*** Ilia kembali ke kamar hotelnya setelah pukul Delapan malam. Kamarnya dan Arsen tentu saja berbeda. Ilia mana sudi memesan Satu kamar saja untuk mereka berdua. Bisa-bisa Arsen keterusan menganggapnya istri. Membayangkannya saja membuat Ilia bergidik ngeri. Ilia terduduk di atas tempat tidur yang disediakan hotel. Ia termenung sejenak sebelum memutuskan untuk membersihkan diri ke kamar mandi. Embusan napas berat terdengar kala perempuan itu menatap dirinya di depan cermin kamar mandi. Sejak awal dia tahu bebas dari Arsen tidak semudah itu. Arsen keras kepala meski permintaannya kerap kali dituruti. “Sial! Masih ada Dua hari lagi sebelum pulang ke Jakarta,” geramnya. Bekerja di luar Kota kini menjadi momok menakutkan bagi Ilia. Tidak seperti dulu. Ia senang bila Arsen membawanya b

