Tepuk tangan menggema di kantor Dhanu Kaelan. Pria itu tak memperhatikan Bastian. Dia masih fokus pada televisi, meski Damian sudah tak terlihat lagi. Kali ini, putra bungsunya kembali menorehkan prestasi. Dia bangga dalam hati, tapi gengsi untuk mengakui. Bastian mendekat, lalu berdiri di depan meja sang ayah. “Ayah bisa lihat sendiri, ‘kan? Masih mau menggantikan adikku?” Dhanu Kaelan tak menanggapi putranya. Ekspresinya menegaskan terserah kau mau bilang apa, aku tak peduli. Ya, keputusan Dhanu Kaelan sudah bulat. Bastian tidak bisa mengubahnya hanya dengan pendapatnya saja. Pria itu menghela napasnya. Tampaknya tahu kalau ayahnya tak akan mengatakan apa pun. “Ayah, aku akan kembali ke kantor. Masih ada sesuatu yang harus aku urus,” ujar Bastian. Bastian melangkah keluar, tidak ada

