Akan tidak suka mengingat masa penuh luka itu, masa kelam itu, masa lalu dulu. Tapi, baiklah hanya untuk kali ini saja.
***
"Wah, Rai lahap sekali makannya," ujar mama Rai sambil mengelus kepala Rai.
"Sehabis makan main bola sama, Papa yuk Rai," ajak ayah Rai. Rai mengangguk senang. Rai kemudian bermain bersama mama dan papanya, mereka bermain tangkap bola. Begitulah keseharian yang dia jalankan.
"Haduh, kalian ini kalau sudah baca buku pasti deh lupa duni." Mama Rai mengambil bukunya dan buku miliknya yang sedang mereka baca.
"Ih, Mama apa-apaan si kan tadi Papa masih asyik baca buku," kata papa Rai dengan manja. "ya kan Rai?" Papa Rai menatap Rai, Rai mengangguk sebagai jawaban iya.
"Papa, jangan ajari Rai baca buku terus dong, Pa dia kan juga butuh main. Kamu juga Rai sekali-kali main bareng temen kamu dong, jangan ikutin Papa mulu," omel mama Rai.
"Mama, ini cerewet banget, ya," sindir papa Rai.
"Oh, berani ya ngatain Mama cerewet sini Mama gelitikin." Mama Rai mengejar Rai dan papanya kemudian menggelitiki mereka sampai meminta ampun, mereka tiduran di rerumputan melihat langit yang biru yang diselimuti awan.
"Semoga kita terus gini selamanya, ya," ucap Rai tiba-tiba membuat mama dan papanya heran.
"Kok kamu ngomong gitu si, Sayang?" tanya mama Rai. Rai hanya menggeleng. "oh, Mama tau pasti kebanyakan baca novel sedih ya," tebak mama Rai sambil melotot ke arah papa Rai.
"Lho, kok Mama melotot ke arah Papa?" tanya papa Rai. "bukan, Papa lho Ma," tambahnya lagi.
"Iya deh, iya Mama percaya. Tapi setelah Mama gelitiki lagi." Mama Rai langsung menggelitiki papa Rai, dibantu oleh Rai.
"Curang, mainnya keroyokan," ujar papa Rai balas menyerang. Mereka tertawa begitu bahagia.
Rai terbangun dari mimpinya, dia mengelap keringat dengan punggung tangan, padahal ac sudah dinyalakan sampai maksimal. Rai kemudian turun ke bawah untuk mengambil minum, di ruang tamu dia melihat papanya tertidur. Papanya mabuk-mabukan lagi, bau alkohol begitu menyengat dan ada beberapa botol kosong di meja ruang tamu. Rai mengambil selimut dan menyelimuti papanya.
"Kalau saja, anak tidak tau diri itu melarangnya pasti Istriku tidak akan mati!" kata papa Rai mengigau. Rai berhenti sejenak, rasa bersalah kembali memasuki hatinya. Tapi itu juga bukan sepenuhnya salah Rai, bahkan bukan salah Rai sama sekali.
***
Malam itu mama Rai terlihat sangat gelisah, jam sudah menunjukkan tengah malam. Rai juga sudah terlelap tidur tadinya, tapi karena dia haus dia pun turun untuk menambil minum. "Mama kenapa kok belum tidur?" tanya Rai. Mama Rai agak terkejut mendengar suara Rai, dia berusaha menyembunyikan kecemasannya.
"Gak kok gapapa, Mama cuma gak bisa tidur aja," jawab mama Rai berbohong. Rai tau mamanya dan dia tau betul saat ini mamanya sedang berbohong.
"Mama bohong, Mama kenapa si Ma kok cemas gitu? Jangan buat Rai panik juga," kata Rai mulai ikut panik.
"Ini, Sayang tadi pihak rumah sakit telepon Mama katanya Papa kecelakaan karena mabuk berat sehabis pulang dari ulang tahun temannya, Mama mau liat Papa di rumah sakit tapi Mama gak tau mau naik apa. Gak mungkin kan tengah malam gini ada ojek atau taksi," kata mamanya menjelaskan.
