Darren tersentak mendengar ucapan ayahnya. Sejak Kevin terluka sampai sekarang, mereka berdua tidak pernah membicarakan masalah percintaan Darren.
"Lalu, Ayah akan melakukan apa untuk memisahkan kami?" Tanya Darren tanpa basa-basi. Hardi tertawa seolah pertanyaan itu sangat konyol.
Hardi bangkit dari tempat duduknya, lalu mengisyaratkan Darren untuk pindah duduk di meja tehnya. Hardi mulai membuatkan teh untuk Darren sambil berkata, "Kamu suruh Kevin turun dulu. Kakinya bisa kumat berdiri terlalu lama di luar ruangan." Memang benar sejak tadi Kevin menunggu di luar, ada bayangan kaki nya mondar-mandir di balik pintu. Darren menghela napas lalu mengirim whats app ke Kevin, 'Turun duluan, aku akan baik-baik saja.' Setelah itu tampak bayangan langkah kaki Kevin menghilang dari balik pintu.
Hardi menyajikan secangkir teh untuk Darren, "Teh pada dasarnya memiliki rasa manis dan pahit. Manis saat di minum tetapi lama-lama menjadi pahit atau ada yang merasakan sebaliknya. Begitu juga dengan hidup, manis dan pahit pasti datang bergantian. Dan sama seperti teh, rasanya masih bisa ditahan. Tidak sampai membuat orang tersiksa atau tidak sanggup hidup lagi." Darren melihat teh di tangannya lalu melihat ke arah ayahnya. "Apa yang Ayah tunggu? Kenapa belum membuatku merasakan pahitnya hidup?" Tanya Darren pelan. Tetapi Hardi menatapnya sambil tersenyum dan matanya seolah sedang mengamati Darren.
Sejak sampai di rumah, Hardi dapat melihat perubahan di diri Darren. Putranya tidak lagi bocah polos yang dulu dan sebagai pria dia jelas tahu apa yang membuat putranya berubah. Tetapi tak ada yang dapat dia lakukan untuk mencegah mereka. Tiap anak pasti akan mengalami masa pemberontakan khas remaja. Darren mungkin belum menyadari itu, tetapi Hardi tahu tindakan Darren tak ada bedanya dengan jiwa pemberontak khas remaja. "Apa kamu pernah bertanya pada Kevin tentang masa depan kalian?" Tanya Hardi. Darren pernah mencoba bertanya, tetapi Kevin tidak pernah memberi jawaban yang jelas. Malah terkesan ambigu. Lalu dia teringat saat Kevin memberi cincin dan berkata "masih ingin mengikatmu". Awalnya Darren merasa romantis, tetapi saat ini dia merasa kata-kata itu terlalu ambigu.
Apa hubungan mereka hanya sampai pada tahap saling mengikat?
Hardi tersenyum lemah saat melihat Darren tidak menjawab dan seolah tengah berpikir keras, "Apa Kevin pernah memberi kepastian kalau dia tidak akan melepaskan mu apapun alasannya?" Kali ini Darren tidak lagi diam tetapi langsung menggeleng. "Kevin jauh lebih mengerti aku daripada kamu anak kandungku sendiri." Kata Hardi sambil tertawa sinis. Dia seolah mengejek putranya yang berubah menjadi bodoh saat berurusan tentang cinta. "Aku pikir Kevin yang akan bertanya, aku akan melakukan apa untuk memisahkan kalian, tetapi dia tidak pernah menanyakan hal itu. Darren... kamu masih terlalu muda." Lanjut Hardi.
"Ayah bicara apa sih? Iya aku masih muda. Baru 20 tahun. Jadi apa jawabannya?" Tanya Darren tidak sabaran. "Darren, kekuranganmu adalah mengira kamu sudah cukup dewasa dan cerdas. Tetapi sebenarnya kamu masih bocah." Jawab Hardi. "Kenapa aku belum memisahkan kalian? Jawabannya sangat sederhana, karena kalian akan berpisah dengan sendirinya tanpa perlu aku pisahkan." Lanjut Hardi. Darren segera menjawab ayahnya dengan penuh keyakinan, "Tidak mungkin! Dia bilang tidak akan pernah meninggalkanku kecuali aku yang mau putus duluan. Dan aku yakin tidak akan melepaskannya!"
Hardi tersenyum lagi, "Itulah pikiran bocah. Sudah turun sana! Melihatmu membuatku pening!"
Darren segera turun dengan kesal. Dia merasa cintanya sedang diremehkan! Ayahnya berpikir cinta mereka hanya pemberontakan khas anak muda. Tetapi Darren yakin tidak seperti itu! Sementara Kevin menunggu di ruang tamu dan terus melihat ke arah tangga.
"Apa kalian bertengkar?" Tanya Kevin sambil menghampiri Darren. "Aku yang kesal, sementara dia... Dia tampak merendahkan hubungan kita." Jawab Darren. Kevin menghela napas dan hendak mengatakan sesuatu, tetapi suara Melin terdengar dari ruang makan, "Ayo makan... Kevin, Darren!"
....
Selesai makan, Kevin berinisiatif menemui Hardi di ruang kerjanya. Hardi yang melihatnya masuk dan langsung duduk di meja teh tampak kebingungan, "Untuk apa kamu kemari?"
Kevin : "Kenapa harus bertengkar dengan Darren?"
Hardi mendengus kesal, "Bukankah kamu yang menjadi alasannya? Kamu sendiri, kenapa tidak berani jujur padanya?"
Kevin menghela napas pelan, "Apa yang harus aku katakan? Masa mudamu akan segera selesai, cepat atau lambat kita akan berpisah? Lalu memintanya memahami posisinya sendiri?"
Hardi terdiam lalu menatap Kevin dengan tajam, "Saat kalian bersama kamu seharusnya tahu aku tidak akan pernah setuju. Dan bagiku, hubungan kalian adalah aib. Apapun yang kalian lakukan saat ini, selama tidak merusak image perusahaan maka aku akan tutup sebelah mata."
Kevin hanya mengangguk pelan, bagaimana mungkin dia tidak tahu apa yang dipikirkan Hardi. "Dan kamu harus menjamin, karir Darren akan membaik dan hubungan kalian tidak akan menjadi hambatan bagi dia." Lanjut Hardi.
Kevin tersenyum sinis, "Anda memang Ayah yang kejam." Hardi ikut tersenyum lalu berkata, "Kamu adalah anak didikku sendiri. Aku akui jika aku tak bisa membencimu, bahkan aku tak tega melukaimu. Tetapi....."
"Tetapi karena itu juga, Kak Hardi tahu aku tidak akan pernah menghancurkan karir Darren dan merugikan perusahaan. Dan aku tidak akan menjadi penghambat untuk masa depan Darren." Lanjut Kevin.
"Kamu memang anak didikku. Kamu jauh lebih mengerti aku daripada Darren." Kata Hardi sambil menghela napas. Mata Kevin berkaca-kaca, dia sudah tahu sekejam apa Hardi tetapi dia tidak menyangka hatinya masih akan sakit mendengar pemikiran Hardi yang sebenarnya. Baik dia maupun Darren, mereka yang sekarang tidak akan mampu menentang Hardi. Mereka akan menjadi bidak catur yang tiap langkahnya sudah diperhitungkan oleh Hardi.