9

1513 Words
Di luar hujan deras disertai gemuruh. Bayangan kilat menyambar tampak jelas dari balik tirai, sementara suara angin dan derasnya hujan terdengar agak teredam. Tapi bukan itu yang membuat Zavier kesulitan untuk tidur malam ini. Sulitnya ia untuk memejamkan mata disebabkan oleh perasaan asing yang terus memberontak sejak tadi dari dalam dirinya. Ia ingin tidur di kamar Zia. Di sebelah gadis itu. Sambil memeluknya. Zavier benar-benar sangat menyesali kebodohan yang telah ia buat kemarin. Keputusannya mendatangi kamar Zia saat itu jelas salah. Dan pilihan untuk tidur di sana ternyata jauh lebih buruk. Lihat akibatnya sekarang. Ia tidak bisa memejamkan mata karena merasa kesepian. Juga merana. Ditambah pula dengan apa yang terjadi dalam perjalanan pulang tadi. Saat Zia tanpa sungkan memujinya dengan jujur. Menyebutnya tampan tanpa keraguan bisa disebut pujian yang tulus, bukan? Atau entah apa pun itu, yang pasti hal tersebut telah sukses membuat Zavier selalu merasa ingin terus berada di dekat Zia. Memandang wajah belia gadis itu. Dan menciumnya. Dasar otak kotor! Ponsel Zavier tiba-tiba berbunyi saat ia tengah memaki dirinya sendiri. Cahaya dari layar tampak jelas dalam suasana kamar yang gelap. Zavier mengulurkan tangan dan segera meraih benda yang berpendar itu. Di layar, tertera nama Zia sebagai penelepon. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Zavier seketika bangkit dari posisi tidurnya. Zia meneleponnya malam-malam begini? Ada apa? Apa gadis itu juga merasakan hal yang sama dengan yang Zavier rasakan saat ini? "Halo, Zi?" sapa Zavier langsung. "Z-zavi," sambut Zia dari seberang sana. "Maaf mengganggu." "Tidak apa-apa," jawab Zavier. Namun Zia tak juga kunjung bersuara. "Ada apa, Zi?" Terdengar tarikan napas panjang. "Mmm... Zavi, kamu... kamu bisa tidur di kamarku malam ini?" Zavier tidak memercayai apa yang baru saja didengarnya. "A-apa? Mmm... bisa kamu ulangi?" "Apa k-kamu... bisa tidur di kamarku malam ini? Seperti kemarin. Malam ini saja," ulang Zia buru-buru. Zavier terlalu shock untuk menjawab. Ia hanya bisa terdiam dengan ponsel yang terus menempel di telinganya. "A-aku takut, Zavi. Bayangan film horror yang kita tonton tadi terus membayangiku. Aku merasa ada yang diam-diam mengawasiku di sini." Zia kembali bicara karena Zavier belum juga memberi respons. "Zavi? Zavi kamu belum tidur, kan?" "Ya. Ya, aku masih di sini," jawab Zavier cepat. "Kamu... mau, kan, tidur di sini?" Tanpa berpikir dua kali, Zavier segera turun dari tempat tidur. "Oke. Tunggu, aku kesana sekarang." "Teleponnya jangan dimatikan ya." Kalimat itu menghentikan Zavier yang hendak menekan tombol untuk mengakhiri percakapan mereka. "Ya," jawabnya, membiarkan sambungan telepon mereka tetap berlanjut, lalu segera melangkah menuju pintu. "Aku sudah keluar dari kamar sekarang." "Oke," sahut Zia. Zavier segera menutup pintu kamarnya, kemudian melangkah cepat ke arah kamar Zia. "Sekarang aku sudah di depan kamar kamu. Tapi pintunya terkunci," ucap Zavier setelah melepaskan tangan dari handle yang tadi ia coba buka dan menatap pintu di hadapannya. Jarak kamar mereka cukup dekat hingga tak butuh waktu lama bagi Zavier untuk tiba di sana. "Sebentar, aku buka pintunya. Tapi tolong terus bicara," pinta Zia. Suara gadis itu jelas sekali menggambarkan ketakutannya. "Tok... Tok... Tok... Buka pintunya," ucap Zavier dengan nada dilambat-lambatkan. "Zavi, jangan membuatku takut!" pekik Zia di telepon. Zavier tersenyum mendengar nada panik gadis itu. Tak disangka ternyata Zia sepenakut ini. "Maaf, aku bingung harus terus bicara seperti apa." Pintu di hadapan Zavier seketika membuka. Ada Zia di sana, dengan sebelah tangan menempelkan ponsel ke telinga, sementara matanya menatap Zavier penuh kelegaan. "Silakan masuk," ucap gadis itu seraya menurunkan ponselnya, lalu segera berbalik dengan cepat. "Zavi, tolong tutup lagi pintunya." Zavier melakukan apa yang dikatakan Zia, lalu mengekor gadis itu ke tempat tidur. "Kalau kamu setakut ini, kenapa tadi memilih film horror untuk ditonton?" Zia yang sudah berada di atas tempat tidur, langsung masuk ke dalam selimut dan berbaring menghadap Zavier yang kini duduk di tepi kasur. "Kan, tadi siang aku sudah bilang." Zavier kembali teringat dengan jawaban Zia tadi. "Lain kali kalau kita nonton, jangan pilih film horror lagi. Jangan karena ingin menyesuaikannya denganku, kamu lupa pada diri sendiri." Zia menggigit bibirnya seperti seorang anak kecil yang habis dimarahi. "Iya, lain kali aku akan bertanya lebih dulu," jawabnya. Zavier tersenyum tipis dan mengangguk. "Sekarang tidurlah. Aku redupkan lampunya, ya." "Eee... tunggu," cegah Zia dengan menarik ujung kaus Zavier. "Kamu... tidur di sini, kan? Bukan cuma nungguin aku sampai tidur?" Zavier menahan geli melihat tingkah istrinya ini. Benar-benar penakut. Lihat saja kamarnya, di jam seperti ini masih saja terang benderang, berkebalikan dengan kamar Zavier yang sudah gelap gulita. "Tenang saja, aku tidur di sini. Tapi aku tidak bisa tidur kalau lampunya seterang ini." Zia kemudian melepaskan pakaian Zavier dan membiarkan suaminya melangkah menuju dimmer. "Begini tidak masalah, kan?" tanya Zavier setelah meredupkan lampu. "Ya," jawab Zia. Zavier pun mendekat dan naik ke atas kasur. Ia pun merebahkan kepala ke atas bantal yang sudah disediakan Zia, lalu ikut masuk ke dalam selimut dan berbaring menyamping menghadap gadis itu. "Zavi..." "Hmm?" "Aku, boleh tidur menghadap ke arah kamu, kan? Tirai putih di sana agak menyeramkan di saat hujan deras seperti ini," ucap Zia menunjuk tirai di belakangnya. Gadis itu tampak sedikit malu dengan ucapannya barusan. Zavier mengulurkan tangan dan mengusap puncak kepala Zia. "Tidak apa-apa. Tidurlah." Zia mengangguk, lalu tangannya meraih sedikit bagian lengan kaus yang dikenakan Zavier untuk digenggam. Membuat Zavier akhirnya terkekeh. "Kamu benar-benar penakut ya." Zia tersenyum malu. "Dulu saat takut seperti ini, terkadang aku akan tidur bersama Mami dan Papi. Tapi setelah semakin besar, Mami tidak mengizinkannya lagi. Jadi kalau aku bilang takut, Mami yang akan menemaniku di kamar. Tapi setelah aku tidur, diam-diam Mami akan meninggalkan aku dan kembali ke kamarnya sendiri. Aku merasa ditipu," jelasnya sedikit cemberut. Zavier tersenyum kecil. Berusaha menahan tawa. Istrinya ini selain manja ternyata adalah penakut kelas berat. Mungkin suatu waktu jika ingin iseng, Zavier bisa dengan mudah menakutinya. "Aku tidak akan menipumu. Jadi tidurlah," ujarnya lalu megulurkan tangan ke arah Zia. "Ini, genggam tanganku saja, seperti saat kita nonton tadi. Kalau lengan bajuku yang kamu pegang, aku agak kesulitan bergerak." "Eh, maaf," Zia langsung menarik tangannya cepat. Tapi Zavier kembali menarik tangan Zia dan menggenggamnya. "Tidak apa-apa. Nah, ini sebagai jaminan kalau aku tidak akan kabur." Zia menatap tangannya yang berada dalam genggaman Zavier dengan sedikit terkejut. Namun, ia pun akhirnya mengangguk dan membalas genggaman tangan Zavier. "Pejamkan matamu." Zavier menepuk punggung tangan Zia yang menggenggam sebelah tangannya dengan tangannya yang bebas. Zia pun menurut dan langsung memejamkan mata. "Selamat malam, Zavi. Terimakasih sudah bersedia menemaniku di sini," ujarnya dengan suara pelan. "Sama-sama." Memang sudah seharusnya seperti ini. Sambung Zavier dalam hati. Seharusnya suami istri memang tidur seranjang seperti ini. Bukan menempati kamar yang terpisah seperti yang mereka lakukan. Zia tersenyum dengan mata yang tetap terpejam, dan tidak mengucapkan apa-apa lagi. Percakapan mereka telah selesai. Sementara itu, Zavier sendiri masih memandangi Zia sambil berusaha menekan perasaan. Malam ini, meskipun mata Zia sudah terpejam, tapi gadis itu jelas belum tidur. Masih dalam fase mencoba untuk terlelap. Jadi, sesuatu yang kemarin malam sudah dilakukannya bak pencuri, tentu tidak bisa dilakukan lagi saat ini. Tidak ada pelukan. Tidak ada ciuman. Yah, baguslah. Apa lagi dengan sebelah tangannya yang digenggam Zia seperti saat ini, Zavier memang harus menahan diri. Jika ia masih nekat melakukannya, besok malam, saat harus kembali ke kamarnya sendiri, ia harus siap untuk lebih merana lagi. *** Wajah tidur Zavier yang menghadapnya kali ini tidak lagi membuat Zia terkejut seperti sebelumnya. Kali ini ia terbangun dengan senyum yang merekah indah di bibir. Suaminya ini perlahan sudah mulai menampakkan sisi manisnya. Zia sangat menyukai hal itu. Lihat saja semalam. Mereka tidur sambil berpegangan tangan. Manis sekali, kan? Zia mendadak tersipu mengingatnya. Ia menatap wajah Zavier selama beberapa saat, lalu memberanikan diri mendekat untuk menempelkan kepalanya ke d**a pria itu. Hangat. Zia suka di sini. Lalu, tiba-tiba saja lengan Zavier langsung melingkar di tubuh Zia. Menarik gadis itu untuk semakin merapat. Terkejut, Zia langsung menengadah untuk menatap Zavier. Namun mata pria itu masih terpejam. Tampaknya Zavier melakukan hal ini tanpa sadar. Biarlah. Zia juga sama sekali tak keberatan. Jadi ia masih boleh menempel di d**a Zavier beberapa saat lagi, kan? Zia pun kembali menempelkan kepalanya ke d**a Zavier. "Zi..." Mendengar suara memanggilnya, Zia sontak terserang panik dan langsung berusaha menjauhkan diri. Malu karena ternyata dugaannya tadi terbukti salah. Zavier sudah bangun. "Ya?" sahut Zia dengan tak nyaman. Tangan Zavier masih enggan melepaskannya. Ia masih terperangkap di posisi tadi. "Kamu tidak punya jadwal di kampus, kan, Rabu besok?" tanya Zavier dengan suara khas bangun tidur. "Tidak. Kenapa?" tanya Zia dengan d**a berdebar. Tubuh mereka masih menempel. Dan mereka berdua dalam keadaan sadar. "Paginya kamu mau ikut aku ke suatu tempat?" "Kemana?" tanya Zia penasaran. Apa Zavier berniat mengajaknya jalan-jalan lagi. Apa itu kencan kedua mereka setelah yang kemarin? Debaran di d**a Zia terasa semakin kuat. Pelukan ini. Kencan.... "Menemui orangtuaku." Mendengar jawaban Zavier, bayangan akan kesenangan yang tadi sempat Zia bayangkan seketika langsung lenyap. *** Bersambung.... Teman2 pembaca, tinggalin komen dan tap love ya. Dari kemarin saya bingung cerita ini ada yg baca apa nggak. Soalnya gk ada jejak komentarnya :D
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD