"Mbak.. Ada yang nyariin di bawah."
"Siapa, Boy?"
"Kayaknya yang kemarin nyariin sih.. Aidan gitu katanya."
Rayya membeku.
Mengalihkan tatapannya kepada jarum dan benang yang ada di tangannya. Menghela nafas panjang.
"Suruh tunggu di coffee shop depan ya, Boy.. Bilang aja sebentar lagi aku nyusul kesana."
Boy mengangguk kemudian langsung turun ke bawah.
Masa lalu tetap menjadi bagian hidup seseorang. Meski telah berlalu, entah membawa luka duka atau suka, itu tetap membekas dan terpatri di hati.
Menghadapi masa lalu bukan hal yang mudah. Perlu keberanian, kemantapan hati, dan kepastian.
Kepastian diri yang menganggap masa lalu hanyalah masa lalu, atau masa lalu yang sebenarnya masih ada.
Rayya memantapkan langkahnya, bersiap untuk menghadapi apa yang telah menjemputnya.
Masa lalunya.
Aidan Hugo Sasmita.
*****
"Hai, Ray.. Apa kabar?"
Sapaan yang telah lama Rayya lupakan. Dan kini di depannya suara itu menggema lagi.
"Baik, kamu sendiri gimana? Kapan balik dari Aussie?"
"Aku.. ya gini.. masih seperti dulu.. aku baru datang 1 bulan yang lalu."
"Oh.." Rayya menganggukkan kepalanya canggung.
"Bisnis lancar kayaknya, Ray? Impian kamu tercapai juga.."
"Yaa kecil-kecilan, Ai.."
Ekspresi Aidan membeku sesaat. Tapi terpancar pengharapan disana.
"Aiii.. Aku kangen dipanggil kayak gitu.."
Canggung
Hening
"Apa kegiatan kamu sekarang? Masih bolak-balik Aussie?" Rayya berusaha memecah keheningan.
"Iya bolak balik sih, tapi paling ya 1 bulan disana trus balik kesini 3 bulan.. Gitu seterusnya.. Workshop udah lama?"
"Sekitar 3 tahun, aku mulai pas pertengahan kuliah.."
"Abis kita putus?"
"Ah ya.. Tepat setelah kita putus.."
"Ini nomorku.. Aku harap setelah ini kita bisa tetep kontak ya, Ray.." Aidan menjeda sejenak kata-katanya, "Actually, I missed you.. Tapi sepertinya tatapan Nathan di seberang belum mengijinkanku."
Rayya melihat ke arah jendela kafe, Nathan berdiri di samping mobilnya dengan tatapan tak terbaca.
"Ahhh.." Rayya terkekeh melihat semua itu.
"Masih posesif ternyata sahabat kamu itu.."
"Ya, i'm lucky to have him.. kalo ga ada Nathan aku bisa apa.." Rayya menatap jauh ke arah Nathan.
Aidan masih memandang Rayya dengan tatapan sendu, seolah menyesali apa yang terjadi.
Setelah bertukar kontak dan mengucap salam, Rayya kembali ke workshop.
Nathan yang menunggu di lantai satu bersama yang lain hanya menatap Rayya penuh tanda tanya.
"Ngapain dia balik kesini lagi?"
"Say hello aja, Nate.. We're friend!"
"Ga ada namanya mantan jadi temen! Jangan sampe terlibat lagi, Ray.."
"Apaan sih ah.. Abis ini kita pulang, aku ambil barang-barang dulu ke atas."
Sepeninggal Rayya, Nathan hanya mengumpat kesal dan segera menunggu di mobil.
"Wahhh, mantan Boy ternyata.."
"Mas Nathan kayaknya udah emosi tingkat tinggi."
"Saingannya berat juga.. Kok gantengnya pada ga nular ke kita ya?!"
"Gosip apa lagi kalian?!"
"Ehhh, Mbak Rayya.. Pulang mbak?"
"Hmmm.. Awas gosip-gosip lagi! Yang cewek aja pada anteng, yang cowok tukang gosip!"
Rayya melenggang keluar menuju ke dalam mobil. Perjalanan kali ini sunyi. Nathan bahkan tak bergeming sedikitpun.
Rayya cukup paham ketidaksukaan Nathan akan Aidan.
Rayya juga cukup paham tentang keposesifan sahabatnya ini.
Nathan hanya ingin Rayya bahagia.
Nathan hanya ingin Rayya bangkit.
Nathan hanya ingin Rayya tetap kuat.
Meski Aidan sudah kembali membawa rindunya.
*****
Sudah terhitung hari ketiga saat terakhir Rayya bertemu Aidan. Dan di tiga hari itupun Nathan selalu pulang larut dan pergi sebelum Rayya bangun. Hanya itu saja yang berbeda. Ah ya, mungkin bertukar pesan juga absen. Tapi sarapan untuk Rayya tetap tersaji.
Rayya mulai jengah dengan kondisi ini. Tiga hari sarapan sendiri. Tanpa sapaan, tanpa omelan. Rayya rasa dia tidak bisa terus diam. Sarapan hari ini meski sesuai dengan moodnya tak bisa menutupi rasa kesal Rayya.
.
_Me_
Sepiii
Mau berapa hari ninggalin aku sarapan?
.
Pesan yang dikirimkan kepada Nathan belum terbaca. Rayya berusaha menikmati waffle dan segelas americano sambil menunggu balasan. Sudah tiga puluh menit lamanya balasan tak kunjung datang.
.
_Me_
Nate..
Aku bakalan tidur seharian biar malemnya bisa melek
Awas aja ga pulang!!!
.
Rayya membanting ponselnya ke sofa. Beberapa detik kemudian dia memungutnya kembali. Mencoba menelpon workshop untuk mengabarkan absennya hari ini. Rayya sangat bersyukur dengan tujuh pegawainya. Mereka selama ini sangat membantunya di setiap kesulitan. Selalu tanggap. Bahkan terkadang bisa jadi tempat curhat. Inggit yang ceria, Lea dan Hani yang kalem, Citra yang cerewet tapi dewasa. Jangan lupa dengan para pria pengagum Rayya. Boy yang iseng, jahil. Toni yang kocak. Dan ada Bayu yang paling penurut, kalem, ga neko-neko. Ah sebenarnya Rayya lebih suka menyebut mereka sebagai keluarga sebagaimana Ayahnya, Nathan dan keluarganya.
Ting.
Ponsel Rayya berbunyi
Segera Rayya mengeceknya. Dia hanya ingin balasan Nathan saat ini.
.
_Nate_
Aku pulang
Ga usah nunggu
.
Kesal!
Rayya segera menelponnya. Tapi sudah berapa deringan tidak juga diangkat.
.
_Me_
Terserah
.
Pesan terakhir Rayya hanya dibaca oleh Nathan. Pikiran Rayya berbalik ke kejadian kemarin dimana Aidan hadir.
Apa mereka sudah benar baik-baik saja?
Apa sudah benar terselesaikan yang terjadi diantara mereka?
Apa sekarang saatnya menyelesaikan semua?
*****
Bunyi pintu apartemen tertutup, Rayya yang belum tidur dengan sengaja saat itu meletakkan bukunya ke kasur dan menoleh ke arah jam di nakas.
'Jam satu, dan baru pulang' batinnya.
Langkah pastinya menuju pantry tak terhalang keraguan sedikitpun. Nathan menghindar karena pekerjaan atau karena Aidan. Rayya tahu pasti, Nathan sangat tidak suka dengan munculnya Aidan. Nathan masih ingat sakit hati yang dirasakan Rayya dulu. Mungkin masih membekas di dirinya. Walaupun sudah terkikis di hati Rayya.
Nathan terkejut mendapati Rayya yang sudah duduk dipinggir pantry.
"Tiap hari pulang jam segini?"
"Hmm" Nathan hanya mengangguk.
"Load kerjaan?"
"Hmm"
"Sampai kapan?"
Nathan hanya memandang Rayya sejenak. Kemudian berusaha menjelaskan.
"Sampai aku bosan, kalau bisa sampai berminggu-minggu ga pulang."
"Oke, kalo gitu aku nginep workshop sampai kamu selesai."
"Biar gampang janjian sama Aidan?"
"Nate.. Kamu tahu bukan itu alasannya!"
Nathan hanya mengangguk lagi.
"Terserah. Senyamannya kamu."
"Nate.."
"Aku ga suka kamu deket-deket lagi sama Aidan! Udah cukup sekali kamu nangisin dia! Ga ada lagi dua kali!"
"Aku mau coba denger penjelasannya."
"Dan bikin kamu sakit lagi?"
"..."
"Whatever! Aku capek, mau tidur!"
*****
Pemandangan dari kaca workshop lantai tiga menggelap. Setelah perdebatan kecil dengan Nathan, Rayya langsung menuju workshop untuk mencoba beberapa hari menginap disana.
Terlihat Bayu dan Toni sedang mengobrol di gazebo depan workshop sembari menikmati kopi dan cemilan. Rayya berterimakasih karena semua pria di sekelilingnya tidak ada yang perokok.
Meski terlihat kaget, mereka tetap menyapa Rayya dengan sopan. Saat tahu bahwa Rayya akan menginap disini, mereka secara langsung paham bahwa bosnya butuh waktu sendiri. Mereka hanya menyapa Rayya seperlunya, menawari minuman, dan lain-lain. Walaupun saat itu sudah menunjukkan pukul satu lebih empat puluh lima menit.
Drrrrrtttt.. Drrrrrtttt..
"Ya, Mas.."
"Rayya disana, Bay?"
"Iya, Mas.. Baru aja sampai.. Kenapa, Mas?"
"Ah gapapa, titip Rayya ya disana. Paling ga sampai gue jemput."
"Emang Mas Nathan kapan jemput?"
"Belum tahu, Bay.. Gue usahain secepatnya.. Ya udah gue tutup ya, Bay.."
"Eh, Mas.. Mas Nat.. Yah udah di tutup."
"Mas Nathan, Bay?" Tanya Toni penasaran diiringi dengan anggukan Bayu.
"Berantem deh kayaknya, Bay.. Mbak Rayya ga pernah gini."
"Mungkin, Ton.. Tapi kayaknya rada serius.. Soalnya kalo Mbak Rayya doank yang ngambek paling brapa menit setelahnya Mas Nathan udah muncul buat ngebujukin pulang."
Mereka berdua melayangkan pikirannya ke segala kemungkinan yang terjadi. Sampai jatuh pada satu kesimpulan.
"Aidan!"
******