"Rai yakin Papa gapapa, Ma. Mama jangan cemas gitu nanti pas subuh kita langsung ke tempat tukang ojek atau stasiun kereta aja buat jenguk Papa." Rai mencoba untuk tenang.
"Gimana kalau Mama naik mobil yang dibagasi aja ya, Rai?" tanya mamanya meminta saran.
"Jangan, Ma. Bahaya Mama kan trauma!" larang Rai degan tegas.
"Tapi, Rai Mama bener-bener khawatir," ujar mama Rai tidak tenang. Rai pun bingung harus bagaimana, dia akhirnya hanya bisa memeluk mamanya untuk menenangkannya. Rai kemudian menuntun mamanya ke sofa dan menbuatkannya teh agar lebih tenang, setelah itu mereka berdua tertidur di sofa. Setengah jam kemudian mama Rai bermimpi buruk soal papa Rai yang meninggal, tanpa berpikir panjang mama Rai menaiki mobil menuju ke rumah sakit. Tapi, diperjalanan mama Rai menyalami kecelakaan karena masih trauma mengendarai mobil dan akhirnya menabrak truk yang ada di jalan raya kala itu.
Keesokan paginya Rai melihat mamanya tidak ada dan mencari mamanya, dia melihat pintu bagasi terbuka. Tidak lama papanya pulang dengan luka kecil dibagian siku dan dahi saja. "Papa, Papa baik-baik aja?" tanya Rai saat papanya pulang.
"Papa baik-baik aja hanya luka goresan, gak ada yang serius. Mama kamu mana?" tanya papa Rai.
"Mama ...." Rai tidak meneruskan kata-katanya lidahnya terlalu keluh untuk bercerita. "ini baru ansumsi saja, tapi kemarin malam saat mendengar rumah sakit menelepon dan mengabarkan Papa kecelakaan Mama sangat khawatir. Mama ingin naik mobil tapi aku larang, saat aku bangun Mama sudah gak ada," jelas Rai.
Papanya langsung bergegas ke mobil karena asumsi Rai jarang melesest, Rai ikut berlari dan juga masuk ke dalam mobil seperti tau papanya akan melakukan apa. Masih dengan piyama tidurnya dan papanya yang masih memakai snetelan kantor dengan dasi berantakan mereka mencari mamanya. Di saat mereka mencari mama Rai, ada sebuah kerumunan bekas kecelakaan tadi malam. Dengan was-was papa Rai menuju ke sana, mereka melihat siapa yang jadi korban dan seakan disambar pertir di siang bolong jasad mamanya terkapar di sana penuh darah, otak yang berceceran keluar, kaki dan tangan yang terpisah. Mereka terduduk lemas sambil menangis histeris.
***
Setelah acara pemakaman baik Rai maupun papanya tidak saling bicara lagi, Rai selalu disalahkan atas kematian mamanya itu. Rumah yang awalnya penuh warna itu kini begitu sepi, papanya yang memang suka mabuk menjadi semakin parah dan menjadi pecandu berat satu hari saja papanya tidak minum maka papanya akan merasa frustrasi. Pernah suatu kali Rai mencoba menghentikan papanya minum, akhirnya dia menyembunyikan semua botol anggur dari tempat penyimpanan anggur ke ruang rahasia yang hanya dia tau, papanya mencari ke setiap sudut rumah dan tidak menemukannya sampai akhirnya papanya mau bunuh diri. Akhirnya Rai mengalah dia mengembalikan minuman anggur itu ke tempatnya semula.
Rai menjadi menutup diri, dia yang awalnya menjadi anak yang ceria menjadi pendiam dan lebih suka berteman dengan buku. Dia tidak mau didekati jika ada yang sengaja mendekatinya dia akan membuat orang itu menjauh dengan melukai perasaan mereka, atau dia yang akan menjauh. Keungan di rumah mereka menjadi sangat buruk, akhirnya papanya menjual rumah yang penuh kenangan itu dan tinggal di kontrakan kecil. Banyak bantuan yang diberikan kepada keluarga Rai karena keluarga Rai pun suka membantu orang lain tetapi percuma jika itu tidak akan mengubah apapun mereka terlalu menutup diri untuk berubah dan tidak bisa mengikhlaskan.
"Rai, ayo kita mendaki gunung!" seru papanya pagi ini dengan semangat. Papanya masuk ke kamar Rai yang gelap dan membuka semua tirai jendela, Rai menutup matanya dia belum biasa dengan cahaya silau yang ada. "ayo Rai kita mendaki gunung, Papa sudah siapkan semuanya. Sekarang kamu bersiap, ya. Papa tunggu." Papa Rai kemudian keluar dari kamar Rai. Jujur dalam hati Rai senang melihat perubahan papanya pagi ini, dia tersenyum tipis dia pikir papanya sudah mengikhlaskan dan tidak akan menyalahkannya lagi atas kematian mamanya itu.
Setelah Rai bersiap mereka makan bersama, sudah lama papa Rai tidak masak masakan seenak ini. Masakan mama Rai saja kalah dibandingkan masakan papa Rai karena dulunya papa Rai pernah menjadi seorang koki. Rai makan dengan lahapnya, mereka kemudian berangkat dengan mobil yang dipinjamkan teman papa Rai. Sepanjang perjalanan tidak henti-hentinya Rai tersenyum, papa Rai juga menyanyikan lagu naik-naik ke puncak gunung seperti anak kecil. Kesedihan mereka lenyap untuk sementara.
Setelah mereka mendaki di puncak papa Rai berteriak dengan kencangnya, begitu juga dengan Rai. Sepulang dari gunung mereka beristirahat sejenak di rumah selama satu hari dan keesokan harinya papa Rai mengajaknya untuk pergi ke taman di alun-alun kota, Rai setuju saja malah merasa sangat senang.
***
"Udah semua kan ya perlengkapannya?" tanya Asiyah pada Amira, Fina, Revan, Vina, Raka, dan Rangga yang sudah duduk manis di belakang.
"Sudah, Bunda!" seru mereka serentak.
Akhirnya mereka berangkat menuju ke taman di alun-alun kota yang baru diresmikan memang agak jauh dari tempat tinggal mereka tapi mereka ingin sekali ke sana, ada juga taman di dekat rumah mereka hanya berjarak lima belas menit jika menaiki sepeda tapi taman itu sering mereka kunjungi. Setelah sampai di sana mereka menurunkan semua peralatan, mereka melihat seorang anak laki-laki bersama ayahnya di dekat mereka ada sedikit rasa iri.
"Oh, iya Rai Papa mau ambil barang dulu di rumah ada yang ketinggalan," ucap papa Rai kepada Rai. "kamu tunggu di sini, ya." Rai mengangguk, karena jarak rumahnya taman itu hanya lima menit jika jalan kaki. Sambil menunggu Rai membaca bukunya dan melupakan sekitar, sampai Rai habis membaca bukunya papanya belum juga kembali membuatnya cemas. Tapi dia yang terlalu patuh akhirnya tetap menunggu sambil memenuhi pikirannya dengan pikiran positif bahwa papanya akan memberikan kejutan padanya. Sampai sore dan taman sudah mulai sepi pun papanya belum juga kembali, perutnya sudah berbunyi sedari tadi.
Aisyah, Yusuf dan yang lainnya yang memperhatikan sedari tadi merasa kasihan. "Ikut bareng kita yuk, makan malam bareng di situ," ajak Raka menunjuk pedagang kaki lima yang tidak jauh berjualan dari taman itu. Rai memandangi mereka, dia curiga.
"Kami bukan penculik, ayo ikut aja." Akhirnya karena dipaksa Rai ikut bersama mereka dan makan. Setelah itu mereka mengantarkan Rai ke rumahnya setelah di tanya berkali-kali baru Rai menjawab, dan rasa kecurigaannya menurun. Dia membuka pintunya dan tidak dikunci, dengan panik dia langsung ke dalam diikuti Asiyah dan Yusuf takut terjadi sesuatu. Alangkah terkejutnya Rai saat melihat papanya yang sudah tewas gantung diri, Rai tidak menangis atau menjerit dia hanya terduduk di lantai. Akhirnya Rai pun diadopsi oleh Yusuf dan Aisyah.
Selanjutnya: Lembaran baru