Good Bye, Hurt!

952 Words
"Kamu ga gerah? Diluar 30⁰ loh, Nate!" "Gapapa nungguin musim ujan kelamaan. Aku keburu pengen pamer sweater baru." "Lagian mereka juga udah tahu kali, Nate.. Kan aku bikin juga bareng mereka." "Bodo! Yuk pulang!" Nathan menyeret Rayya untuk turun. Dia ingin segera sampai apartemen untuk menikmati makan malam dan Qtime bersama Rayya. "Cieee.. Happy belated birthday, Mas! Maaf ya kita baru beli kue sekarang, kemarin ga kondusif." Nathan dan Rayya terkejut melihat Boy sudah berdiri di depannya memegang satu tart beserta lilin menunjukkan angka 24. Sedangkan yang lain berdiri di belakangnya. "Mas Nathan, kita ga pake kado-kadoan ya.. Mas Nathan udah punya semua. Duit ada, kerjaan ada, pacar doank belom ada?" Seru Inggit tak kalah dari Boy. Nathan yang semula terkejut menjadi jengkel. "Sebelum pulang tiup dulu lilinnya, Mas.. Nanti kuenya kita aja yang makan." "Ck ck ck.. Niatnya ga maksimal emang kalian! Oke aku tiup!" "Eh make a wish duluk!" Lea menginterupsi. "Hm. Udah. Gue tiup ya! Fuhhhh." "Yay!!!!" Semua berseru dan bertepuk tangan. Ada canda dan tawa disana. Meski terlambat, perayaan ulang tahun kali ini lebih ramai. Biasanya Rayya dan Nathan hanya merayakannya berdua atau bersama keluarga. Sesampainya mereka di apartemen, Rayya langsung merebahkan badannya ke sofa. Nathan yang juga lelah mau tak mau ikut merebahkan kepalanya. Di pangkuan Rayya. Sejenak dalam keheningan, pesan w******p berbunyi. Ponsel milik Rayya. . _Aidan Hugo_ Ray.. Ganggu ga? Kita bisa ketemu? . Rayya yang membacanya langsung terkesiap berdiri. Nathan yang tak siap merasakan kepalanya terbentur sofa. Tidak sakit tapi kaget. "Ray.. Apa-apaan sih? Kaget tau!" Nathan mencoba duduk sembari mengelus-elus belakang kepalanya. "Uhm.. Ada whatsapp." "Iya, harus banget berdirinya ngagetin?!" "Dari Aidan." Nathan yang sebelumnya meringis mengelus dadanya karena kaget mendadak diam dan beranjak ke pantry. "Nate.. Gimana donk ini balesnya?" "Terserah kamu lah, kan aku udah kasih ijin. Silakan ditemui." "Tapi aku takut." "Takut apa? Takut kalo nyakitin? Bukannya tiga tahun lalu udah bikin kamu kebal? Ato selama ini emang masih ngarep?" "Nathan!" "Ya udasih temuin. Dengerin!" Nathan menjeda sejenak sebelum kalimat yang mungkin menyakiti dirinya sendiri terucap. "Kalo masih cinta ya balikan!" Rayya, saat ini, bahkan tidak mengerti. Kata-kata Nathan barusan menghibur sekaligus menghujam hatinya. Bagaimana bisa dia mengucapkan itu dengan santai, dengan ekspresi yang seperti ini. Tenang. "Balikan?" Rayya mendengus kemudian tertawa miris. "Gampang banget kamu ngomongnya." "Ya semudah itu emang kalo udah cinta." Nathan menunduk. "Tau apa kamu? Bahkan kayaknya perasaan aku aja kamu ga ngerti, Nate.. Aku tidur duluan.. Sleep tight!" Rayya masih sempat menghampiri Nathan hanya untuk memberinya pelukan selamat tidur. Nathan yang masih mematung hanya bisa diam. Tak membalas pelukan itu sama sekali. Hanya berpikir. Bisa-bisanya dia menyuruh hal terbodoh itu kepada Rayya. Sesampainya di dalam kamar, Rayya mencoba menenangkan diri. 'Berhenti berharap' itu yang ada dibenaknya saat ini. Sejurus kemudian dia mengirim balasan. . _Rayya_ Hai.. Ga ganggu kok Mau ketemu? Di coffee shop depan workshop aja gapapa? Aku ga bisa ninggalin workshop lama-lama karena akhir-akhir ini rame gitu.. Besok aku bisa.. Good night, Aidan . Rayya segera meletakkan ponselnya di nakas kemudian memejamkan mata. Yang dia tahu, dia hanya ingin tidur saat ini. ***** "Hai, Ray." Aidan tersenyum menyapa Rayya yang baru saja datang. "Hai. Udah lama? Maaf ya tadi Nathan bangun telat jadi agak terlambat sampai workshop." "It's okay. Kalian masih tinggal bareng?" Rayya tersenyum mengangguk."Pesen apa? Biar aku pesenin." "Ice americano aja. Aku udah sarapan tadi." Segelas ice americano sudah tersajikan di depan Rayya. "Thanks, Ai.." Aidan menyunggingkan senyumnya. "Kemarin aku ke kantor Nathan." "Hmm. Nathan udah cerita." "Ray.. Aku mau jelasin kenapa aku pergi tanpa pamit." "Ehem.. Uhm.. Listen! Sebenarnya aku udah maafin kamu apapun itu alasannya. Aku sadar kalau aku ga bisa benci kamu. Tapi kalau kamu mau jelasin, aku pasti mau dengerin." Ucap Rayya mantap. "I know.. Walaupun aku tahu, aku pasti di maafkan. Tapi rasanya aku tetap harus jelasin ke kamu. Kamu pasti tau banget aku sayang mama lebih dari apapun, meski aku tau mama juga ga pernah adil sama kamu. Saat itu aku cuma pengen nenangin mama dulu, Ray.. Mama dengan segala pendapatnya tentang kamu, mama minta aku ga hubungi kamu, mama mau aku fokus sama kuliahku.. Maaf kalau aku ga ngabarin kamu, meski hanya meminta kamu menunggu lebih lama. Tapi aku juga tau mama orang yang juga sayang sama anaknya. Saat itu aku yakin mama bakal dukung aku. Jadi aku ambil keputusan ini. Maaf kalau aku egois. Tapi seperti yang aku yakini sekarang mama udah baik-baik aja. Bahkan terkadang mama nanyain kamu." Rayya termenung sejenak mendengar penjelasan Aidan. Entah kenapa da kelegaan disana. Tidak ada amarah, benci, atau sakit hati yang Rayya rasakan dulu. "Thanks, udah jelasin semuanya. Aku benar-benar lega. Keputusanku buat ga benci kamu juga tepat." "Jadi kita baikan?" Aidan menjentikkan kelingkingnya ke arah Rayya "With pleasure." Rayya menyambutnya tersenyum lega. ***** Rayya tengah berbaring di kamar saat pintu apartemen terbuka. Hari ini Nathan tidak menjemputnya karena harus meeting dengan beberapa klien. Kelegaan hari ini membuat hati Rayya lebih ringan. "Nate.." "Kamu belum tidur?" Rayya menggeleng kemudian beranjak ke pantry untuk menyiapkan segelas teh hangat untuk Nathan. Nathan hanya menatapnya heran. "Ada apa ini?" "Apa?" Nathan sepertinya mengerti apa di balik keceriaan hari ini. "Sepertinya hari ini semestaku berseri?" "Oh ya?" "Ray.." "Haha.. Iya Nate.. Akhirnya udah ga ada benci, khawatir, marah.. Udah plong pokoknya." Nathan hanya menatap Rayya dalam. Nathan yakin itu semua berhubungan dengan Aidan. Ah! Mungkin memang saatnya dan mungkin bukan Nathan orangnya. "Baguslah. Trus sekarang mau keep in touch?" Tanya Nathan hati-hati. Dia tidak mau membuat Rayya berpikir aneh-aneh. "Iya, kita temenan sekarang." Hening. "Nate.." "Hm?" Nathan masih terpaku ditempatnya. Masih menunggu Rayya bicara. "Pengen peluk.." "Eh?" Belum sempat Nathan menjawab, Rayya sudah berlari dan memeluknya erat. Nathan masih diam terpaku. Bingung dengan semua perlakuan Rayya. "Thanks.. Karena selalu ada."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD