Wulan dan Grisel akhirnya memilih menaiki tangga, untuk menuju kelas hari ini. "Eh, coba kalian lihat arah jam dua belas itu yang namanya Grisel. Lihat deh ini benar dia." Desis suara itu, sambil bisik-bisik tipis namun tajam menembus bising. Namanya Grisella dan sayup-sayup terdengar ke telinga Grisel dan Wulan. Aku dan Wulan yang saat itu sedang berbagi tawa renyah, serempak menghentikan percakapan kami saat antrian lift. Mata kami bertumbukan, sebuah kilatan pengertian dan sedikit rasa terkejut melintas di sana. Bisikan itu, yang seharusnya hanya sekadar angin lalu, kini menggantung di udara, mengusik rasa penasaran kami. Grisel menghela napasnya, rasanya aneh. Ia tak pernah mencari masalah, tak pernah menyenggol siapa pun, apalagi berniat menarik perhatian. Hidupnya, ia pikir, akan b

