Disappointment

1608 Words
"Hai, Stef!" Rayya menempatkan diri di kursi belakang. Mencoba untuk tersenyum manis. Bahkan terlampau manis. Terlihat sekali usaha kerasnya. "Hm." Hanya gumaman. Itulah Stephanie. Dan Nathan? Tidak pernah mengatakan apa-apa. Setidaknya itulah yang dilihat Rayya malam ini. Mobil yang biasanya terlampau luas untuk Rayya dan Nathan mendadak sempit sekali setelah ada Nadine di dalamnya. "Nate.. Apa ada unit kosong di lantai apartemenmu? Aku berencana menetap untuk beberapa waktu. Bisakah membantuku?" "Nanti bisa ku tanyakan. Tapi itu terlalu jauh dari kantor agency mu sekarang, Stef. Lebih baik kamu cari yang terdekat. Pekerjaanmu melelahkan." Rayya berusaha tidak mau tahu apa yang mereka bicarakan. Menutup telinganya dengan airpods mendengarkan beberapa musik yang paling tidak sedikit menenangkan hatinya. Perbincangan tentang tempat tinggal yang berlangsung lumayan lama membuat Rayya jengah. Untung saja mereka sudah berada di lobi hotel tempat Stephanie menginap. Nathan keluar untuk sekedar mengantarkannya keluar. Kemudian kembali lagi ke belakang kemudi dengan berlari kecil. "Semesta.. Rayya!!!" "Apa!!!" "Pindah ke depan, aku bukan sopir!" Rayya berdecak dan selanjutnya melenggang malas ke kursi depan. Memasang sabuk pengamannya yang membuat kekesalannya memuncak saat sulit ditarik. "Jangan kasar, Ray! Pelan seperti ini lebih gampang!" Nathan membantunya dan Rayya hanya diam masih dengan kekesalannya. "Kamu masih nggak suka sama Stef, ya?" Rayya mengernyitkan dahinya. "Dia yang nggak suka sama aku, Nate!" "Oh ayolah, Ray! Aku kenal Stef. Dia nggak mungkin nggak suka tanpa alasan." "Dan dia punya alasan!" "Pardon?!" Rayya tak menanggapi Nathan. "Dia baik-baik aja kok sama kamu. Kalian belum saling kenal aja!" "Dan selalu dibela..." gumam Rayya. Dan itu masih jelas terdengar di telinga Nathan. "Apa dia tahu kita tinggal di apartemen dan unit yang sama?" "Belum. Secepatnya aku kasih tahu." "Nggak usah! Kita jalanin seperti jaman SMA aja!" "Hah? Maksudnya?" Apa itu sungguh pertanyaan? Rayya hanya bergeming. Tatapannya masih ke arah luar jendela. Dia menahan diri untuk memandang Nathan. "Kalau mau aku tetep nginep di unit, jangan pernah ajak Stephanie ke apartemen!" putus Rayya. Tanpa jawaban apapun dari Nathan, mobil mereka melaju sedang ke arah pulang. Ah pulang! Apa ini masih bisa dikatakan pulang? Mereka berjalan beriringan dalam diam. Bahkan saat masuk ke unit Rayya enggan mengatakan sepatah katapun. Nathan menggandengnya lembut saat mendapati Rayya selesai melepas sepatunya dan memakai slippers. Mengajaknya duduk disofa dan memberi isyarat Rayya untuk tidak beranjak dari tempat. Nathan kemudian mengambil dua kaleng soda dan menyerahkan satunya ke Rayya. Nathan masih menatapnya lekat sembari menyesap beberapa teguk soda. "Ray.. Aku sama Stef bakal sering ketemu urusan kerjaan. Dia bakal stay di Jakarta lebih lama dari biasanya, bahkan bisa hitungan bulan. Kalau berdasarkan ceritanya sih gitu. Jadi aku minta tolong sama kamu ya.." "Untuk?" Jawab Rayya singkat. "Mengakrabkan diri sama Stef. Aku tahu kamu lebih bisa untuk itu. Stef orangnya agak kaku tapi dia baik kok." "Nate! Dia nggak suka sama aku! Kamu liat sendiri tadi kan? Sapaanku hanya berbalas dehaman?" "Dia lagi capek, Ray.." "Aku juga! Lagian energi yang dikeluarkan untuk kata 'hai' itu seberapa sih? Nggak usah dipaksakan. Kami emang nggak bisa akur. Tepatnya Stephanie. Dan kami juga nggak perlu akur." "Kamu nggak kasihan aku?" "Kasihan untuk?" "Kamu tahu Stef, dia bakal minta tolong ini itu karena udah lama nggak tinggal di Jakarta, kita bakal jalan bareng lebih sering. Kalo kamu dan Stef nggak bisa akur gimana bisa asik jalannya?" "Kita? Kalian yang akan jalan bareng. Aku nggak akan ikut!" "Aku pengennya kamu ikut, Ray!" "Aku nggak mau. Ini aku omongin dari awal biar kamu nggak maksa-maksa!" "Pokoknya kamu ikut." "Nggak mau!" "Trus aku harus gimana?" "Ya jalan sama dia berdua.. Atau.." "Atau?" "A-atau.. Nggak usah jalan sekalian! Terserah kamu yang milih!" "Kok jadi aku berasa disuruh pilih kamu atau Stef sih, Ray?" Tanya Nathan lembut. Terlampau lembut sampai membuat kekesalan Rayya di ujung tanduk. "Emang itu inti dari omonganku! Ada aku, nggak akan ada Stephanie. Ada Stephanie, jangan berharap aku juga ada!" Nathan masih ternganga. Ini sisi Rayya yang baru. Dulu, Rayya akan selalu bilang 'Okay, aku ikutan.' 'Kamu temenin Stephanie aja nggak apa-apa' dengan nada yang manis. Rayya masih memencet tombol remote yang sebenarnya hanya pengalihan kekesalannya. "Okay. Tapi aku mungkin besok bakal nemenin dia untuk cari apartemen. Is it okay?" "Silakan. Aku mau ke workshop." Nathan mendesah. "Nggak pake nginep, ya? Kalau aku udah selesai nanti aku jemput." Rayya hanya diam dan melenggang masuk ke kamar. ****** Seperti yang sudah di rencanakan. Hari ini Rayya mengunjungi workshop setelah tiga hari absen. Kegiatannya hari ini adalah mengecek ulang stok yang datang dan memeriksa beberapa catatan keuangan. "Lea.. Persiapan buat KAL pekan depan gimana?" "Delapan puluh persen.. Tinggal registrasi ulang dan katering aja sih, Mbak." "Makan siang jadi pesen masakan timur tengah? Snack gimana?" "Jadi, Mbak. Untuk snack aku pesen coffee shop depan nggak apa-apa kan? Sekalian kopinya." Rayya mengangguk dan menceklis beberapa item yang tertera di tabnya. Persiapan KAL kali ini lumayan repot karena peserta yang tiga kali lipat lebih banyak. Dan karena ini dilakukan sebulan penuh dengan intensitas dua kali sepekan. Indahnya pekerjaan sesuai passion. Hari ini Rayya jelas-jelas melupakan kekesalannya. Menjelang malam mereka semua berkumpul di lantai tiga untuk sekedar ngobrol. Candaan para pria mendominasi percakapan. Sudah hampir tengah malam tapi Nathan tak kunjung datang. Rayya juga terlalu malas untuk bertanya. Rayya akhirnya meminta Bayu untuk mengantarnya menggunakan mobil operasional workshop. Karena jalanan lenggang tak butuh waktu lama untuk sampai ke tujuan. Rayya melangkahkan kakinya. Lelah. Seharian ini dia baru bisa bersantai tadi saat mengobrol. Bukan hanya Rayya. Tapi semua anggota yang ada diworkshop bekerja keras untuk opening KAL. Rayya menekan password unit dan membukanya. Bunyi pintu terdengar. "Ray.. Malem banget! Kok nggak telpon? Aku baru aja-" Rayya yang masih berdiri terpaku hanya memandang lekat Nathan. Meredam kekesalan, rasa jengkel, bahkan jengah. "s**t!!!" Nathan seketika panik menghampiri Rayya. Rayya yang sedang malas berurusan dengan Nathan berjalan ke kulkas demi sebotol air dingin yang mungkin bisa mendinginkan otaknya. "Maaf, Ray.. Aku lupa beneran. Tadi abis nyari apartemen aku langsung antar Stef belanja keperluan. Aku capek banget dan lupa kalau janji jemput kamu." Rayya hanya menatap Nathan pasrah yang berusaha keras menjelaskan. Pasti setelah ini keluar lagi kata-kata sok baiknya. "Iya, nggak apa-apa. Cuma besok kabari aja, Nate, kalau nggak bisa atau capek. Aku mau mandi terus tidur. Capek. Nite, Nate!" Rayya meninggalkan Nathan sendirian. Dia merebahkan badannya diatas kasur, memejamkan matanya. Sebenarnya ini apa? Akhirnya dia memutuskan untuk mengirim pesan kepada Nadine. -Rayya- Nadnad.. Gue harus gimana? Tak butuh waktu lama Nadine langsung menanggapi pesannya. -Nadine- Kita bahas besok Gue besok ke workshop pulang kantor Rayya mendesah pelan. Dia butuh tidur. Alarm ponsel berbunyi. Rayya langsung beranjak untuk mencuci muka dan gosok gigi kemudian bersiap untuk sarapan. Saat keluar dari kamar yang didapatinya adalah Nathan yang meringkuk di sofa masih dengan baju semalam. Rayya meninggalkannya dan langsung ke dapur. Dikeluarkan dua butir telur, s**u, keju, kentang, dan brokoli. Rayya akan menyiapkan scrambled egg, french fries dan kukusan brokoli untuk pagi ini. Sembari mengukus brokoli, Rayya menyiapkan dua shot espresso untuk dua gelas americano. Setelah dirasa siap untuk disantap. Rayya duduk dipinggir sofa dan membangunkan Nathan perlahan. Nathan yang masih terlihat lelah agak susah dibangunkan seperti biasa. Butuh beberapa saat dan kemudian Nathan terbangun. "Morning, sweety!" Sapa Nathan masih dengan suara parau khas bangun tidur. "Morning.. Cepetan cuci muka, abis itu makan!" Rayya tersenyum kemudian hendak beranjak ke pantri, tapi Nathan menahannya. Nathan masih menggenggam tangan Rayya erat. Rayya akhirnya kembali duduk di pinggir sofa. "Kenapa? Ayo, keburu dingin. Scrambled egg nggak apa-apa, kan?" "Maafin aku ya?" "Eh?" "Ya, Ray.. Maaf, aku nggak lagi-lagi deh lupa janji." Rayya masih diam. Kemudian tersenyum. "Makanya nggak usah janji. Udah ah ayo makan!" "Tapi dimaafin, kan?" "Hmm.." Setelah menyelesaikan sarapan mereka masih duduk berhadapan di meja makan. Menyesap ice americano masing-masing. Nathan sudah rapi pertanda dia akan langsung ke kantor setelah sarapan. Sedangkan Rayya masih dengan baju tidurnya. "Aku tahu kamu nanti pulang telat, tapi aku juga kayaknya nanti pulang telat. Cuma mau kasih tahu sih." Cetus Rayya. Nathan mengernyitkan dahinya. "Pulang, kan? Jangan nginep workshop lagi. Acara apa nanti sampai malam?" "Nadine mau ke workshop. Dia rencana mau sampai malam." "Emang Brian kemana?" Rayya hanya mengangkat bahunya. "Nate.. Ehem.. Ehm.. Aku butuh mobil." Nathan menghentikan sejenak aktivitas sarapannya. "Butuh? Untuk?" "Ya buat mobile aku, Nate. Nggak bisa terus-terusan mengandalkan kamu sama Bayu atau anak workshop yang lain, kan? Jadi aku minta waktu kamu kalau senggang temenin aku pilih-pilih." "Hhhhh.. Sabtu besok kalau kamu mau." "Yay.. Makasih, baby!" "Bilang apa barusan?" "Makasih?" "Bukan, yang lain.." "Yay?" "Ray!!!" "Hahahahaha.." ***** Lagi dan lagi. Rayya mendengus kesal mendengarkan penjelasan Nathan yang semakin berbelit-belit. Rencana untuk melihat-lihat beberapa mobil yang sudah mereka diskusikan beberapa hari kemarin terancam batal. Atau mungkin sebenarnya otomatis batal. Dari alasan Stephanie sakit karena adaptasi cuaca, Stephanie yang bergelung dengan selimut tanpa ada siapapun yang bisa menjaga dan merawatnya, sampai Nathan menawarkan hari lainnya sebagai gantinya. Terlalu kejam bagi Rayya jika dia meminta Nathan untuk memilih. Tapi kesal, marah, dan jengkelnya saat ini sama sekali tidak membantu. Rayya hanya mau Nathan menepati janjinya! Rayya hanya mau egois untuk saat ini! Rayya mau prioritas Nathan! Tapi sekali lagi Nathan hanya berucap maaf dan maaf. Rayya yang sudah malas mendengarkan kata-kata itu berkali-kali memutuskan untuk pergi. Dia harus segera pergi sebelum umpatan kata-kata kejam. Rayya meraih tasnya. Bergegas.  "Kemana, Ray?" Nathan menahannya. "Workshop." "Pulang, kan?" Nathan menatap penuh permohonan. Rayya hanya diam. "Ray.." suaranya terdengar sangat putus asa.  "Lihat nanti." Rayya segera meninggalkan apartemen dengan langkah terburu-buru. Dia ingin cepat-cepat menjauh. Mendinginkan kepalanya yang saat ini rasanya mau pecah. Melemaskan kepalan tangan. Gertakan gigi. Umpatan yang tercekal di kerongkongan. Serta air mata yang tertahan. Ingin rasanya Rayya mengeluarkan semua yang ada di pikirannya di depan Nathan. Tapi Rayya tahu dia terlalu lemah untuk itu.  Dia ingin Nathan.  Hanya Nathan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD