Bab 7: Detak Jantung di Balik Marmer

1366 Words
Pukul 02:15 dini hari. Museum Kesenian Ananta kini bukan lagi sebuah bangunan, melainkan sebuah labirin bayangan yang menyimpan napas para penghuninya yang telah lama tiada. Di Sayap Timur, udara terasa lebih dingin, seolah-olah dinding-dinding itu sendiri sedang menahan napas, menunggu rahasia mereka dikupas. ​Aluna dan Ravian berdiri di depan dinding Galeri Barok yang megah. Cahaya senter mereka menyapu permukaan dinding yang dihiasi dengan ukiran stucco rumit—ornamen malaikat kecil, sulur-sulur tanaman, dan relief dewa-dewi mitologi yang tampak hidup di bawah cahaya yang bergerak. ​"Tiga titik," bisik Aluna, suaranya menggema pelan di aula yang sunyi. Ia memegang sketsa jurnal kakek buyut Ravian di satu tangan dan senter di tangan lainnya. "Jurnal itu menyebutkan 'Baja, Kuningan, dan Darah'. Jika kita melihat relief ini, ada tiga elemen yang menonjol." ​Ravian mendekat, langkahnya tidak bersuara di atas lantai marmer. Ia berdiri di belakang Aluna, begitu dekat sehingga Aluna bisa merasakan radiasi panas dari tubuhnya yang kontras dengan udara malam yang menggigit. Ravian mengulurkan tangannya melewati bahu Aluna, menunjuk ke sebuah ukiran perisai kecil yang dipegang oleh salah satu malaikat. ​"Perisai itu terbuat dari baja asli yang ditanam di dalam plester," kata Ravian. Suaranya rendah dan serak, menciptakan getaran yang merambat hingga ke tulang belakang Aluna. "Itu titik pertama." ​Aluna menelan ludah, berusaha keras untuk tetap fokus pada struktur dinding, bukan pada aroma maskulin yang kini mengepung indranya. "Dan di sana," Aluna mengarahkan senternya ke bagian atas relief, ke arah mahkota dewi yang bersinar kekuningan. "Itu kuningan. Titik kedua." ​"Lalu di mana 'Darah'?" tanya Ravian. Ia berputar, menatap Aluna dengan intensitas yang melampaui rasa ingin tahu profesional. ​Aluna mencari di sepanjang relief, hingga matanya terpaku pada sebuah detail kecil di sudut bawah: ukiran jantung yang tertusuk belati. Di tengah jantung itu, ada sebuah batu merah kecil yang tampak kusam. "Batu delima itu. Itu simbolnya." ​Mereka saling pandang. Ada kesadaran yang tajam bahwa jika mereka melakukan ini, tidak ada jalan kembali. Ardiansyah akan datang dalam beberapa jam, dan apa yang mereka temukan di balik dinding ini bisa menjadi senjata atau malah menjadi kehancuran bagi mereka berdua. ​"Kita harus menekannya secara bersamaan," ujar Ravian. "Titik-titik ini dirancang untuk tidak bisa dibuka oleh satu orang. Kakek buyutku adalah orang yang sangat curiga; dia percaya pada dualitas." ​Aluna mengangguk. "Saya akan mengambil bagian kuningan di atas. Anda ambil perisai baja dan jantung merah itu." ​Masalahnya, titik kuningan itu terletak cukup tinggi. Aluna mencoba berjinjit, tetapi jari-jarinya hanya mampu menyentuh pinggiran ukiran. Sebelum ia sempat mencari tangga atau penyangga, ia merasakan tangan Ravian yang kuat melingkar di pinggangnya. ​"Ravian..." Aluna tersentak, napasnya memburu. ​"Jangan bergerak," perintah Ravian pelan. Dengan satu gerakan yang efisien dan penuh tenaga, ia mengangkat tubuh Aluna, memposisikannya di atas lengannya yang kokoh seolah-olah Aluna tidak memiliki berat sama sekali. ​Punggung Aluna bersandar pada d**a bidang Ravian. Ia bisa merasakan otot-otot lengan Ravian yang mengeras saat menyangganya. Kedekatan ini jauh lebih intim daripada ciuman mereka di lantai atas; ini adalah ketergantungan fisik yang mentah. Aluna merasakan jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya seirama dengan detak jantung Ravian yang ia rasakan di punggungnya. ​"Tekan sekarang, Aluna," bisik Ravian tepat di lehernya. Hembusan napas itu membuat bulu kuduk Aluna meremang. ​Aluna menjangkau ke atas, jarinya menekan mahkota kuningan itu. Di saat yang sama, Ravian menekan perisai baja dengan tangan kirinya dan menggunakan lututnya untuk menekan batu delima di bawah. ​Klik. Grrrr... ​Suara mekanisme gigi kuno yang berputar di balik dinding terdengar berat dan parau. Aluna merasakan getaran merambat melalui tembok hingga ke ujung jarinya. Perlahan, sebuah panel tersembunyi yang lebarnya sekitar satu meter mulai bergeser masuk dan menyamping, memperlihatkan sebuah lubang gelap yang sempit. ​Ravian menurunkan Aluna dengan perlahan, membiarkan tubuh Aluna meluncur turun di sepanjang tubuhnya hingga kaki Aluna menyentuh lantai kembali. Ia tidak segera melepaskan tangannya dari pinggang Aluna. Untuk beberapa detik yang terasa abadi, mereka berdiri di sana, terengah-engah dalam kegelapan, hanya dipisahkan oleh tipisnya kain pakaian mereka. ​Mata Ravian menggelap, penuh dengan gairah yang tertahan dan adrenalin dari penemuan ini. Aluna menatapnya, bibirnya sedikit terbuka, tidak mampu atau mungkin tidak mau memutuskan kontak mata itu. ​"Kita berhasil," bisik Aluna, suaranya hampir hilang. ​"Kita baru saja memulainya," balas Ravian. Ia melepaskan Aluna dengan enggan, lalu mengambil senter yang lebih kuat dari tasnya. ​Bau udara yang terperangkap selama seratus tahun menyembur keluar dari lubang itu—bau logam, debu yang sangat tua, dan sesuatu yang manis seperti kemenyan yang sudah lama padam. Mereka melangkah masuk. ​Ruangan itu kecil, berbentuk lingkaran, dengan dinding yang sepenuhnya dilapisi oleh pelat timah kelabu yang dingin. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kayu jati yang kokoh, dan di atas meja itu terdapat sebuah kotak kaca yang berisi sesuatu yang membuat napas Aluna tercekat. ​Bukan emas. Bukan permata. ​Itu adalah sebuah kamera kayu kuno, model Daguerreotype yang sangat langka, dan di sampingnya terdapat sebuah lukisan wajah seorang wanita yang sangat mirip dengan Ravian. Namun, yang paling menarik perhatian adalah sebuah tumpukan surat-surat bersegel lilin merah yang diikat dengan pita sutra hitam. ​"Ini bukan material berbahaya," gumam Aluna, mendekati meja. "Ini adalah arsip emosional." ​Ravian mendekati meja dengan langkah gemetar. Ia menyentuh kotak kaca itu dengan ujung jarinya. "Ayahku selalu bilang kakek buyutku menyembunyikan 'kebenaran tentang cahaya'. Aku pikir dia bicara tentang fisika atau seni. Ternyata dia bicara tentang... cinta." ​Ravian membuka salah satu surat. Matanya memindai tulisan tangan yang artistik itu. "Ini adalah korespondensi antara kakek buyutku dan... istri Ardiansyah yang pertama. Pengacara keluarga kami yang sekarang, itu adalah garis keturunan dari pria yang kakek buyutku khianati." ​Aluna tertegun. "Jadi ini adalah rahasia perselingkuhan yang bisa menghancurkan reputasi keluarga Ardiansyah jika terungkap? Itu sebabnya dia ingin ruangan ini hancur?" ​"Lebih dari itu," Ravian menunjuk ke sebuah dokumen di bawah tumpukan surat. "Ini adalah dokumen pengalihan aset. Sebagian besar lahan yang sekarang diklaim oleh konsorsium Ardiansyah sebenarnya dihibahkan kembali ke yayasan museum ini dalam surat wasiat rahasia yang tidak pernah didaftarkan. Ruangan ini adalah bukti bahwa Ardiansyah telah mencuri dari yayasan selama puluhan tahun." ​Ketegangan di antara mereka kini berubah. Ancaman profesional yang selama ini menghantui Aluna dan Ravian kini memiliki wajah yang nyata: keserakahan yang menyamar sebagai legalitas. ​"Kita punya bukti sekarang," kata Aluna, matanya bersinar karena kemenangan. "Ardiansyah tidak bisa menghentikan renovasi ini tanpa mengungkap kejahatannya sendiri." ​Ravian menatap Aluna. Di ruangan kecil yang terisolasi dari dunia luar itu, di bawah lapisan timah yang meredam semua suara, ia melihat Aluna bukan lagi sebagai arsitek yang kaku, melainkan sebagai satu-satunya orang yang berbagi beban rahasia ini dengannya. ​Ia mendekat, memojokkan Aluna ke tepi meja jati yang dingin. Tangannya menyentuh wajah Aluna, mengusap debu dari pipinya dengan ibu jari yang kasar namun lembut. ​"Kau mempertaruhkan segalanya untukku malam ini, Aluna," bisik Ravian. Suaranya penuh dengan pengakuan yang selama ini ia tahan. "Kenapa?" ​Aluna menatap mata cokelat gelap itu, yang kini tampak lebih hangat daripada api mana pun. "Karena saya tidak hanya peduli pada bangunan ini, Ravian. Saya peduli pada apa yang ada di dalamnya. Dan itu termasuk Anda." ​Ravian tidak lagi menahan diri. Ia membungkuk, mencium Aluna dengan kepastian yang lebih dalam dari sebelumnya. Ciuman ini tidak lagi terburu-buru oleh amarah atau kompetisi; ini adalah ciuman yang mengakui aliansi mereka. Aluna membalasnya, tangannya menyusup ke rambut Ravian, menariknya lebih dekat hingga tidak ada lagi ruang untuk keraguan. ​Namun, di tengah keintiman itu, sebuah suara keras terdengar dari arah Galeri Barok. ​BUM! ​Suara pintu utama museum yang dibuka paksa. ​"Ravian! Nona Paramita! Saya tahu kalian di dalam!" Suara Ardiansyah yang parau dan penuh otoritas menggema di luar, jauh lebih awal dari jam 07:00 yang ia janjikan. ​Aluna tersentak melepaskan ciuman itu, matanya membelalak panik. "Dia di sini." ​Ravian mengunci rahangnya, matanya kembali tajam dan penuh bahaya. Ia menatap pintu panel yang masih terbuka. "Dia datang untuk menghancurkan ruangan ini, dengan atau tanpa kita di dalamnya." ​Ravian menarik sebuah tuas kecil di bawah meja jati. "Ambil surat-surat itu dan dokumen hibahnya, Aluna. Sekarang!" ​Mereka terjebak di dalam ruangan yang paling rahasia, sementara musuh mereka berada tepat di depan pintu. Taruhan mereka baru saja menjadi sangat mematikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD