Peony

1012 Words
Hari ke-6 Pagi hari ini, aku berjalan ke arah kulkas untuk mencari makanan ringan untuk sarapan pagiku. Aku membuka kulkas dan menemukan sebuah sticky notes di atas sebuah kotak berisi kimbab. 'makanlah, untukmu yang berangkat jam 9' Aku mendorong otakku untuk berpikir dengan cepat di pagi hari ini, apakah aku harus mengambil gimbap itu atau tidak. Aku mengetahui bahwa gimbap itu untukku, karena tulisan yang tertera jam 9 pagi, juga karena aku tahu Seok-Hoon membeli bahan makanan untuk gimbap kemarin sore. Akan tetapi, jika aku mengambil gimbap itu saat ini, semua orang yang berada di dapur dan ruang makan ini akan mengetahui bahwa ada seseorang yang sedang dekat denganku. Walau sesungguhnya itu hanya kecurigaan mereka karena aku belum sedekat itu dengan Seok-Hoon. Apakah akan baik-baik saja jika aku mengambil gimbap itu saat ini? Jika aku tidak mengambilnya, bukankah itu sangat tidak sopan bagi Seok-Hoon karena aku berpura-pura tidak tahu pemberiannya ini untukku. Tapi jika aku mengambilnya, akankah hal ini membuat pria lain mundur? "aku sudah melihatnya, dan aku rasa itu untukmu" terang Yuri tanpa mengecilkan suaranya, membuatku tidak memiliki opsi lain selain mengambil gimbap itu dan tersenyum miris karena otakku belum mengambil keputusan dan tindakan orang lain yang membuatku mengambil keputusan. Terkadang hidup sering sekali becanda padaku, banyak hal terjadi yang tidak sesuai dengan apa yang kuinginkan atau kurencanakan, termasuk gimbap ini. Aku mengambil gimbap itu, yoghurt dan buah strawberi, aku mencuci buah strawberi itu sebelum aku berjalan ke meja makan untuk memakannya. Di meja makan saat itu, sudah ada Yuri, Yohan, Kang-Min, Hae-il, dan Bora. "sepertinya pria yang memberikanmu itu, bukan dari 3 orang di sini," lanjut Bora sambil menunjuk tiga pria yang disebutkanya. Diiringi dengan muka bengong, tidak bersalah, plenga-plengo dari Hae-il. "sepertinya aku tau yang memberikanmu itu" bisik Sera saat ia melewati-ku hendak mengambil makanan di kulkas juga. Aku tidak terlalu menghiraukan tanggapan mereka, aku hanya mengambil gimbap itu, berjalan menuju meja makan, duduk disana dan memakan gimbap itu. Aku membiarkan mereka bercakap-cakap dan tidak menghiraukan pembicaraan terkait gimbap itu sebelumnya. Aku benar-benar berharap mereka melupakan tentang kejadian gimbap ini. "bagaimana perasaanmu?" tanya Kang-Min ketika kami berpapasan saat aku hendak menaiki tangga menuju lantai atas untuk mempersiapkan diri berangkat bekerja "biasa…" jawabku "kau terlihat lebih bahagia dibanding sebelumnya.."lanjutnya. "maksudmu, aku lebih bahagia karena kimbab itu… "salah satunya… kalau kau ada waktu, aku akan mengajakmu makan siang…,"tanyanya. Aku merasa sedikit lega, setidaknya aku tidak terlalu salah dengan mengambil gimbap itu, karena saat ini Kang-Min tetap mengajakku berbicara dan berusaha untuk mengenalku lebih jauh. Aku berusaha mengingat jadwalku hari ini, apakah hari ni aku bisa untuk pergi keluar dari tempat kerjaku sebentar untuk menemuinya makan siang. Aku mengangguk dan ia memberi tahuku salah satu restaurant yang terletak tidak jauh dari kantorku. Aku melanjutkan langkahku menuju kamar-ku di lantai 2 dan bersiap untuk pergi ke kantor hari ini. Aku memilih untuk mengenakan blouse ku yang berwarna merah dengan rok midi berwarna senada, kombinasi yang menurut saya profesional dan bergaya. Dengan rambut yang diikat rapi dan riasan yang sudah selesai, saya merasa lebih percaya diri dan mampu untuk menghadapi hari ini. Siang ini, dari kejauhan aku melihat sesorang menungguku di depan pintu masuk sebuah restaurant. Ia melihatku dan tersenyum. "mengapa kau tidak masuk? Bukankah di sini dingin?" tanyaku saat aku sudah berada tepat di hadapannya. "tidak juga, aku belum lama berdiri di sini…." ia membukakanku pintu restauran itu, mempersilakanku untuk masuk terlebih dahulu. Setelah kami duduk, ia memberikanku sebuah penghangat. "kau tidak terlambat ujarnya…."ujar Kang-Min padaku, aku tersenyum dan mengangguk. Aku yakin pernyataannya hanya untuk memastikan agar aku tidak perlu khawatir karena ia menungguku beberapa saat di depan restaurant ini. "wanita seperti apa yang kau sukai?" tanyaku sambil menunggu makanan kami di sajikan. "aku menyukai wanita dengan mata yang indah, ceria dan memberikan getaran hangat.. Bagaimana denganmu pria seperti apa yang kau sukai ?" "hmm... aku menyukai pria yang bertanggung jawab, yang bisa berbicara nyambung denganku, dan yang pasti bisa membuatku merasa nyaman ketika bersama dengannya.. " "Bagaimana biasaya perasaan suka-mu tumbuh pada seseorang ?" tanya Kang-Min lagi. "aku merasa, perasaan suka itu terbagi menjadi beberapa tahapan…" ia mengangguk seakan mengerti apa yang sedang kupikirkan. "seseorang yang kau sukai, karena ia menarik hatimu ketika pertama kali kau bertemu dengannya, lalu saat kau mengenalnya lebih lama kau akan memilih seseorang yang terus menarik perhatiannmu dan kau tahu ia juga menyukaimu, dan pada akhirnya, kau akan memilih seseorang yang memiliki visi yang sama denganmu dan membuatmu merasa nyaman.. aku merasa aku butuh waktu yang lama untuk melalui semua tahapan itu…" jawabku sambil tersenyum. "aku bisa merasakan ha-hal yang kau rasakan. Aku-pun perlu melalui semua proses itu untuk menyakini perasaanku pada seseorang." respon Kang-Min padaku. Pramusaji datang dan menyajikan makanan yang kami pesan. "aku memiliki sesuatu untukmu…". Ia memberikan sekotak macarons untukku, ia bercerita bahwa ia menemukan toko kue sewaktu berjalan ke restaurant ini "dan bunga ini? Aku rasa kau tak menemukannya di jalan juga?" ungkapku, ia sedikit tertunduk terlihat sedikit malu. "aku memang memberikannya untukmu.. "bunga apa ini? "peony… kau tahu artinya?" ia balik bertanya, dan aku kembali menggelengkan kepala. "love at first sight" ungkap Kang-Min. "itu kata penjualnya" lanjutnya lagi. Aku hanya tertawa mendengar kekikukannya, ia menjadi lebih kaku dari sebelumnya. "aku menyukainya… "penjual itu mengatakan bahwa bunga peony mu ini akan membantumu menemukan seseorang, cintamu…. " "aku harap begitu,.. Aku juga berharap hal ini berlaku bagimu, semoga kita dapat segera menemukan cinta kita,... " responku sambil tersenyum pada pria berhati hangat di depanku ini. "Terima kasih, aku sangat menyukai warna fushia dari bunga Peony ini" lanjutku lagi. "Kau menyukainya? kau menyukai warna vivid seperti itu ?" "Sepertinya aku menyukai berbagai hal dengan sangat beragam, ada beberapa warna vivid yang kusukai seperti fushia, merah cabai, tapi aku juga menyukai warna pastel seperti lilac, atau nude... "tidak terkategori? "yaa... hanya berdasarkan selera-ku... tapi kau memilih bunga ini dengan sangat tepat sesuai seleraku..." ia kembali tersenyum mendengar pernyataanku, walau kutahu sepanjang percakapan kami, ia selalu menatapku sambil tersenyum hangat. Question: Aku kembali berpikir, ada berapa banyakah di antara penghuni yang sudah berkencan bebas seperti ajakan Kang-Min padaku hari ini. Apakah aku terlambat untuk memulai kencan bebasku?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD