Wella.” “Dan apa itu Thomas?” tunjuk Wella baru menyadari paperbag yang dibawa Thomas. “Ini adalah pesanan Tuan Ax untuk istrinya. Sebuah dress baru untuk menghadiri acara pesta Nyonya.” “Pesta?” “Ya, pesta kolega Tuan Ax, Nyonya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD