"Mulai besok, permainan kita akan berubah, Gia."
Kata-kata dingin itu terus berdengung di kepala Giana sepanjang sisa malam, bahkan setelah aroma sandalwood di kamar 1001 telah sepenuhnya menguap. Pria misterius itu pergi begitu saja setelah menjatuhkan kalimat yang meremukkan seluruh ketenangannya.
Kini, fajar telah menyingsing. Giana melangkah keluar dari lobi hotel dengan tubuh yang terasa remuk. Ponsel di saku mantelnya bergetar kencang. Nama 'Rumah Sakit Pusat' tertera di layar. Dengan tangan gemetar, ia menggeser tombol hijau.
"Halo, selamat pagi. Dengan Saudari Giana Putri?" suara administrasi di seberang sana terdengar sangat formal.
"Iya, saya sendiri. Bagaimana kondisi ibu saya, Sus?"
"Kami ingin mengonfirmasi bahwa seluruh biaya operasi saraf dan jaminan perawatan Ibu Ratna telah dilunasi secara penuh pagi ini melalui Yayasan Medis Mandiri."
Giana mengembuskan napas panjang. Air matanya menetes, bukan karena sedih, melainkan karena kelegaan yang luar biasa. "Jadi... operasi ibu saya bisa langsung dilakukan?"
"Benar. Operasi dijadwalkan pukul sembilan pagi ini. Anda diharapkan segera datang untuk menandatangani berkas persetujuan tindakan medis."
"Baik, Sus. Saya segera ke sana. Terima kasih banyak."
Giana menutup telepon. Di bawah terik matahari pagi yang mulai memanas, ia meremas tali tasnya. Setidaknya, harga diri yang ia buang semalam berharga nyawa bagi ibunya. Kontrak iblis itu benar-benar nyata.
Pukul 11.00 WIB, Koridor Kampus...
Giana berjalan terburu-buru menyusuri koridor fakultas ekonomi dengan langkah gontai. Kepalanya pening karena kurang tidur, dan tubuhnya masih menyesuaikan diri dengan rasa sakit sisa semalam.
"Gia! Giana!"
Sebuah lambaian tangan ceria menghentikan langkah Giana. Shena Kirana, dengan blus desainer mahal dan tas bermerek yang berkilau, berlari kecil menghampirinya. Wajah sahabatnya itu tampak luar biasa berseri-seri.
"Shena? Ada apa? Kamu kelihatan senang sekali," tanya Giana, berusaha mengulas senyum terbaiknya agar tampak normal.
"Senang? Ini lebih dari sekadar senang, Gia! Akhirnya tunanganku pulang dari London hari ini!" Shena memeluk lengan Giana dengan gemas. "Kamu harus ikut aku ke lobi depan sekarang. Dia bilang mau menjemputku!"
Giana meringis pelan saat lengan Shena tidak sengaja menyenggol bahunya yang memar. "Ah, Shen... maaf. Aku harus ke perpustakaan sekarang. Dosen pembimbingku minta draf bab tiga siang ini."
"Aduh, Gia, sebentar saja! Kamu kan belum pernah lihat dia. Aku mau pamer ke kamu kalau tunanganku itu tampan sekali, meskipun orangnya agak kaku seperti batu," rengek Shena sambil menarik paksa tangan Giana.
Giana tidak tega menolak. Shena adalah satu-satunya teman di kampus yang tidak pernah memandang rendah status ekonominya yang hanya anak pensiunan. "Baiklah, sebentar saja, ya? Aku benar-benar tidak punya banyak waktu."
"Nah, begitu dong! Ayo!"
Mereka berdua berjalan menuju lobi utama kampus yang mulai ramai oleh mahasiswa yang berlalu-lalang. Shena terus bercerita tanpa henti tentang bagaimana rindu dirinya selama pria itu berada di luar negeri untuk mengurus bisnis keluarga. Giana hanya mendengarkan sambil sesekali mengangguk, pikirannya masih tertuju pada kondisi ibunya yang saat ini pasti sedang berada di dalam ruang operasi.
"Gia, lihat! Itu mobilnya!" Shena menunjuk ke arah halaman parkir lobi.
Sebuah sedan mewah berwarna hitam metalik berhenti tepat di depan undakan lobi. Seorang pria dengan setelan jas hitam yang memeluk tubuh tegapnya dengan sempurna keluar dari pintu kemudi bagian belakang. Perawakannya tinggi, dengan rahang tegas dan potongan rambut yang sangat rapi.
Dari jarak sepuluh meter, Giana mendadak merasakan firasat buruk. Langkah kakinya mendadak terkunci di lantai marmer.
Pria itu berjalan mendekat. Angin siang berembus, membawa sekelebat aroma pekat yang langsung menusuk indera penciuman Giana. Parfum sandalwood yang hangat bercampur dengan tajamnya black pepper.
Jantung Giana seketika berhenti berdetak. Seluruh darahnya terasa naik ke kepala.
Aroma ini... tidak mungkin.
"Kak Kian!" seru Shena riang, langsung melepas gandengan tangan Giana dan berlari menghambur ke pelukan pria itu.
Pria bernama Kian itu menerima pelukan Shena dengan formal, menepuk bahu gadis itu pelan sebelum pandangan matanya yang setajam elang bergerak menyapu lobi. Dan dalam hitungan detik, sepasang mata dingin itu mengunci tatapannya tepat pada Giana yang berdiri membeku seperti patung.
Giana merasa bumi di bawah kakinya runtuh. Rahang tegas itu, bibir tipis yang dingin itu... meskipun semalam matanya ditutup dan ia hanya melihatnya sekilas saat penutup matanya dilonggarkan, suara bariton dan aroma tubuh ini tidak akan pernah bisa membohonginya.
Pria misterius pemilik kamar 1001 adalah Kian Elvano. Tunangan resmi sahabat karibnya sendiri.
"Kak Kian, perkenalkan, ini Giana Putri. Sahabat terbaikku di kampus yang sering aku ceritakan," ucap Shena sambil menarik Giana agar mendekat.
Giana meremas ujung kemejanya hingga kukunya memutih. Ia menunduk dalam-dalam, menolak untuk menatap mata Kian. Tubuhnya gemetar hebat karena rasa takut dan rasa bersalah yang teramat besar yang tiba-tiba menghantam dadanya. Tuhan, apa yang sudah aku lakukan?
"Senang bertemu denganmu, Giana Putri," ucap Kian. Suara baritonnya yang berat terdengar begitu lambat, bergetar di udara lobi kampus, persis seperti cara pria itu membisikkan perintah di telinganya semalam.
Giana menelan ludah yang terasa sekering padang pasir. "S-Selamat siang, Pak Kian."
"Pak?" Shena tertawa renyah, menyenggol lengan Giana. "Gia, jangan kaku begitu. Panggil Kak Kian saja, dia kan calon suamiku."
Kian tidak melepaskan pandangannya dari puncak kepala Giana yang terus menunduk. Sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah lengkungan tipis yang sangat samar—sebuah senyuman dingin yang sarat akan d******i.
"Tidak apa-apa, Shena. Giana sepertinya gadis yang sangat tahu sopan santun dan batasan," sindir Kian dengan penekanan yang tajam pada kata 'batasan'. Pria itu memajukan langkahnya satu tapak, membuat jarak di antara mereka mengikis, hingga aroma tubuhnya kembali mengepung Giana tanpa ampun.
Giana memejamkan mata di balik tundukannya, mati-matian menahan lututnya agar tidak lemas di lobi yang ramai ini. Sindiran Kian jelas tertuju padanya. Pria itu tahu. Pria itu sadar siapa dirinya.
"Kalian mau makan siang bersama? Kebetulan aku punya waktu luang sebelum rapat jam satu nanti," tawar Kian, matanya tetap mengunci Giana yang gelisah.
"Wah, mau dong! Gia, kamu harus ikut, ya? Tidak ada penolakan!" seru Shena penuh semangat.
Giana mendongak dengan panik, menatap Shena lalu beralih pada mata elang Kian yang seolah sedang menelanjanginya di depan umum.
"Shena, maaf... aku benar-benar harus ke perpustakaan. Tugasku—"
"Aku tidak suka ditolak, Giana," potong Kian dingin, suaranya pelan namun penuh dengan otoritas yang tidak bisa dibantah. "Dan kurasa, restoran di seberang kampus memiliki suasana yang cukup tenang untuk kita saling mengenal lebih jauh. Bukan begitu?"
Giana mengepalkan tangannya di balik saku. Tatapan Kian adalah perintah mutlak, persis seperti malam itu. Jika ia menolak sekarang, ia takut pria manipulatif ini akan melakukan sesuatu yang membongkar rahasia mereka di depan Shena.
"B-Baiklah," bisik Giana pasrah.
Kian tersenyum puas, lalu membukakan pintu mobil untuk Shena. Namun dalam hatina berkata, "permainan baru kita di dunia nyata dimulai sekarang, Gia."