'Dear Diary'

1670 Words
Malam itu berjalan seperti biasa, like malam-malam sebelumnya ketika Oma-Opa lagi di LN. Audi’s nightly routine adalah as sad girl hours di meja makan—always solo, makannya sebelum atau sesudah toxic duo Mikey-Leoni. Vibe-nya lonely astronaut di tengah empty galaxy, cuma ditemenin suara sendok clinking sama echo kesepian. Meja makan yang harusnya cozy berubah jadi sadness HQ tiap malem. Audi isolated kayak last player di squid game yang di-kick. Bi Iyem, the only ally, masuk bawa mangkuk ayam kecap, “Non, ini ayam kecapnya”— Comfort food favorit Audi yang sedikitnya bisa ngeheal dikit. Audi angguk-angguk paksa senyum, “Makasih Bibi.” Tapi deep down, rasanya kayak nelen batu—makanan enak pun gak bisa nge-replace rasa excluded. Audi nahan tangis sambil makan sendirian, Mikey-Leoni casual cruelty kayak ritual harian. Audi baru nyeruput beberapa suap, tiba-tiba… “Pindah.” Suara Mikey ngecut dari belakang. Audi kaget, langsung auto-evacuate ke dapur bawa piring. “Iya kak,” jawabnya robot mode, padahal dalam hati kayak, “Gue cuma pengen makan tenang, is that too much to ask?*” Bi Iyem nyaut bingung, “Loh, sudah selesai non?” Audi nahan isak tangis, minta tolong pake suara cracked, “Bibi aku boleh minta tolong?” But dalam doi dalam hati kayak, 'Gue cuma pengen makan ayam kecap tanpa diusir kayak stray dog. Kak Mikey-Leoni kayak punya radar tiap gue nyicip kebahagiaan sedikit.” Bibi itu tau banget Audi selalu jadi korban, tapi dilema— Mau speak up? Doi tahu Mikey bakal bully Audi lebih parah. Bi Iyem jadi silent witness yang terjepit antara kasihan sama takut ancaman. “Tolong apa non?” tanyanya soft, mata nya kayak ibu-ibu penuh concern. Audi nunduk, “Aku mau s**u, tolong antarkan ke kamar.” Permintaan sederhana yang wichis low-key jadi cry for help. Bi Iyem angguk, “Non, hanya itu? Bibi akan antarkan." Audi cuma bisa whisper, “Terima kasih Bibi,” Lalu doi buru-buru mau zoom out ke kamar—escape dari warzone keluarga. Bi iyem segera menyiapkan Pesanan Audi, Dalam hati Bi Iyem, “Aduh, Non Audi… Bibi pengen hug lo, tapi kakak-kakak lo itu gangster. Nanti lo malah makin kena knockdown.” Sebelum Audi nyelinap ke kamar Nya, Leoni nyetop dia dengan attitude ZERO!!! “Bawa belanjaan gue ke kamar,” perintahnya sambil nunjuk paper bag overflowing hasil haul* dari mall. #Backstory: Sebelum pulang, Leoni maksa Mikey anterin dia shopping—flexing gaya hidup rich kid biar feed-nya aesthetic. Audi ngegugup, “I-iya kak,” Lalu angkat tumpukan paper bag. Tapi plot twist : satu paper bag nyemplung ke lantai pas di tangga. Leoni langsung bangkit kayak final boss yang ke-trigger, nyamber*barang itu sambil sorot Audi yang freeze di tangga. “b**o, t***l BAWA GINIAN AJA GAK BISA!” bentak Leoni lsambil toyor kening Audi berulang—painful banget literally dan mentally. Audi coba bela diri, “Maaf t-tadi terla-” Tapi Leoni cut off, “Brisik lo, bawa ke kamar gue" Audi ngangguk dengan getir, “Iya kak,” but inside kayak, " Gue cuma try bantu, tapi selalu diproses kayak jadi public enemy. " Doi lansung angkut sisa paper bag ke kamar Leoni. Di situ, dia taruh barang pelan-pelan kayak disarm bomb, takut kebablas lagi. Sesampainya di kamar, matanya nyangkut ke foto besar Leoni dan Mikey berpelukan. Itu foto kelulusan SMP Leoni—era di mana mereka masih squad goals tanpa Audi. Malam Tangga rumah jadi warzone dadakan. Kamar Leoni aesthetic tapi penuh vibe toxic—foto squad eksklusif jadi reminder Audi bahwa gak pernah termasuk dalam squad duo toxic. Audi flashback: waktu itu dia masih tiny, cuma bisa liat dari jauh sambil berharap suatu hari bisa dapet kasih sayang yang sama. Spoiler Harapannya ga kesampean. Dalam hati doi , "Foto itu… mereka dulu happy tanpa gue. Apa gue emang intruder di hidup mereka?” Tiba-tiba,,, “Ngapain lo masih di sini, mau nyuri?” bentak Leoni nyerang Audi dengan toxic verbal*l, Sarkasnya sharp parah kayak pisau. Audi cuma bisa stutter, “Maa-” Langsung dipotong roasting by Leoni yang boiling mad, “MAAF TERUS, LO TAU GAK SIH? MAAF LO ITU GAK BERGUNA, GUE BENCI LO BILANG MAAF, LO ITU NYEBELIN. NGAPAIN SIH HARUS LO YANG HIDUP? BUKAN MAMA GUE AJA!” Audi nunduk, gigit bibir sampe nyaris berdarah—kayak korban di final boss fight tanpa senjata. Mikey nimpalin dari pintu, casual nambahin salt to the wound, “Mungkin ini takdir dia, dilahirkan untuk disiksa.” Audi nyoba tanya pelan, “K-kenapa kalian benci aku?” Suaranya fragile kayak glass heart yang retak. Leoni meledak, “Kenapa? Lo masih nanya kenapa? LO ITU PERUSAK KEBAHAGIAAN ORANG, LO PEMBAWA SIAL, PEREBUT KASIH SAYANG! LO ITU GAK LAYAK HIDUP!” Action-nya makin brutal ,doi nge-jambak rambut Audi, trus nge-dorong dia sampe jatuh di depan Mikey. Audi sobbing, “Hiks, andai aku bi-sa milih hiks aku yang i-ingin mengalah hiks t-tapi jik-” Mikey cut off dengan jambak 2.0, “JIKA APA?” Wajah Audi merah kesakitan, tatapannya kayak anak terluka, tapi malah bikin Mikey makin triggered. Dia kencengin jambakan, “JIKA APA?”* bentaknya makin keras. Audi whisper, “Jika ini memang takdir Tuhan, aku bisa apa?” Mikey ngacirin wajahnya, lalu dorong Audi keluar—tepat di depan Bi Iyem yang udah nangis di pojokan, mulut ditutupin tangan. “Gue cuma exist, tapi kenapa itu jadi dosa? Apa gue emang deserve dibenci sampe segitunya?”, gumamnya lirih Bi Iyem sebenarnya udah liat semua, tapi terjepit antara want to help sama takut Mikey-Leoni makin savage. Dalam hatinya kayak, " Non, Bibi pengen peluk lo, tapi kakak-kakak lo itu monster. Maafkan Bibi…” Dia cuma bisa liat Audi terkapar, broken parah kayak kaca pecah. Dalam hati, Bibi itu scream, “Tuhan, tolong Non Audi… Dia gak deserve ini.” Tapi realitanya, Audi harus hadapin ini sendirian. Leoni-Mikey kayak duo villain yang gaslight Audi tiap hari. meanwhile Audi? just a Walking Losser yang selalu dipojokin. Pas Audi Jalan kekamarnya dari kamar Leoni, Mikey teriak , “Jangan sulky gitu. Lo emang harusnya tau diri.” Audi cuma lirik lantai, jalan ke kamar sambil genggam bekas toyoran di kening. Di depan cermin, dia berbisik, “Mungkin gue emang harus deserve ini.” Setelah itu , Bi Iyem antar s**u plus kue hidden di bawah gelas. Small act of lovecyang bikin Audi nangis dikit—finally, ada yang care. Doi makanan kue sampe nangis haru, tapi Mikey nyamber dari luar, “Jangan berisik!” So Audi langsung mute, sruput s**u sambil stare ke tembok. Another night, another silent scream. **Parafrasa:** Setelah itu, Audi berjalan menuju meja belajarnya. Dengan gerakan pelan, ia membuka laci dan mengambil buku polos bertatahkan nama indah "Diary Audi". Jari-jarinya membalik halaman kosong, lalu ia meraih bolpoin kesayangannya—satu-satunya saksi yang setia mencatat kisah harinya, siap membongkar rahasia yang tertahan. --- Ruangan itu sunyi, hanya terdengar derit laci kayu yang dibuka perlahan. Audi sliding ke kursi belajarnya, matanya kosong tapi penuh cerita. Tangannya menggapai buku di sudut laci—sampulnya polos, tapi ada aesthetic nama "Diary Audi" terukir kayak custom jewelry t****k shop. Buku itu kayak bestie yang selalu available buat storytime tanpa judge. Ia buka halaman pertamanya, masih putih bersih kayak hati orang yang baru move on. Bolpoin kesayangannya, si hitam usang dengan sticker kucing half-peeled, udah standby di genggaman. Itu bolpoin bukan cuma alat nulis—dia ride or die-nya Audi, saksi setiap curhat larut malam, tumpahan air mata, sampe random thoughts pas ujian ngaco. "Aku nggak bisa cerita ke siapa-siapa lagi," batin Audi, jarinya ngegigit bolpoin sebentar. Tapi buku ini? Dia kayak Notes App yang nggak bakal screenshot atau ghosting. Audi mulai corat-coret pelan, tiap garis hurufnya berat kayak slow-mo video. Suasana kamarnya vibe lampu temaram sama playlist lofi yang skip-skip sendiri. Ada yang pahit di udara—bukan cuma bau tinta bolpoin murahan. Mungkin itu rasanya kecewa yang dibungkus senyum, atau kesepian yang di-delay sampe tengah malam. Tapi di sini, di antara halaman buku polos dan bolpoin usang, Audi bisa jadi diri sendiri. Tanpa filter, tanpa caption, cuma coretan-coretan yang nggak perlu jadi trending. Tap-tap ujung bolpoin di kertas. Lalu tinta mulai mengalir—kayak orang ngeklik "post" di private story. Cerita hari ini dimulai... dan dunia luar tetap nggak tahu apa-apa. *** Diary Audi. Aku bertanya pada kakak, kenapa mereka membenciku? Ternyata jawabannya tak sesuai keinginanku. Aku kira mereka akan menjawab, "karena kita sangat menyayangimu Audi, hanya saja dengan cara yang berbeda" aku salah, mereka justru menjawab karena aku adalah perusak, perebut dan memang tak selayaknya hidup? Aku sakit Hatiku menjerit Airmataku mengalir Namun mereka tetap tak peduli. Ingin bertanya "Apa kalian sayang aku?" Ternyata tak bisa karena lidahku selalu kelu. Mama maafkan aku, karena aku, karena aku kedua kakakku tak mendapatkan kasih sayang darimu. Berikut teks yang telah diubah sesuai permintaan: Papa, apakah kau merindukanku? Kuharap jawabannya "Iya". *** Audi nge-slams buku diary-nya, glancenya ke jam dinding—udah 9 PM sharp. Besok hari pertama sekolah, tapi mood-nya kayak broken playlist. “Selamat malam, Dunia,” bisik doi sambil senyufake yang cringier dari IG caption alay. Lampu kamar nyala full—literally satu-satunya her way to hack biar gelap nggak haunt dia. Audi masih trauma sama kegelapan kayak anak kecil, tapi demi rep, dia cover pake alasan “biar aesthetic”. Bolpoin kesayangannya—si kucing sticker-nya half-dead—masih chilling di meja, udah drop semua tea hari ini ke diary. Buku itu safe space-nya, tempat curhat soal anxiety of brothers toxic. Sekarang, di kasur yang feelnya kayak island di tengah silent chaos, Audi staring ke langit-langit, overthink, “Besok gimana kalau gue kikuk? Kalau mereka judge outfit gue?” AC nyapu dingin ke tulang, hoodie-nya no help. Tapi yang bikin shiver sebenernya bayang-bayang di balik tirai—silent enemy yang cuma bisa diusir sama lampu terang. Audi toss and turn, berusaha ignore suara tick-tock jam yang nagging kalo waktu tidurnya limited. Deep down, dia tahu besok harus face reality, tapi malam ini, biarin dia pretend semua aman-aman aja. At least sampe matahari rise, dan plot twist hidupnya roll lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD